Tampilkan postingan dengan label konflik agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label konflik agama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Januari 2015

Doktrin Wahabi dan Benih Radikalisme Islam

Paham Salafi-Wahabi menjadi isu sentral dalam pergolakan konflik Islam pada masa kini, tema-tema sentral dalam fatwa Salafi-Wahabi yang berupa bid'ah, syirik, kufur dan syiah rafidlah menggiring umat islam ke dalam lembah radikalisme. Paham-paham ini termanifestasi dalam pembentukan ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria) dan segala distorsinya. Atas dalih penegakan negara Islam, seolah-olah memberikan mereka hak dalam pembantaian sesama umat islam, kekejaman bak serigala kelaparan, kebengisan melebihi vampir penghisap darah, penghancuran situs-situs agama dan budaya, menjerumuskan rakyat Iraq dan Suriah dalam nestapa tanpa ujung, esklusivisme yang melebihi batas, siapapun yang tidak sepaham dianggap kafir dan wajib dibunuh. Sehingga mereka kerap disebut Dajjal modern
Penasaran saya merujuk pada apa definisi sebenarnya paham Salafi-Wahabi itu? Bagaimana dampak doktrin-doktrin mereka terhadap eksistensi kerukunan antar umat Islam (Ukhuwwah Islamiyah)? Apakah benar mereka menanamkan benih-benih radikalisme atas nama Islam? saya kutip dari buku Nur Khalik Ridwan berjudul Doktrin Wahhabi dan Benih-Benih Radikalisme Islam (Tanah Air, 2009) Kita telaah lebih lanjut dengan membaca artikel berikut:




CIRI KHAS ULAMA DAN ULAMA WAHABI
1. Kata kunci dan tema sentral dari fatwa para ulama Wahabi Salafi berkisar pada (a) bid'ah; (b) syirik; (c) kufur; (d) syiah rafidlah kepada kelompok Islam atau muslim lain yang tidak searah dengan mereka. Kita akan sering menemukan salah satu dari 4 kata itu dalam setiap fatwa mereka.

2. Dalam memberi fatwa, tokoh utama ulama Wahabi Salafi akan langsung berijtihad sendiri dengan mengutip ayat dan hadits yang mendukung. Atau, kalau mengutip fatwa ulama, mereka akan cenderung mengutip fatwa dari Ibnu Taimiyah atau Ibnul Qayyim. Selanjutnya, mereka akan membuat fatwa sendiri yang kemudian akan menjadi dalil para pengikut Wahabi. Dengan kata lain, pengikut Wahabi hanya mau bertaklid buta pada ulama Wahabi.

3. Tokoh atau ulama Wahabi Salafi level kedua ke bawah akan cenderung menjadikan fatwa tokoh Salafi level pertama sebagai salah satu rujukan utama. Atau kalau tidak, akan memberi fatwa yang segaris dengan ulama Wahabi level pertama.

4. Kalangan ulama atau tokoh Wahabi Salafi tidak suka atau sangat jarang mengutip pendapat ulama salaf seperti ulama madzhab yang empat dan yang lain kecuali madzhab Hanbali yang merupakan tempat rujukan asal mereka dalam bidang fiqih walaupun tidak mereka akui secara jelas. Hanya pendapat Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim yang sering dikutip untuk pendapat ulama di atasnya Muhammad ibnu Abdil Wahhab terutama dalam bidang yang menyangkut aqidah.

5. Di mata ulama Wahabi, perayaan keislaman yang boleh dilakukan hanyalah hari raya idul fitri dan idul adha. Sedangkan perayaan yang lain seperti maulid Nabi Muhammad, peringatan Isra' Mi'raj dan perayaan tahun baru Islam dianggap haram dan bid'ah.

6. Gerakan-gerakan atau organisasi Islam yang di luar Wahabi Salafi atau yang tidak segaris dengan manhaj (aturan standar ideologi) Wahabi akan mendapat label syirik, kufur atau bid'ah.

7. Semua lulusan universitas Arab Saudi dan afiliasinya adalah kader Wahabi Salafi. Sampai terbukti sebaliknya.

8. Pengikut/aktivis Wahabi Salafi tidak mau taklid (mengikuti pendapat) ulama salaf (klasik) dan khalaf (kontemporer), tapi dengan senang hati taklid kepada pendapat dan fatwa ulama-ulama Wahabi Salafi atau fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta' (اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء والدعوة والإرشاد) dan lembaga serta ulama-ulama yang menjadi anggota Hai'ah Kibaril Ulama (هيئة كبار العلماء) yang nama lengkapnya adalah Ar-Riasah al-Ammah lil Buhuts wal Ifta' (الرئاسة العامة للبحوث العلمية والإفتاء).

9. Pengikut/aktivis sangat menghormati ulama-ulama mereka dan selalu menyebut para ulama Wahabi dengan awalan Syekh dan kadang diakhiri dengan rahimahu-Llah atau hafidzahulLah. Seperti, Syeikh Utsaimn, Syeikh Bin Baz, dll. Tapi, menyebut ulama-ulama lain cukup dengan memanggil namanya saja.

10. Ulama Wahabi Salafi utama (kecuali Nashiruddin Albani yang asli Albania) mayoritas berasal dari Arab Saudi dan bertempat tinggal di Arab Saudi. Oleh karena itu, mereka umumnya memakai baju tradisional khas Arab Saudi yaitu (a) gamis/jubah warna putih (b) surban merah (c) surban putih (d) maslah yaitu jubah luar tanpa kancing warna hitam atau coklat yang biasa dipakai raja. Lihat baju luar yang dipakai Abdul Wahab dan Al-Utsaimin.

Oleh karena itu, saat kita membaca buku, kitab atau browsing di internet, tidak sulit menengarai pada fatwa ulama non-Wahabi, mana fatwa yang berasal dari Wahabi Salafi dan mana tulisan sebuah website atau blog yang penulisnya adalah pengikut Wahabi.

Sayangnya, tidak sedikit dari kalangan awam yang terkadang tidak sadar bahwa fatwa agama dalam buku atau situs internet yang mereka baca berasal dari fatwa Wahabi Salafi. Semoga dengan informasi ini, para pencari informasi keagamaan akan semakin tercerahkan.

Intinya, cara termudah mengetahui apakah seorang ulama, ustadz atau tokoh agama atau orang awam biasa itu berfaham Wahabi Salafi adalah dari (a) latar belakang pendidikannya; (b) buku atau kitab yang dikutip; dan (c) cara memanggil ulama Wahabi dan ulama non-Wahabi (lihat poin 9).


ASAL MULA NAMA WAHABI
Sebagian pengikut Wahabi tidak mau gerakan mereka disebut dengan Wahabi. Mereka lebih senang dipanggil dengan julukan Salafi, Ahlul Hadits atau Ahlut Tauhid. Istilah Wahabi atau Wahabiyah diberikan oleh para ulama Ahlussunnah yang mengeritik ideologi Wahabi. Banyak buku-buku dalam bahasa Arab yang ditulis oleh para ulama terkemuka yang menyebut secara gamblang gerakan ini dengan sebutan "Al-Wahabiyah." Lihat daftar kitab di bawah ini yang khusus menulis tentang gerakan Wahabi:

- الوهابية: تشوه الإسلام وتؤخر المسلمين (Paham Wahabi Merusak Islam dan Membuat Muslim Terbelakang) ditulis oleh Muhammad Al-Ghazali, ulama berpengaruh Mesir.
- الرد علي الوهابية (Penolakan pada paham Wahabiyah) ditulis oleh Sulaiman bin Abdul Wahab yang merupakan saudara kandung Muhammad bin Abdul Wahab sendiri.
- هذه هي الوهّابيّة (Ini dia Gerakan Wahabi) oleh Muhammad Jawad Mugniyah
- الوهابيون و فريضة القرصنة (Para Wahabi dan Tugas Membajak)
- الصواعق الإلهية في الرد علي الوهابية (Petir Ilahi dalam Menolak Paham Wahabi)
- خطر الوهابية (على الأمة الإسلامية) للدكتور أحمد عبد الرحيم السايح (Bahasa Wahabi pada Umat Islam) oleh Muhammad Abdurrahim
- سامي الوهابية قاسم أمين المليجي. (Apa itu Wahabi)
- الخطر الوهابي ثلاث رسائل ضد الوهابية - عبد الله بن محمد بن راشد (Bahaya Wahabi: Tiga Makalah Melawan Wahabi)
- الوهابية - حامد ألكار
- الحسين والوهابية: دراسة تحليلية لاخلاقيات الامام الحسين وعقائد ومواقف الوهابية - جلال معاش
- الحركة الوهابية: قراءة نقديه تحليلية - مصطفى سدحان (Gerakan Wahabi: Analisa Kritis)
- الموسوعة الوهابية والشيعة الأمامية: قراءة نقدية - محمد شوقي (Ensiklopedi Wahabi dan Syiah Imamiyah)
- الشوكانية الوهابية: تيار مستجد في الفكر العربي الحديث - عبد العزيز قائد
- الفرقة الوهابية في خدمة من؟ - السيد ابو العلي (Gerakan Wahabi Melayani Kepentingan Siapa?)
- الرد على الوهابية في القرن التاسع عشر: نصوص الغرب الإسلامي نموذجا ً- الرديسي
- الأجوبة النجفية في الرد على الفتاوى الوهابية - أسعد كاشف الغطاء

Masih kurang? Lihat daftar lengkapnya kitab yang mengeritik Wahabi dan menyebut gerakan ini dengan kata Wahabi atau Harakah Wahabiyah di sini -> http://www.fatihsyuhud.org/2013/04/radd-ala-wahabiyah.html#2

Kesimpulan: Istilah Wahabi bagi gerakan yang dibuat oleh Muhammad bin Abdul Wahab adalah nama yang populer dan disematkan oleh para ulama Ahlussunnah Wal Jamaah. Nama "Wahabi" jauh lebih populer daripada nama yang mereka buat seperti "Salafi" atau istilan lainnya.


WAHABI BUKAN AHLUSUNNAH WALJAMAAH
Terdapat perbedaan ulama apakah kaum Wahabi termasuk dari golongan Ahlussunnah Wal Jamaah atau bukan. Menurut Dr. Ali Syuaibi menyatakan bahwa Wahabi tidak termasuk golongan Ahlussunnah Waljamaah walaupun mereka mengklaim sebagai pengikut madzhab fiqih Hanbali (Hanabilah). Islamtimes.com melaporkan pernyataan Dr. Ali:
يوضح الدكتور علي الشعيبي أن أغلب المسليمن المعاصرين لا يعرفون أن الوهابية ليست من أهل السنة والجماعة ولو أنهم قالوا أنهم حنابلة كما أنهم لا يعلمون أن السلفية ليسوا من أهل السنة والجماعة
Artinya: Dr. Ali As-Syuaibi menjelaskan bahwa kebanyakan umat Islam dewasa ini tidak tahu bahwa kaum Wahabi bukanlan termasuk Ahlussunnah wal Jamaah walaupun mereka mengaku sebagai pengikut madzhab Hanbali sebagaimana umat Islam tidak tahu bahwa kaum Salafi bukanlah Ahlussunnah Waljamaah. Selengkapnya lihat: http://goo.gl/wtKTNd


TOKOH UTAMA ULAMA WAHABI

Daftar nama tokoh ulama Wahabi level pertama. Ulama atau tokoh Wahabi level kedua dan seterusnya akan mengutip pendapat tokoh level I ini sebagai rujukan pendapat mereka.

1. Muhammad bin Abdul Wahhab (1115 H - 1206 H/1701 - 1793 M)

Jabatan penting di Kerajaan Arab SAudi:
- Pendiri dan pelopor gerakan Wahabi/Salafi.
- Mufti Kerajaan Arab Saudi.

Kitab karya Muhammad bin Abdul Wahab

1. رسائل العقيدة
2. كتاب الكبائر
3. مختصر الإنصاف والشرح الكبير
4. أربع قواعد تدور الأحكام عليها ويليها نبذة في اتباع النصوص مع احترام العلماء
5. مبحث الإجتهاد والخلاف
6. كتاب الطهارة
7. شروط الصلاة وأركانها وواجباتها
8. كتاب آداب المشي إلى الصلاة
9. أحكام تمني الموت
10. مختصر سيرة الرسول صلى الله عليه وسلم
11. فتاوى ومسائل
12. تفسير آيات من القرآن الكريم
13. كتاب فضائل القرآن
14. مختصر زاد المعاد
15. الرسائل الشخصية
16. مختصر تفسير سورة الأنفال
17. بعض فوائد صلح الحديبية
18. رسالة في الرد على الرافضة
19. الخطب المنبرية
20. قسم الحديث
21. المسائل التي لخصها محمد بن عبد الوهاب من كلام شيخ الإسلام ابن تيمية

2. Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (1330 H - 1420 H / 1910 M - 1999 M)
Jabatan penting di Kerajaan Arab Saudi:
- Qadhi (Hakim) di daerah al-Kharaj semenjak tahun 1357-1371 H,
- Tahun 1390 H - 1395 H Rektor Universitas Islam Madinah.
- tahun 1414 H Mufti Umum Kerajaan.

Kitab atau buku karya tulis bin Baz

1. الأدلة ال؃اشفة لأخطاء بعض الكتاب
2. الأدلة النقلية والحسية على إمكان الصعود إلى الكواكب وعلى جريان الشمس وسكون الأرض
3. إقامة البراهين على حكم من استغاث بغير الله أو صدق الكهنة والعرافين
4. الإمام محمد بن عبد الوهاب: دعوته وسيرته
5. بيان معنى كلمة لا إله إلا الله
6. التحقيق والإيضاح لكثير من مسائل الحج والعمرة والزيارة على ضوء الكتاب والسنة
7. تنبيهات هامة على ما كتبه محمد علي الصابوني في صفات الله عز وجل
8. العقيدة الصحيحة وما يضادها
9. الدعوة إلى الله
10. تنبيه هام على كذب الوصية المنسوبة إلى الشيخ أحمد
11. وجوب العمل بالسنة وكفر من أنكرها
12. الدعوة إلى الله سبحانه وأخلاق الدعاة

3. Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (1347 H - 1421 H)
Al Utsaimin adalah pakar fiqih-nya kalangan Wahabi Salafi. Banyak persoalan hukum baru yang difatwakan olehnya. Seperti haramnya mengucapkan selamat natal, dan lain-lain.

Jabatan penting di Kerajaan Arab Saudi:
- Imam masjid jami’ al Kabir Unaizaih
- Mengajar di perpustakaan nasional Unaizah
- Dosen fakultas syariah dan fakultas ushuluddin cabang Universitas Islam Imam Muhammad bin saud di Qasim,

Kitab atau buku karya tulis Al-Utsaimin

1. أصول في التفسير
2. شرح مقدمة التفسير
3. تفسير القرآن الكريم
4. مجموع الفتاوى
5. الشرح الممتع
6. القول المفيد في شرح كتاب التوحيد
7. الإبداع في كمال الشرع وخطر الابتداع
8. رسالة الحجاب
9. زاد الداعية إلى الله
10. شرح الأصول الستة
11. شرح العقيدة الواسطية (شرح مطول)
12. الضياء اللامع من الخطب الجوامع
13. عقيدة أهل السنة والجماعة
14. فتح رب البرية بت؄خيص الحموية
15. من مشكلات الشباب
16. المنتقى من فرائد الفوائد17
17. منظومة في أصول الفقه وقواعده
18. المنهج لمريد العمرة والحج
19. سؤال وجواب من برنامج نور على الدرب
20. شرح أصول الإيمان
21. مجموعة أسئلة في بيع وشراء الذهب


4. Muhammad Nashiruddin Al-Albani (1333 H - 1420 H/1914 M - 1999 M)
Jabatan penting di Kerajaan Arab Saudi:
- Tahun 1381 - 1383 H: Dosen Hadits Universitas Islam Madinah

Kitab atau buku karya tulis Al-Albani

1. سلسلة الأحاديث الصحيحة
2. سلسلة الأحاديث الضعيفة
3. صحيح الترغيب والترهيب
4. ضعيف الترغيب والترهيب
5. صحيح وضعيف الأدب المفرد
6. ظلال الجنه في تخريج السنة
7. سنن أبي داود
8. جامع الترمذي
9. ضعيف سنن الترمذي
10. صحيح سنن ابن ماجة
11. ضعيف سنن ابن ماجة


5. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan (1345 H - )

Jabatan penting di Kerajaan Arab Saudi:
- Dosen Institut Pendidikan Riyad
- Dosen Fakultas Syari'ah, Fakultas Ushulud Dien, Mahkamah Syariah
- Anggota Lajnah Daimah lil Buhuts wal Ifta' (Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa).
- Anggota Haiah Kibaril Ulama' dan Komite Fiqh Rabithah Alam Islamiy di Mekkah
- Anggota Komite Pengawas Du'at Haji
- Ketua Lajnah Daimah lil buhuts wal ifta'.
- Imam, Khatib dan Pengajar di Masjid Pangeran Mut'ib bin Abdil Aziz di Al Malzar.

Kitab atau buku karya tulis Al-Fauzan

1. المنتقى من فتاوى الفوزان
2. شرح لمعة الإعتقاد الهادي إلى سبيل الرشاد
موفق الدين عبد الله بن قدامة
3. الملخص في شرح كتاب التوحيد
4. التعليق المختصر على القصيدة النونية
الإمام ابن قيم الجوزية

6. Abdullah bin Abdurrahman bin Jibrin (عبد الله بن عبد الرحمن بن جبرين) 1933 -2009 M / 1353 - 1430 H.

Jabatan penting di Kerajaan Arab Saudi

- Asisten Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
- Anggota tetap majlis riset dan fatwa Arab Saudi
- Dosen syariah dan ushuluddin di Arab Saudi

Kitab atau buku karya tulis Ibnu Jibrin

1. شرح أصول السنة لإمام أهل السنة أبي عبد الله أحمد بن محمد بن حنبل رحمه الله تعالى
2. فضل الصحابة وذم من عاداهم
3. الإرشاد شرح لمعة الاعتقاد الهادي إلى سبيل الرشاد
4. الكنز الثمين
5. أخبار الآحاد
6. الثمرات الجنية شرح المنظومة البيقونية
7. حوار رمضاني
8. سبعون مخالفة تقع فيها النساء
9. فوائد من شرح منار السبيل
10. إبهاج المؤمنين بشرح منهج السالكين وتوضيح الفقه في الدين


NAMA ANGGOTA KIBAR AL-ULAMA LIL-BUHUTS WAL-IFTA' ARAB SAUDI

Lembaga pemberi fatwa resmi Arab Saudi bernama Hai'ah Kibar-ul Ulama (lengkapnya, الرئاسة العامة للبحوث العلمية والإفتاء) yang anggotanya terdiri dari ulama senior Arab Saudi yang dipilih oleh kerajaan. Mereka adalah termasuk dedengkot dan tokoh Wahabi Salafi. Nama-namanya antara lain sebagai berikut:

1. Abdul-`Aziz ibn `Abdullah ibn Muhammad Al Al-Shaykh (ketua mufti saat ini)
2. Abdul-Razzaq ibn `Afify ibn `Atiyyah
3. Abdullah ibn Qa`ud
4. Ibrahim ibn Muhammad Al Al-Shaykh
5. Abdullah ibn Ghudayyan
6. Salih ibn Fawzan Al-Fawzan
7. Bakr ibn `Abdullah Abu Zayd
8. Abdullah ibn Mani`
9. Ahmad ibn `Aly ibn Ahmad Sayr Al-Mubaraky
10. Abdullah ibn Muhammad Al-Mutallaq
11. Abdullah ibn Muhammad ibn Sa`d Al Khanin
12. Sa`d ibn Nasir ibn `Abdul-Aziz Abu Habib Al-Shatry
13. Muhammad ibn Hasan Al Al-Shaykh
14. Abdul-Karim Al-Khudir


NAMA ANGGOTA LAJNAH DAIMAH WAL IFTA' (اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء والدعوة والإرشاد) ARAB SAUDI

Ulama yang tergabung dalam Lajnah Daimah wal Ifta' adalah ulama berpengaruh di Arab Saudi. Semua dari mereka beraliran Wahabi Salafi tentu saja. Nama-namanya antara lain sebagai berikut:

1. Abdul Aziz bin Abdullah bin Muhammad Al-Syaikh (Ketua)
2. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan
3. Ahmad bin Ali bin Sair Al-Mubaraki.
4. Abdul Karim bin Abdullah Al-Khidir.
5. Muhammad bin Hasan Al-Syaikh
6. Abdullah bin Muhammad bin Khunain.
7. Abdullah bin Muhammad Al-Mutlak


DAFTAR NAMA ULAMA WAHABI SALAFI LUAR ARAB SAUDI

Berikut nama-nama ulama terkemuka beraliran Salafi Wahabi di negara lain selain Arab Saudi. Mayoritas dari ulama-ulama berikut terinspirasi atau pernah menjadi murid langsung dari tokoh-tokoh Wahabi Salafi Arab Saudi.


DAFTAR NAMA ULAMA WAHABI SALAFI INDIA PAKISTAN

Sebagian di antara ulama di bawah tidak punya kaitan langsung dengan Muhammad bin Abdul Wahhab terutama ulama India Pakistan namun memiliki konsep yang sama atau serupa.

Ahmad bin Irfan Asy-Syahid (أحمد بن عرفان الشهيد)
Ismail bin Abdul Ghani Ad-Dahlawi (إسماعيل بن عبد الغني الدهلوي)
Muhammad Nadzir Husain Ad-Dahlawy (محمد نذير حسين الدهلوي)
Muhammad Siddiq Hasan KHan Al-Qanuji (محمد صديق حسن خان القنوجي)
Abu Turab Adz-Dzahiri (أبو تراب الظاهري)
Shafi Ar-Rahman Al-Mubarakpuri (صفي الرحمن المباركفوري)
Jamilur-Rohman Al-Afghani (جميل الرحمن الأفغاني)
Ihsan Ilahi Dhahir Pakistan (إحسان إلهي ظهير باكستان)


DAFTAR NAMA ULAMA WAHABI SALAFI IRAK

Ali 'Alauddin Al-Alusi (علي علاء الدين الألوسي)
Muhammad Bahjat Al-Atsari (محمد بهجت الأثري)
Mahmud Syukri Al-Alusi (محمود شكري الألوسي)


DAFTAR NAMA ULAMA WAHABI SALAFI KUWAIT

Abdurrahman Abdul Kholik (عبد الرحمن عبد الخالق)
Utsman Al-Khamis (عثمان الخميس)


DAFTAR NAMA ULAMA WAHABI SALAFI MESIR

Muhammad Sa'id Ruslan (محمد سعيد رسلان)
Abu Ishaq Al-Huwaini (أبو إسحاق الحويني)
Ahmad Farid (أحمد فريد)
Ahmad Muhammad Syakir (أحمد محمد شاكر)
Sayyid Saaduddin Al-Ghabasyi (السيد سعد الدين الغباشي)
Jamal Al-Maraki (جمال المراكبي)
Said Abdul Adzim (سعيد عبد العظيم)
Syarif Al-Hawari (شريف الهوارى)
Shofwat Asy-Syawadifi (صفوت الشوادفي)
Abdurrozzaq Aqiqi (عبد الرزاق عفيفي)
Mazin Assarsawi (مازن السرساوي)
Muhammad Az-Zughbi (محمد الزغبي)
Muhammad Hamid Al-Fiqi (محمد حامد الفقي)
Muhammad Hassan (محمد حسان)
Muhammad Rasyid Ridha (محمد رشيد رضا)
Muhammad Sofwat Nuruddin (محمد صفوت نور الدين)
Mahmud Al-Mashri (محمود المصري)
Yasir Barmami (ياسر برهامي)


DAFTAR NAMA ULAMA WAHABI SALAFI MAROKO

Abdullah bin Idris As-Sanusi (عبد الله بن إدريس السنوسي)
Alal Al-Qasi (علال الفاسي)
Taqiduddin Al-Hilali (تقي الدين الهلالي)
Abu Uwais Bukhabzah (أبو أويس بوخبزة)
Muhammad bin Abdurrahman Al-Amgharawi (محمد ين عبد الرحمن الأمغراوي)


DAFTAR NAMA ULAMA WAHABI SALAFI MAURITANIA

Muhammad Al-Amin Asy-Syankiti (محمد الأمين الشنقيطي)
Muhammad Al-Hasan Asy-Syankiti (محمد الحسن الددو الشنقيطي)


DAFTAR NAMA ULAMA WAHABI SALAFI ALJAZAIR

Ibnu Badis (ابن باديس)


DAFTAR NAMA ULAMA WAHABI SALAFI TUNISIA

Al-Khatib Al-Idris (الخطيب الإدريسي)
Muhammad Al-Makki bin Azuz (محمد المكي بن عزوز)


DAFTAR NAMA ULAMA WAHABI SALAFI QATAR

Ahmad bin Hajar Al Butami (أحمد بن حجر آل بوطامي)


DAFTAR NAMA ULAMA WAHABI SALAFI SUDAN

Muhammad Hasyim Al-Hadiyah (محمد هاشم الهدية)
Muhammad Hamzah (محمد حمزة)
Khalid Abdurrahman Al-Latif Muhammad Nur (خالد عبد اللطيف محمد نور)
Hasan Al-Hawari (حسن الهواري)
Muhammad Sayyid Muhammad Hajj (محمد سيد محمد حاج)
Muhammad Musthafa Abdul Qadir (محمد مصطفى عبد القادر)
Muhammad Al-Amin Ismail (محمد الأمين إسماعيل)


DAFTAR NAMA ULAMA WAHABI SALAFI SURIAH

Jamaluddin Al-Qasimi (جمال الدين القاسمي)
Abdul Qadir Al-Artaut (عبد القادر الأرناؤوط)
Muhammad Bahjah Al-Bithar (محمد بهجة البيطار)


DAFTAR NAMA ULAMA WAHABI SALAFI LEBANON

Salim Asy-Syihal Lebanon (سالم الشهال في لبنان)


DAFTAR NAMA ULAMA WAHABI SALAFI YORDANIA

Umar Sulaiman Al-Ashkar (عمر سليمان الأشقر)
Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari (علي بن حسن الحلبي الأثري)
Masyhur Hasan Al-Salman (مشهور حسن آل سلمان)
Abu Muhammad Al-Maqdisi (أبو محمد المقدسي)


DAFTAR NAMA ULAMA WAHABI SALAFI YAMAN

Asy-Syaukani (الشوكاني)
Abdurrahman Al-Ma'lami (عبد الرحمن المعلمي)
Abdul Majid Az-Zandani (عبد المجيد الزنداني)
Muhammad bin Abdullah Al-Imam (محمد بن عبد الله الإمام)
Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Wasabi (محمد بن عبد الوهاب الوصابي)
Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i (مقبل بن هادي الوادعي)
Yahya bin Ali Al-Hujuri (يحيى بن علي الحجوري)


DAFTAR YAYASAN, PESANTREN DAN USTADZ WAHABI SALAFI INDONESIA

Untuk daftar yayasan, pesantren dan ustadz Wahabi Salafi di Indonesia lihat di sini. atau di sini.


GERAKAN WAHABI DI INDONESIA

Gerakan Wahabi di Indoensia terbagi menjadi 2 (dua) kelompok. Kelompok pertama, orang-orang yang menerima dakwah Muhammad bin Abdil Wahhab, namun melakukan usaha modifikasi, baik sedikit, separuhnya, atau sebagian besarnya. Ciri utama mereka adalah modifikasi pesan dakwah Muhammad bin Abdil Wahhab.

Kelompok Pertama ini disebut Neo-Wahabi. Organisasi masyarakat di Indonesia yang masuk dalam kategori kelompok neo-Wahabi pertama adalah Muhammadiyah dan Persatuan Islam (Persis). Pada tahun 1980-an dan 1990-an muncul gelombang baru neo-Wahabi yaitu kelompok tarbiyah yang kemudian berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)[1] dan Salafi jihadi yang berada dalam lingkaran Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir serta murid-murid mereka berdua. Neo-Wahabi kedua ini merupakan hasil usaha kampanye program-program yang dilakukan Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) yang dimulai pada dekade 1970-an.

Khusus tentang Salafi Jihadi (the Jihadist) dikenallah istilah alumni Afghanistan yakni mereka yang pernah ikut berperang di Afghanistan melawan Uni Soviet. Di bawah pengaruh Abu Bakar Baasyir dan Abdullah Sungkar sebagian alumni Afghanistan ini muncul gerakan neo-Khawarij yang mengafirkan orang-orang di luar mereka—termasuk pemerintah Indonesia—dan menyebarkan kebencian terhadap pihak penguasa di Indonesia. Dari kelompok ini sebagian teroris pengeboman berasal.

KELOMPOK KEDUA: WAHABI MURNI.

Yaitu orang-orang yang merespon positif dakwah tersebut dan menerima secara bulat tanpa usaha memodifikasinya. Mereka menerima dakwah dan berusaha menyebarkannya di lingkungan-lingkungan mereka.

Yayasan Al-Muntada didirikan oleh Muhammad bin Surur bin Nayef Zainal Abidin. di London dan Jam’iyyah Ihya At-Turats Al-Islamiyah didirikan oleh Abdurrahman Abdul Khaliq di Kuwait adalah kelompok baru neo-Wahabi. Di Indonesia Yayasan As-Shafwah yang dipimpin oleh Abu Bakar M. Altway dan Yayasan Al-Haramain adalah cabang dari kedua yayasan yang berpusat di London dan Kuwait tersebut.

Tokoh dai terkenal dari yayasan Al-Haramain adalah Abdul Hakim Abdat di Jakarta, Yazid bin Abdil Qadir Jawwas di Bogor, Ainul Harits di Jawa Timur dan Abu Haidar di Bandung.

Sedang Jam’iyyah Ihya At-Turats Al-Islamiyah juga memiliki cabang di Indonesia. Mereka mendirikan pesantren-pesantren yang tersebar di Jawa, seperti Ma’had Jamilurrahman dan Islamic Centre Bin Baaz di Yogyakarta, Ma’had Al-Furqan di Gresik dan Ma’had Imam Bukhari di Solo.

Mereka yang berasal dari kedua yayasan tersebut disebut Sururi.

WAHABI YAMAN

Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i

Yaitu kalangan yang pernah menjadi murid dari Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i pengasuh Ma’had Darul Hadits di daerah Dammaj, Sha’dah, Yaman. Forum Komunikasi Ahlus Sunnah wal Jamaah (FKAWJ) yang menaungi Laskar Jihad Ja’far Umar Thalib didirikan oleh kelompok Wahabi Salafi Yaman ini.

Daftar nama lengkap tokoh Wahabi Salafi Indonesia alumni Arab Saudi atau Yaman dapat dilihat di sini.

Konspirasi CIA: Saat Sunni dan Syiah Saling Bunuh


Michael Scheuer, mantan senior CIA dalam wawancaranya dengan Channel 4 News menyatakan, “Sungguh ideal ketika progres IS (kelompok terori takfiri ISIS) semakin maju di Baghdad, yang (disebabkan) karena Sunni membunuhi Syiah, dan itulah yang sesungguhnya kami butuhkan. Harapan terbesar kami saat ini adalah agar Sunni dan Syiah saling membunuh dan biarkan mereka saling menumpahkan darah satu sama lain.”


Siapa yang diuntungkan dengan adanya perpecahan dalam tubuh Islam?


Imam Khomeini, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, melalui sikap-sikap politik dan sosialnya, selalu menekankan bahwa persatuan Islam merupakan solusi dalam melakukan perlawanan terhadap musuh. Namun sayangnya, hal ini telah diketahui dengan baik oleh musuh-musuh Islam, sehingga selama ratusan tahun pula, mereka memakai segala macam cara agar kaum Muslimin tetap terpecah belah.

Hanya dengan perpecahan Islam-lah, musuh-musuh Islam ini tetap mencengkramkan kukunya, dan menindas ummat Islam.

Dan sungguh menakjubkan, karena selama ratusan tahun pula kaum Muslimin tetap tidak mampu menyelesaikan permasalahan ini, dan memilih untuk tetap terkotak-kotak. Alih-alih bergandengan tangan, berkasih sayang dan mencipta karya, justru saat ini marak disebarluaskan penyebaran kebencian antara Sunni-Syiah.

Tentu saja, perpecahan Islam adalah kemenangan bagi musuh. Dan siapakah yang berkontribusi turut memenangkan musuh? Tidak lain dan tidak bukan, adalah kelompok Takfiri, baik di dalam tubuh Sunni maupun Syiah.

Sikap takfiri atau gemar mengkafirkan golongan lainnya yang tidak sepaham, bisa dijumpai di dalam mazhab Sunni maupun Syiah. Mereka memiliki kemiripan, rekam jejak, dan cara-cara yang serupa dalam mempertahankan eksistensinya di masyarakat.

Apa ciri-ciri dari kelompok Sunni Takfiri maupun Syiah Takfiri ini?
Sunni Takfiri, mengkafirkan semua muslim Syiah, menghina marja-marja yang menjadi rujukan Syiah (terutama marja yang menyerukan persatuan), menggambarkan kelompok perlawanan Hizbullah sebagai musuh Islam. Menerima dana maupun senjata dari AS, juga fasilitas berobat dari Israel. Dengan perbuatan yang anarkis dan permusuhan kepada Ahlulbait, mereka menyediakan sarana yang dibutuhkan Syiah Takfiri untuk mengkafirkan seluruh Muslim Ahlussunah, dan memperburuk citra mereka dihadapan Muslim Syiah.

Sedangkan Syiah Takfiri, mengkafirkan semua muslim Ahlussunah, melecehkan dan menghina ulama-ulama dari empat mazhab (Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hambali), menggambarkan kelompok-kelompok perjuangan Palestina seperti Hamas dan Jihad Islam yang melawan Israel sebagai musuh Islam. Mereka juga menerima dana tanpa batas dari Inggris untuk melancarkan propaganda dan menghasut umat. Dan dengan melecehkan simbol-simbol Ahlussunah, mereka menyediakan sarana yang diperlukan oleh Sunni Takfiri untuk mengkafirkan seluruh Muslim Syiah, dan memperburuk citra mereka di hadapan Ahlussunah.

Dan, siapakah pembentuk Syiah dan Sunni Takfiri?
Mereka dibentuk oleh tangan-tangan intelejen AS, Inggris, Israel, yang bertujuan memecah belah umat Islam, sehinga kaum Muslimin sibuk bertikai satu sama lain dan melupakan musuh mereka yang sebenarnya. Dan untuk memecah-belah umat Islam, cara yang sangat efektif adalah dengan memicu konflik Sunni-Syiah, sebagaimana diakui oleh orang Palestina mantan agen Mossad.

Yasser Habib, salah satu Syiah Takfiri, melakukan pelecehan terhadap sahabat dan istri-istri Nabi, yang pernyataannya tidak diterima oleh siapapun, baik ulama maupun masyarakat awam. Tidak hanya itu, ia juga menghujat ulama-ulama terkemukan Syiah yang menyerukan persatuan, semisal Sayyid Ali Khamenei, Sayyid Behjat, Sayyid Ali Sistani, dan Sayyid Hasan Nasrallah.

Sesuatu yang mengherankan, di tengah kecaman kaum muslimin dan para ulama, baik Sunni maupun Syiah, Yasser Habib justru mendapat perlindungan dan pembelaan dari pemerintah Inggris. Inilah yang dimaksud dengan pernyataan Sayyid Ali Khamenei: Syiah yang dipropagandakan melalui media massa di London maupun Amerika adalah Syiah yang tidak berada di jalur sesungguhnya. Inilah mereka yang berkedok Syiah padahal sesungguhnya antek Zionis.

Di lain sisi, Sunni Takfiri juga dimanfaatkan untuk menggapai kepentingan AS dan sekutunya, dengan menebarkan teror di banyak negara. Mereka mengkafirkan, lantas membunuhi siapa saja – termasuk ulama dan rakyat sipil yang tidak mendukung mereka. Dan dengan berbagai aksi keji yang mereka lakukan, mereka mengklaim diri Ahlussunah sejati, padahal tidak demikian adanya. Kelompok-kelompok ini, oleh Syeikh Usamah Sayyid Azhari, dinyatakan sama sekali tidak meneladani Rasulullah Saw.

Sayyid Ali Khamenei pernah berkata, bahwa mereka yang menebarkan fitnah dan perpecahan di dalam kaum Muslimin, bukanlah bagian dari Sunni ataupun Syiah sejati. Sedangkan Sayyid Hasan Nasrallah juga mengecam kelompok-kelompok yang mengklaim diri sebagai Ahlussunah, namun faktanya, mereka telah melakukan aksi teror keji di wilayah-wilayah mayoritas berpenduduk Muslim Sunni. Mereka membunuh lebih banyak ulama Sunni daripada ulama Syiah, dan mereka juga membunuh lebih banyak Muslim Sunni daripada Muslim Syiah. Mereka lebih banyak menghancurkan masjid-masjid Sunni daripada masjid Syiah, dan kekejaman mereka bisa kita saksikan di Suriah.

Habib Ali al-Jufri, juga turut angkat bicara. Menyikapi krisis Irak yang didesain membenturkan Sunni-Syiah, ia selaku ulama Ahlussunnah, menyatakan dengan tegas, bahwa Sunni – Syiah memang memiliki musuh. Siapa?

“Kepada seluruh Ahlussunnah dan Syiah di Irak: Musuh kalian yang sebenarnya (hakiki) adalah mereka yang menyakinkan kalian bahwa kalian (Sunni-Syiah) adalah bermusuhan,” ucapnya di akun Twitter-nya, @alhabibali. KH Alawi Al Bantani, ulama muda NU saat menyampaikan pengajian bertema persatuan Sunni dan Syiah berdasarkan Deklarasi Amman, beliau menyatakan bahwa kerukunan Sunni dan Syiah akan menguatkan Islam dan sebaliknya, perpecahan di antara kedua mazhab Islam ini akan semakin melemahkan Islam.

Selasa, 27 Januari 2015

Simbol Islam, Bendera ISIS dan Penyikapan Kita Sebagai Muslim

Tema “Negara Islam di Irak dan Syam” (ISIS) saat ini sedang mencuat. Kemunculan organisasi ini juga diiringi dengan semakin terkenalnya sebuah simbol atau bendera hitam bertulis “La Ilaha illallah” dan “Muhammad Rasul Allah”. Hal tersebut karena organisasi ini gemar sekali menunjukkan simbol itu dalam setiap aktivitasnya. Kemunculan ISIS yang sering menggunakan bendera dan simbol tersebut secara tidak langsung membentuk opini bahwa: jika muncul bendera hitam bertuliskan “La Ilaha illallah” dan “Muhammad Rasul Allah” maka di situ ada ISIS atau ada pendukung ISIS.
Bagaimana seharusnya kita menyikapinya? Berikut ini analisis yang mudah-mudahan bermanfaat untuk pembaca.

Sejarah Bendera Rasulullah SAW
Dalam sejarah Islam, ada beberapa macam bendera. Di antaranya ada yang dinamakan liwa’ dan ada juga yang dinamakan rayah. Beberapa ulama membedakan antara keduanya.
Liwa’ adalah bendera yang dipasang di ujung tombak, tidak selalu dikibarkan, hanya dikibarkan dalam kondisi penting saja, dan berfungsi untuk menunjukkan posisi panglima perang.
Adapun rayah adalah bendera yang diberikan kepada pasukan, dipasang di ujung tombak dan selalu dikibarkan. Sebuah pasukan bisa mempunyai beberapa rayah.
Dalam sebuah hadits, Al-Barra’ bin ‘Azib RA ditanya tentang rupa bendera rayah di zaman Rasulullah SAW, beliau menjawab, “Warnanya hitam, bentuknya persegi, dan terbuat dari kain.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi)
Ibnu Abbas RA mengatakan, “Bendera rayah di zaman Rasulullah SAW berwarna hitam, sedangkan bendera liwa’-nya putih. Tertulis di dalamnya kalimat La Ilaha illa Allah, Muhammad Rasulullah.” (HR. Abu Syaikh, Akhlaqun Nabi SAW).
Ada juga ulama yang mengatakan tidak ada beda antara rayah dan liwa’. Misalnya adalah Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani. Beliau mengatakan bahwa keduanya adalah sama. Keduanya dibuat untuk menunjukkan posisi panglima perang tertinggi, pemimpin pasukan, atau lainnya. Liwa’ di zaman Rasulullah SAW ada yang berwarna hitam, putih, dan coklat debu. Sedangkan rayah-nya berwarna hitam dan kuning.

Sejarah Stempel Rasulullah SAW
Di samping bendera, Nabi Muhammad SAW juga dikenal memiliki sebuah stempel yang sering digunakan dalam surat menyurat. Stempel tersebut bertuliskan “Allah”, “Rasul”, dan “Muhammad”. Beberapa kalangan membaca tulisan pada stempel tersebut dari bawah ke atas menjadi, “Muhammad Rasul Allah”.
Peninggalan dari stempel tersebut disimpan di Istana Topkapi, Turki, oleh Kesultanan Ottoman. Bentuk dari stempel tersebut dapat dilihat dari beberapa replika surat yang pernah dibuat oleh Rasulullah, di antara pada surat Rasulullah SAW yang ditujukan untuk Negus Raja Ethopia dan untuk Al-Muqauqis salah seorang penguasa di Mesir.
Surat Nabi Muhammad SAW untuk Al-Muqauqis salah seorang penguasa di Mesir, serta replikanya. (travel.maktoob.com)
Surat Nabi Muhammad SAW untuk Al-Muqauqis salah seorang penguasa di Mesir, serta replikanya. (travel.maktoob.com)

Replika motif stempel Rasulullah SAW. (faculty.kfupm.edu.sa)
Replika motif stempel Rasulullah SAW. (faculty.kfupm.edu.sa)
Replika Surat Nabi Muhammad SAW untuk Heraklius Kaisar Romawi Timur. (faculty.kfupm.edu.sa)
Replika Surat Nabi Muhammad SAW untuk Heraklius Kaisar Romawi Timur. (faculty.kfupm.edu.sa)
Penggunaan Simbol Islam
Dengan adanya catatan hadits mengenai bendera yang digunakan oleh Rasulullah SAW serta peninggalan sejarah berupa stempel Rasulullah SAW, maka hal tersebut menjadikan kedua entitas itu menjadi bagian dari simbol Islam, di antara berbagai simbol lainnya. Sehingga penggunaan kedua simbol ini akan berdampak kepada Islam itu sendiri baik secara langsung maupun tidak langsung. Simbol Islam adalah suatu simbol yang memperlihatkan sebuah identifikasi dengan Islam, atau sebagian tradisi yang berhubungan dengan Islam.
Namun hingga saat ini belum ada kesepakatan di antara ulama atau organisasi yang merepresentasikan umat Islam sedunia mengenai aturan penggunaan simbol bendera dan stempel tersebut. Oleh karena itu, siapa pun merasa bebas untuk menggunakan kedua simbol tersebut. Dengan kata lain, simbol-simbol tersebut berpotensi digunakan secara bebas dalam berbagai bentuk dan tindakannya, untuk berbagai tujuan.
Hal di atas dapat dianalogikan dengan simbol salib yang biasa digunakan oleh penganut Kristen dan simbol bintang David yang biasa digunakan oleh penganut Yahudi, di mana tidak ada aturan main tentang penggunaan kedua simbol ini. Sehingga siapapun bisa menggunakan simbol ini, baik itu penganut taat atau abangan, orang baik atau jahat, dan sebagainya.
Lain halnya dengan simbol bendera merah putih yang merupakan bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bendera ini diatur penggunaannya dalam BAB II UU No. 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, Serta Lagu Kebangsaan”. Sehingga penggunaannya tidak boleh lepas dari aturan yang sudah ditetapkan tersebut.

Penggunaan Bendera dan Stempel Rasulullah Masa Kini
Bentuk stempel Rasullah SAW di atas, selanjutnya digunakan oleh berbagai kalangan dengan berbagai bentuk varian untuk berbagai tujuan. Contohnya seperti Harun Yahya seorang penulis, yang menggunakan stempel Rasulullah SAW sebagai logonya, dengan modifikasi latar belakang menjadi warna kuning emas dan tulisan berwarna hitam.
Logo yang digunakan oleh Harun Yahya, modifikasi dari motif stempel Rasulullah SAW. (harunyahya.tv)
Logo yang digunakan oleh Harun Yahya, modifikasi dari motif stempel Rasulullah SAW. (harunyahya.tv)

Ada juga yang menggunakannya sebagai motif pada benda-benda seperti hiasan meja, hiasan dinding, hadiah, cinderamata, kaos, dsb. Selain itu ada juga yang menggunakannya untuk perhiasan, seperti cincin, kalung, dsb, yang dijual pada beberapa toko perhiasan. Contohnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Beberapa bentuk perhiasan dan hiasan yang menggunakan motif stempel Rasulullah SAW. (inet)
Beberapa bentuk perhiasan dan hiasan yang menggunakan motif stempel Rasulullah SAW. (inet)

Selain penggunaan di atas, bendera dan motif stempel Rasulullah SAW rupanya juga digunakan oleh beberapa kelompok sebagai benderanya. Rata-rata mereka menggunakan latar belakang warna hitam atau putih pada logo atau benderanya.
Ada banyak varian dalam bentuk bendera-bendera tersebut. Ada yang bertuliskan “Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah” secara langsung, ada juga yang bertuliskan “Laa Ilaaha illallah, Muhammad Rasul Allah” (dengan motif stempel Rasul SAW). Hal ini kemungkinan karena perbedaan penafsiran terhadap hadits-hadits yang menyebutkan tentang bendera yang digunakan oleh Rasulullah SAW. Rata-rata mereka mengklaim bahwa benderanya merupakan bendera yang digunakan Rasulullah SAW. Berbagai bentuk varian tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Beberapa contoh varian bendera yang didasari dari hadits tentang bendera Ar-Rayah Al-Liwa, serta motif stempel Rasulullah SAW. (inet)
Beberapa contoh varian bendera yang didasari dari hadits tentang bendera Ar-Rayah Al-Liwa, serta motif stempel Rasulullah SAW. (inet)

Bendera-bendera sejenis ini banyak digunakan oleh Hizbut Tahrir (sejak 1953an), Taliban (sejak 1997an), Al-Qaeda, Ash-Shabab di Somalia, Boko Haram di Nigeria, organisasi Negara Islam di Irak dan Syam (ISIS/Da’isy), dan lain-lain.
Akibat saking bebasnya penggunaan simbol-simbol  Islam di atas, maka adakalanya simbol Islam tersebut digunakan untuk tindakan-tindakan yang justru tidak dibenarkan oleh Islam.
Contohnya kelompok Boko Haram yang belakangan muncul di Nigeria. Kelompok ini mengundang kontroversi. Pasalnya kelompok ini berkali-kali melakukan aksi yang tidak dibenarkan dalam Islam, contohnya seperti menculik 200 pelajar putri. Padahal kelompok ini menggunakan salah satu simbol Islam di atas.
Boko Haram tidaklah mewakili Islam atau umat Islam. Organisasi ini hanyalah bikinan pihak-pihak yang sedang melakukan konspirasi merusak persatuan Nigeria dan melemahkan wilayah utara secara politik, ekonomi, dan keamanan. Namun secara langsung juga berefek pada membuat buruk citra Islam di mata dunia. Demikian seperti dikatakan Daud Imram Malasa, seorang aktivis Islam dan ketua umum Organisasi Persatuan Muslimin Nigeria, dalam artikelnya yang dirilis oleh Islamion, Ahad (11/5/2014) yang lalu.
Contoh lainnya adalah organisasi ISIS. ISIS dapat diduga dibiayai oleh kelompok intelijen yang berkepentingan secara regional. Demikian seperti analisis M Lili Nur Aulia yang termuat dalam tulisan berjudul “Asal Muasal ISIS dan Perkembangannya” di dakwatuna, Senin (30/6/2014) yang lalu.
Muhammad Bashar Al-Faidhi, juru bicara Asosiasi Ulama Muslim Irak mengungkapkan bahwa sebenarnya ada 4 kekuatan pendorong revolusi di Irak, yaitu kaum revolusioner kesukuan; faksi utama perlawanan di Irak seperti Pasukan Rasyidin, Pasukan Tabi’in, Al-Ishrin Revolusioner, “Pasukan Muhammad sang Penakluk”, dll; Dewan Militer Revolusioner Irak; dan organisasi yang disebut ISIS. Dalam pernyataannya tersebut, Muhammad Bashar Al-Faidhi mengatakan bahwa ISIS sebenarnya hanya berjumlah kecil. Tapi, media membesar-besarkan kekuatan organisasi ini, dan menunjukkan seolah-olah ISIS itu adalah pemain tunggal atau utama di sana, untuk tujuan yang tidak baik. Demikian pernyataannya sebagaimana dimuat pada situs Ikhwanweb, Kamis (19/6/2014) yang lalu.
Kelompok ISIS pun tidak segan-segan menuduh orang lain yang di luar kelompoknya sebagai orang kafir. Hal ini terungkap dalam pernyataan Gamal Sultan Pemred Al-Mesyroon, Jum’at (1/8/2014), yang mengatakan bahwa ISIS menganggap Ikhwanul Muslimin kafir. ISIS juga mengatakan bahwa anggota partai adalah kafir. Perilaku ISIS tersebut dikenal dengan istilah “Fitnatut Takfir” (fitnah menuduh kafir), yang tidak dibenarkan dalam Islam.
Sehingga tidak heran jika Persatuan Ulama Muslim Se-Dunia (IUMS) yang menyatakan bahwa khilafah ala ISIS tidak sah secara syariah Islam dan juga tidak membantu proyek kejayaan Islam. IUMS yang dipimpin oleh Syaikh Yusuf Qaradhawi itu menyatakan pada hari Jum’at (4/7/2014), “Kami juga mengharapkan khilafah Islam bisa berdiri dengan cepat. Hari ini, tidak menunggu esok hari. Tapi khilafah yang didasarkan pada manhaj Nabi SAW dan syura. Bukan seperti yang dideklarasikan ISIS, yang malah mengakibatkan banyak bahaya kepada Sunni di Irak dan juga kepada revolusi di Suriah”.
Penggunaan simbol-simbol Islam di atas untuk tindakan-tindakan yang tidak dibenarkan dalam Islam, sedikit banyak memberikan dampak kepada umat Islam dan agama Islam itu sendiri. Salah satu di antaranya mencuat dalam kasus pemuatan karikatur yang melecehkan Islam pada harian The Jakarta Post edisi 3 Juli 2014.
Karikatur tersebut menggambarkan seseorang bersenjata sedang mengibarkan bendera bergambar tengkorak dan di atasnya terdapat tulisan Arab “Laa ilaaha illallah”, sementara itu di belakangan terdapat rekannya yang seolah-olah siap mengeksekusi mati beberapa orang yang tertutup matanya. Yang dimaksud oleh harian The Jakarta Post pada karikatur tersebut bisa jadi sebenarnya ingin menyindir sebuah sebuah kelompok yang mengatasnamakan Islam, dalam hal ini ISIS. Namun karena simbol yang digunakan oleh ISIS adalah simbol Islam, dalam hal ini kalimat tauhid “Laa ilaaha illallah”, maka The Jakarta Post “terjebak” melakukan tindakan pelecehan terhadap Islam dengan karikatur tersebut, yang kemudian banyak diprotes masyarakat.
Singkat cerita: ISIS yang melakukan tindakan yang tidak dibenarkan Islam, namun Islam yang menjadi korban dengan pemuatan karikatur pelecehan oleh The Jakarta Post tersebut. Akhirnya, yang repot adalah umat Islam yang harus protes terhadap Jakarta Post, dan Jakarta Post juga repot karena harus minta maaf terhadap umat Islam, sementara itu ISIS anteng-anteng saja untuk meneruskan aktivitasnya.

Kesimpulan
Dari analisis di atas, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
  1. Bendera Islam dan stempel Rasulullah SAW adalah bagian dari peninggalan sejarah, yang saat ini menjelma menjadi bagian dari simbol Islam di antara simbol-simbol Islam lainnya.
  2. Siapapun dan organisasi apapun bebas menggunakan kedua simbol tersebut dalam berbagai bentuk dan variannya, untuk berbagai tujuan, karena belum ada aturan main dalam penggunaan simbol-simbol tersebut.
  3. Sebagai akibat dari “kebebasan” di atas, maka penggunaan simbol-simbol tersebut tidak bisa digeneralisasi sebagai representasi dari umat Islam dan agama Islam.
  4. Dan sebaliknya, munculnya simbol-simbol di atas di berbagai lokasi juga tidak bisa disimpulkan begitu saja sebagai kemunculan ISIS atau pendukung ISIS, karena banyak yang menggunakan simbol-simbol di atas, bahkan ada yang sama persis dengan yang digunakan oleh ISIS, sebagai penafsiran atas hadits yang telah disebutkan di atas, serta peninggalan sejarah berupa stempel Rasulullah SAW.
  5. Pembaca pun dapat menggunakan simbol-simbol di atas untuk kebaikan dan syiar Islam, misalnya untuk kaligrafi, wallpaper komputer, bendera, hiasan masjid, lukisan, dsb. Selain karena lebih berhak, juga sekaligus untuk mengeliminasi pembajakan simbol-simbol Islam yang digunakan dalam tindakan-tindakan yang justru tidak dibenarkan dalam Islam.

Sabtu, 24 Januari 2015

Konflik Suriah Bukan Pertarungan Sunni-Syiah

Agaknya kita mesti kritis dan berhati-hati menyikapi konflik Suriah yang telah menjadi sebuah isu global yang panas dalam 17 bulan terakhir. Hendaknya kita jangan sampai turut bermain dalam gendang yang dimainkan oleh musuh-musuh peradaban Islam dan kemanusiaan, yang sejak awal mengarahkannya ke konflik sektarianisme antara Sunni dan Syiah atau bahkan Islam versus Kristen. Inilah yang dikehendaki Zionis dan AS/Barat, yakni mengadu domba umat Islam atau sesama umat beragama.

Apa yang terjadi di Suriah secara genealogis sama sekali tidak ada hubungannya dengan isu Sunni-Syiah. Fakta yang sangat nyata adalah pendukung Assad berasal dari kaum Sunni (komponen terbesar), Alawiyyin, Syiah, Kristen Ortodoks, dan minoritas lainnya. Sementara penentang Assad awalnya juga beragam meski kemudian ketika mereka bersenjata didominasi oleh jaringan jihadis global kaum ekstrimis Salafi-Wahabi. Setelah 17 bulan berlalu, Barat dan antek-antek regionalnya (Arab Saudi, Qatar, Turki) gigit jari, gemas, dan akhirnya putus asa karena ekspektasi mereka gagal total.Pertama, mereka berharap terjadi defeksi/pembelotan besar-besaran tentara Suriah yang 80% adalah penganut Sunni. Kedua, mereka meramal, sebagaimana dugaan pemberontak, Aleppo bisa menjadi “Bengazi” nya Suriah, yi, menjadi pusat gerakan pemberontakan mengingat 90% penduduknya adalah Sunni atau kabilah-kabilah Arab yang Sunni. Ternyata, di luar ekspetasi mereka, banyak penduduk Aleppo yang menentang pemberontak, tidak hanya secara politis tapi juga secara militer.
 
 
Alhasil, kedua ekspektasi ini tak kunjung datang dan sirna. Hal itulah diantaranya yang membuat Presiden Perancis Hollande sampai kehilangan akal sehat dengan mengeluarkan kata-kata kasar yang seakan masih memperlakukan Suriah sebagai koloninya.
Jadi, bukti di lapangan tidak menunjukkan secara substansial adanya peran Sunni-Syiah dalam menggelorakan kerusuhan di Suriah. Saya katakan ‘secara substansial’ karena secara aksidental, kaum pemberontak Salafi dan majikan mereka (Arab Saudi, Qaar, Turki, AS/Inggris/Perancis) yang menggaji dan mempersenjatai mereka berusaha menggunakan isu Sunni-Syiah untuk memprovokasi kaum Sunni Suriah, dan juga sekaligus digunakan oleh jaringan global Wahabi untuk merusak persaudaraan Islam seperti yang terjadi di tanah air kita (catatan: saya kerap menemukan orang-orang yang memaki Syiah dengan alasan apa yang mereka imajinasikan sebagai ‘pembantaian Sunni oleh Syiah’ di Suriah).


Jadi, provokasi Wahabi ini telah berdampak buruk di negeri kita; sementara rakyat Suriah sendiri, yang mengalami langsung konflik yang terjadi, hampir tak terpengaruh oleh agitasi Wahabi ini. Kita berharap mudah-mudahan rakyat Suriah -apapun mazhab dan agamanya- tetap tak terpengaruh oleh hasutan ini dan berdoa semoga mereka segera keluar dari penderitaan yang berkepanjangan ini.
Lalu, apa yang sesungguhnya terjadi di Suriah? Jenis konflik apa yang berlangsung di negeri klasik, yang merupakan tempat pertemuan sejumlah peradaban dan agama-agama dunia ini?
Memang sulit mengidentifikasi dan membuat kategorisasi mengenai kerusuhan di Suriah. Ia jelas bukan konflik Sunni-Syiah. Ia juga bukan konflik pro-demokrasi dan pro-kerajaan (seperti di Bahrain) mengingat pendukung pemberontak Suriah adalah justru monarki-monarki absolut, yang sama sekali tidak punya legitimasi untuk berbicara tentang demokrasi. Sejumlah pemimpin Iran membaca kerusuhan Suriah ini sebagai skenario yang diciptakan oleh AS/Barat untuk menyelamatkan eksistensi Zionis Israel yang kini dicekam ketakutan menyusul lahirnya Islamic Awakening (istilah Iran) atau Arab Spring (istilah Barat).Mungkin kita bisa juga membuat kategorisasi lain; semisal bahwa konflik Suriah adalah pertarungan nasionalisme-sosialisme Arab (Suriah kini menjadi satu-satunya negara Arab yang berdaulat, tidak tunduk kepada Barat) melawan sekutu kapitalisme global. Rusia (pewaris komunisme Uni Soviet) dan China (komunisme-nasionalis) hingga detik ini masih sangat kuat mendukung pemerintah Suriah. Atau dimungkinkan juga untuk mengidentifikasi bahwa konflik Suriah merupakan sebuah titik balik kurva perubahan dari tatanan dunia lama (paradigma mekanistik) ke tatanan dunia baru (paradigma holistik) yang ditandai oleh kesalinghubungan yang organis di antara titik-titik kejadian di planet ini.
Apapun identifikasi dan kategorisasi yang dibuat, yang harus ditegaskan adalah bahwa “konflik di Suriah” (bedakan dengan “konflik Suriah”) tidak terkait dengan pertarungan Sunni-Syiah. Ini yang paling penting kita garisbawahi. “Konflik di Suriah” artinya sebuah peristiwa konflik yang melibatkan kepentingan semua kelompok di dunia dengan menggunakan tanah Suriah.
Tentu saja, istilah Sunni-Syiah yang saya pakai di sini mengacu kepada pengertian sebagai identitas kelompok, sebagai kata benda, sebagaimana umumnya dipahami. Akan berbeda halnya bila istilah Sunni-Syiah dimaknai sebagai kata kerja/sifat. Shah Iran Pahlevi dan para pengikutnya yang kini tinggal di AS tercatat sebagai penganut Syiah dalam pengertian identitas dan kata benda, akan tetapi mereka penentang keras gagasan keadilan dan peradaban Islam. Sebaliknya, tak sedikit kaum Sunni atau bahkan umat beragama lain, yang menyuarakan keadilan dan perlawanan terhadap arogansi dan dominasi kapital.
Nah, sekalipun identitas Bashar Assad tidak diketahui persis apakah Sunni atau Syiah (dan menurut saya, ini tidak relevan), kita bisa membacanya dalam kategorisasi kata kerja melalui pertanyaan berikut: Apa yang telah dia lakukan selama ini dalam perlawanan bersama rakyat Palestina dan Lebanon terhadap kepongahan dan penindasan Zionis/Barat?
La hawla wa la quwwata illa billah

Selasa, 20 Januari 2015

ISIS dan Sejarah Panjang Ideologi Kebencian


Lambang ISIS
Kesadisan dan kebrutalan kelompok teror ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) membuat dunia terperangah. Menyusul maraknya Deklarasi Baiat kepada ISIS yang dilakukan oleh berbagai ormas di Indonesia, serta munculnya video seruan jihad dari anggota ISIS asal Indonesia yang kini berada di Suriah/Irak, Pemerintah Indonesia pun akhirnya mengambil langkah tegas.

“Pemerintah tidak mengizinkan paham ISIS berkembang di Indonesia. Setiap upaya pengembangbiakan paham ISIS harus dicegah, Indonesia tidak boleh jadi tempat persemaian,” Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko polhukam) Djoko Suyanto (4/8/2014).

Dan, berbagai ormas dan partai Islam pun segera mengeluarkan pernyataan kecaman terhadap ISIS di Indonesia. Tentu saja ini adalah langkah positif. Namun, ada satu hal yang terlupakan: ISIS tidak lahir dari ruang hampa. ISIS tidak muncul tiba-tiba saja. Ada sejarah panjang ideologis yang harus diperhatikan dalam mencermati fenomena ISIS di Indonesia.


Genealogi ISIS

ISIS lahir dalam proses Perang Suriah. Secara umum, upaya penggulingan Presiden Suriah, Bashar Assad, dilakukan oleh dua faksi. Pertama, faksi sekuler yang mengusung narasi demokratisasi. Namun narasi ini tidak berhasil. Demo-demo anti Assad tidak pernah mencapai klimaks seperti terjadi di Tunisia atau Mesir. Akhirnya, kelompok-kelompok bersenjata pun turun ke lapangan, diinisiasi oleh jaringan jihad Al Qaida Irak yang membentuk Jabhah Al Nusra di Suriah. Selain Al Nusra, ada puluhan kelompok jihad lainnya yang ikut bertempur dengan cara-cara khas Al Qaida, meledakkan bom di kerumunan sipil, bom bunuh diri, dan pembantaian massal dengan cara-cara non militer, misalnya dengan menggorok leher. Meski terdiri dari banyak kelompok, para jihadis itu membawa narasi yang sama: penegakan khilafah dan penggulingan Rezim “Syiah” Assad.

Problem utama muncul di titik ini: mereka menggunakan informasi palsu yang sangat masif untuk membuktikan dosa Assad. Misalnya, foto korban pembantaian tentara AS di Irak, atau video kekerasan di Jordan, disebut sebagai korban kekejaman Assad. Media-media berlabel Islam bergandengan tangan dengan media mainstream menyebarluaskan foto-foto palsu mengerikan yang menimbulkan histeria kaum Sunni yang mengira saudara seakidah mereka dibantai oleh kaum Syiah. Narasi anti-Syiah ini berhasil membuat puluhan hingga ratusan ribu Muslim dari berbagai penjuru dunia berbondong-bondong datang ke Suriah untuk ‘berjihad’.

Bulan April 2013 menjadi titik balik dari Perang Suriah. Saat itu, dua kelompok bersenjata yang sama-sama lahir dari rahim Al Qaeda, mulai berseteru. Abu Bakr al-Baghdadi (pemimpin Al Qaida Irak) menyatukan ‘perjuangan’ di Irak dengan Suriah, dengan membentuk Negara Islam Irak-Suriah (ISIS). Deklarasi ini ditentang oleh kelompok Jabhah Al Nusra pimpinan Al Julani. Lalu, dimulailah pertikaian di antara kedua kubu, mereka mengafirkan dan saling bantai dengan cara-cara mengerikan: menggorok leher atau membakar kepala terpenggal.

Dan inilah ideologi dasar kelompok-kelompok jihad Suriah dan Irak itu: takfirisme. Mereka merasa sah berperang dan membunuh siapa saja yang dianggap kafir. Definisi kafir menjadi semakin bias: bahkan sesama Muslim pun bisa didefinisikan kafir. Sayangnya, ini pula ideologi yang dimiliki oleh ormas-ormas (dan partai tertentu) di Indonesia yang sejak awal Perang Suriah terang-terangan menyatakan dukungan kepada para ‘mujahidin’. Satu-satunya alasan dukungan mereka adalah ‘kekafiran’ Rezim Assad.

Mereka dulu menolak melihat konflik dari sudut pandang yang lebih luas. Misalnya, aspek geopolitik dan sikap frontal Suriah terhadap Israel. Sebagaimana terdokumentasi dengan jelas, Suriah selama ini justru pendukung utama perjuangan Hamas. Khaled Mashal selama bertahun-tahun berkantor di Damaskus dan mendapatkan perlindungan keamanan penuh. Oleh UNHCR, Suriah pun tercatat sebagai negara pemberi pelayanan terbaik kepada pengungsi Palestina.

Jihadis Itu bukan Robot

Dan kini, ketika kebrutalan ISIS tidak bisa lagi dicarikan justifikasi relijiusnya, para pendukung ‘mujahidin’ itu pun menyerukan teori konspirasi: “ISIS adalah buatan AS dan Israel.” Benar, Barat memang diam-diam mendukung ISIS. Ada banyak datanya. Namun, datangnya para jihadis ke Suriah dan Irak, semata-mata konspirasi AS-kah? Sedemikian hebatnyakah AS dan Israel, sehingga bisa membuat puluhan ribu muslim dari berbagai penjuru dunia datang dengan sukarela ke Suriah dan Irak, mempertaruhkan nyawa, “berjihad”, menjagal sambil berteriak Allahu Akbar? Apakah mereka robot yang bisa disetir dengan remote control?

Tidak, tentu saja. Mereka semua datang karena didorong oleh ideologi kebencian dan takfirisme. Dan siapa yang menanamkan ideologi ini kepada mereka? Tak lain, para ustadz, ustadzah, ormas, partai, atau lembaga yang memiliki ideologi sejenis. Mereka selama puluhan tahun menyebarkan ajaran kebencian itu. Mereka menanamkan doktrin kebencian pada semua orang yang ‘berbeda’ serta kesetiaan kepada syekh-syekh asing dan organisasi transnasional. Ajaran Islam hakiki, yaitu cinta kasih dan rahmat, justru diabaikan.

Mereka, meskipun saat ini mengaku anti-ISIS dan menyebutnya buatan AS, tak bisa menghapus catatan sejarah masa lalu. Yaitu bahwa merekalah yang sejak awal konflik Suriah telah berkeliling Indonesia, menyebarkan kebencian yang dilandasi informasi palsu, sambil menggalang dana, untuk disalurkan kepada para jihadis. Kebencian itu pun disebarkan secara masif melalui jejaring sosial, dengan bantuan para simpatisan, ibu-ibu, mahasiswa, dan masyarakat awam, yang merasa sedang ‘berdakwah’ saat menyebarluaskan berbagai manipulasi informasi konflik Suriah.

Model penyebaran kebencian ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan di seluruh dunia. Karena mereka memang berjejaring secara transnasional. ISIS lahir dari sebuah proses panjang ajaran kebencian yang akhirnya mencapai puncak kebengisannya, yang menakutkan semua orang.