Tampilkan postingan dengan label geo-eco-politic blogging. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label geo-eco-politic blogging. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Februari 2016

Kontroversi 'Merdeka' di Persimpangan Jalan

Merdeka atau Mati
Komentar teman saya orang Iran, saat chat via LINE, Sebelum kasus Syekh Nimr, Arab Saudi, Bahrain, dan Sudan sudah menurunkan level diplomatik, mereka cuma punya konsulat di Iran. Jadi, kasus Syekh Nimr cuma alasan yang dibuat-buat untuk memutuskan hubungan diplomatik. Apalagi UAE. Yang kemarin menyerang konsulat Saudi itu orang-orang bayaran konsulat UAE, dan sudah ditangkap untuk kemudian diadili pemerintah. Mengapa harus takut dikucilkan pemerintah negara-negara “ngaco”? Santai saja…”

Nasionalisme rakyat Iran sudah teruji 36 tahun terakhir ini (sejak berdirinya Republik Islam). Diembargo obat-obatan? Bikin sendiri. Diembargo senjata? Bikin sendiri. Diembargo jaringan perbankan Rothschild? Pedagang selalu punya jalan keluar, life goes on. Dikucilkan? Nggak takut. Diperangi? Lawan.

Iran bukan negara kaya. Embargo (terutama boikot perbankan) tetap memberikan kesulitan ekonomi bagi Iran. Dalam sebuah diskusi, orang KADIN mengeluhkan perdagangan dengan Iran sulit dilakukan karena Bank Indonesia tidak mau memberi jaminan L/C (tanya kenapa?). Kesulitan sama tentu dirasakan Iran, misalnya, pingin beli kertas langsung dari Indonesia (biar lebih murah) gak bisa, musti lewat Malaysia karena Bank Malaysia kasih jalan. Produk Indonesia, tapi belinya lewat M’sia, enak amat tuh si makelar. Makanya Iran mau jual minyak murah ke Indonesia asal ga lewat makelar. Kenapa ga terwujud? Jawaban ada di bawah.

Tapi, HDI (Human Development Index) Iran ada di ranking 75, sedang Indonesia di 108. HDI dihitung dari pencapaian 3 hal yang menjadi basis pembangunan manusia: kesehatan dan panjang umur; pengetahuan; dan kelayakan standar hidup. Artinya, kesehatan, pengetahuan, dan standar hidup rata-rata orang Iran lebih baik daripada orang Indonesia. Padahal, Iran tidak lebih kaya daripada Indonesia. GDP (Gross Domestic Product) (nilai barang dan jasa yang dihasilkan sebuah negara dalam 1 tahun) Iran jauh di bawah Indonesia. Indonesia bahkan berada di ranking 18 negara terkaya di dunia (dihitung dari GDP). Lalu mengapa HDI Indonesia tetap rendah? Tentu saja ini terkait dengan ‘siapa’ yang memiliki kekayaan itu (karena banyak sekali perusahaan di Indonesia yang ternyata milik asing). Artinya, secara gampang saja bisa dilihat: negara yang diembargo lalu sebagian besar produk dihasilkan oleh bangsa itu sendiri, ternyata kondisi rakyatnya bisa lebih baik.

Btw, kalau Anda tanya pada orang Iran asli, yang keluar umumnya adalah keluhan dan kritikan pada pemerintah; biasanya mereka bilang “daulat hich kari nimikune” (pemerintah ga melakukan apa-apa). Orang Iran memang tukang kritik nomer satu. Ahmadinejad yang (dulu) dielu-elukan di Indonesia, di Iran malah dikritik melulu, terutama oleh kalangan menengah ke atas. Sepertinya ini gejala umum ya, kalangan menengah emang biasa ngehe’ grin emoticon. Tapi kalangan menengah ngehe’ Iran tetap teguh membela negaranya. Indikatornya bisa dilihat dari demo-demo masif pro-pemerintah dalam berbagai even (padahal ga dapet nasbung dan ga ada paksaan).

Jadi, terserah bila Anda mau sebut Iran kafir atau sesat, Iran pun punya banyak kekurangan, khusus spirit independensinya sangat patut diteladani. Independensi pemerintah tidak akan terwujud kalau rakyatnya penakut dan manja. Contohnya, suatu saat, satelit AS mendeteksi ada transaksi minyak antara kapal yang dicurigai kapal Iran dengan kapal Pertamina. Langsung duit Pertamina di AS dibekukan dan baru lepas setelah Indonesia berjanji tidak beli minyak Iran (ini info dari seorang diplomat dalam sebuah diskusi di zaman SBY dulu). Coba bayangkan dengan jujur: kalau saja dulu SBY (atau sekarang Jokowi) berani nekad beli minyak Iran dan kemudian kita diembargo AS, sikap Anda (kita, rakyat, terutama kelas menengah) apa? Jujur saja. Berani tegak membela pemerintah dan hidup prihatin, atau malah rame-rame menggulingkan pemerintah?

Jawaban dari pertanyaan ini memberi arti pada kata “merdeka”

Selasa, 27 Januari 2015

Gaza Menuju Kematian

 Implikasi rezim Mesir dalam mengadopsi proyek penjajahan Zionis terutama pada kasus blokade rakyat Palestina di Gaza, berujung pada penghukuman rakyat Palestina. Satu-satunya dosa atau kesalahan rakyat Palestina di Gaza adalah karena mereka menolak menyerah.
Pemerintah Mesir pun membangun tembok baja yang tujuan akhirnya untuk melindungi keamanan regional Mesir. Sebuah pertanyaan, apakah mungkin rakyat Palestina menjadi ancaman bagi Mesir, padahal sering kali rakyat Palestina menghadang gerilyawan Zionis yang dengan kemampuannya yang sederhana dapat mengobok-obok keamanan Mesir. Masalahnya tidak hanya sampai di sini, bahkan rezim Mesir berupaya mencuci otak sejumlah orang, bahwa Israel ingin menjadikan wilayah Sinai untuk relokasi warga Palestina. Inilah rencana musuh Zionis sebenarnya yang tentu siapapun di antara kita tidak ada yang terima ide negara alternative bagi Palestina.
Pemerintah Mesir melakukan penangkapan terhadap warga Palestina, pembunuhan atau penyiksaan. Mereka menerapkan hukuman khusus bagi warga Palestina, hingga tidak bisa naik banding atau peninjauan ulang terhadap vonis tersebut. sebagai pra-kondisi untuk vonis hukuman politik. Namun, pada saat yang sama, pemerintah Mesir rajin menggembar-gemborkan bahwa mereka para pelindung Palestina. Mereka adalah bangsa yang realistis dan moderat.
Akan tetapi, terkait dengan para pendukung perlawanan, satu-satunya cara untuk menghadapi pembunuhan sadis dan biadab oleh Zionis, pemerintah Mesir justru menangkapinya, menyiksanya dan menghukum para pahlawan perlawanan, karena mereka telah membantu perlawanan di Palestina. Sering kali Abu Gaith, menteri luar negeri Mesir, secara terang-terangan mengatakan, dirinya akan mematahkan setiap kaki rakyat Palestina yang berani menyeberangi garis perbatasan, walau hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Akhir-akhir ini, dan bukan yang terakhir, pemerintah Mesi melalui pasukan keamananya menyemprotkan gas beracun dan mematikan ke lubang terowongan yang biasa dilakukan rakyat untuk membeli kebutuhan pokoknya. Akibatnya, empat warga Palestina dikabarkan meninggal. Mereka juga menghancurkan sejumlah terowongan padahal di dalamnya masih ada beberapa orang manusia Gaza.
Pertanyaanya, kenapa rezim Mesir memperlakukan rakyat Palestina seolah-olah musuh yang mengancam keamanan?. Sementara musuh sebenarnya, bebas mengobok-obok keamanan dan mengancam rakyat Mesir. Mereka berkonspirasi untuk mengambil hak rakyat Mesir terkait pengairan sungai Nil. Seperti Lieberman yang sebelumnya mengancam akan menghancurkan bendungan Al-Ali. Akan tetapi, masih saja mereka sambut dengan hangat dan dihormati setinggi-tingginya oleh pemerintah Mesir.
Perlawanan Palestina suatu ketika masuk dalam arena pertempuran pemilu internal di Mesir. Sejumlah calon kuat dan mumpuni yang berpeluang menang ternyata melakukan sejumlah kejahatan demi kepentinganya untuk memantapkan kedudukanya sebagai orang yang paling dekat dengan Amerika atau Israel. Dan untuk menambahkan kepercayaan ini, mereka akan melumuri tangan mereka dengan membasmi rakyat Palestina di Gaza. Seolah hal tersebut merupakan prioritas utama untuk menduduki tahta kemenangan di masa yang akan datang.
Tampaknya KTT di Sirte Libya kemarin, seolah menutup mata dari semua tindakan rezim Mesir dan menganggapnya sebagai urusan internal. Dari semua peserta KTT, tidak ada satupun yang walau dengan malu-malu mengungkapkan masalah tersebut. Mereka bahkan tak mau menghentikan normalisasinya dengan Zionis atau berhenti menekan tetangganya sesama bangsa Arab yang dianggapnya akan menghancurkan Mesir, sebagai imbalan atas tuntutan perdamaian yang mustahil terwujud.
Sesuatu yang harus diingat bangsa Arab, Gaza adalah bagian dalam perjanjian dengan Mesir. Artinya Gaza mengikuti Mesir dalam perjanjianya dengan Israel, hingga negara tersebut kembali menjajahnya pada tahun 1967. Dengan demikian seharusnya kemerdekaan Gaza harus dimulai dari Mesir. Tetapi ketika Mesir malah berperan dalam menekan pihak yang selama ini membela Mesir, maka tindakan tersebut merupakan kejahatan besar.
Para syuhada yang meninggal kemarin akibat semprotan gas mematikan oleh keamanan Mesir. Sementara ia memberikan gasnya untuk kehidupan di Israel. Sangat kontras dan menyakitkan. Bukan karena persaksian dusta Arab atas kejahatan nazi terbaru yang memakai baju Arab. Namun untuk generasi yang akan datang yang akan merasakan terhina, akibat dikirimkanya bau kematian ke Gaza dan kehidupan bagi musuh Zionis. Bagaimana dunia akan menghormati, siapa pembunuh satu setengah juta manusia yang hidup di Gaza dan ditahan hak-hak makan maupun obat-obatannya ?.
Jika tiba masanya para sekutu menodai tempat suci kita dan ketika mereka memejam matanya dari kerusakan fondasi Masjid Al-Aqsha. Ketika mereka menghancurkan pemerintahan dengan darah rakyat musuhnya, karena mereka memilih untuk melawan. Apakah mereka telah melalaikan tanah Mesir untuk Mossad dan pasukan koalisi serta menyerahkan kemuliaan rakyatnya ?.
Telah tiba saatnya rakyat Mesir menyadari, bangkit dari aib, dan membuang ilusi keamanan regional. Tidak ada keamanan bagi Mesir, tidak ada pula kepercayaan, kedaulatan, kesejahteraan ketika system dirampas hingga sesuap makanan untuk hidup, termasuk sungai Nil. Seolah, penjajahan internal lebih dahsyat bagi kita di negara Kinanah (Mesir). Kita berharap pemerintah Mesir melupakan Palestina dan rakyat Palestina dan membebaskan mereka dari belenggu hitam. Akan tetapi pada saat yang sama, kami menyerukan rakyat Mesir ini agar tidak lupa dengan masalah kita semua, untuk membebaskan tanah airnya sendiri dari belenggu penjajahan yang mengangkangi kemulian Mesir dan hatinya.

Sabtu, 24 Januari 2015

Israel Kalah di Suriah

Gilad Atzmon
Gilad Atzmon adalah salah satu penulis favorit saya. Bukunya, the Wandering Who, membongkar ideologi dan filosofi Yahudi dan Zionisme hingga ke akarnya. Tak pelak, dia pun dibenci oleh para Zionis, meski di saat yang sama, mampu mencerahkan banyak orang Yahudi. Yang aneh, bahkan sebagian aktivis Palestina pun memrotes buku itu, antara lain Ali Abunimah. Mereka  telah membuat petisi menuduh Gilad sebagai rasis. Buku  itu seolah menjadi ‘pembeda’ bagi mereka yang mengaku aktivis pembela Palestina. Ada mereka yang benar-benar menginginkan kemerdekaan Palestina, dan mereka ini mendukung buku Atzmon. Tapi ada banyak juga yang sebenarnya hanya ingin kekuasaan dan uang melalui aktivitasnya itu. Kehadiran buku ini juga membongkar kedok sebagian kelompok perdamaian Yahudi, karena sebagian kelompok  Yahudi yang mengklaim diri antipenjajahan di Palestina, justru menolak isi buku ini. Di sini terlihat bahwa mereka sebenarnya hanya ingin melakukan pencitraan saja, tapi tidak benar-benar menginginkan tegaknya keadilan di Palestina.

Atzmon aktif mengkritik sepak terjang Israel dengan sudut pandang yang unik, sudut pandang seorang Yahudi yang benar-benar memahami esensi Israel dan keyahudian. Tulisan terbaru di blog Atzmon adalah tentang sepak terjang Israel di Suriah dan menurut saya menarik dicermati. Saya akan terjemahkan sebagiannya, berikut ini.
Pada minggu terakhir ini kita menyaksikan betapa Inggris dan Prancis dengan putus asa berupaya mendorong dilakukannya intervensi militer di Suriah. Sudah menjadi rahasia umum, baik pemerintah Inggris maupun Prancis sesungguhnya didominasi oleh kelompok lobby pro-Israel. Di Inggris, kelompok lobby itu adalah organisasi ultra Zionis, CFI (Conservatif Friend of Israel). Tampaknya 80%  anggota parlemen konservatif Inggris adalah anggota dari organisasi ini. Di Prancis situasinya bahkan lebih dahsyat, sistem politik negara itu seluruhnya dibajak oleh CRIF (Conseil Représentatif des Institutions juives de France).
Jika ada yang masih belum paham mengapa lobby Yahudi mendorong intervensi militer langsung di Suriah, Debka, kanal berita Israel, telah memberikan jawabannya. Tampaknya, tentara Suriah telah memenangkan semua lini pertempuran [melawan pemberontak]. Kalkulasi militer dan geopolitik Israel telah terbukti salah.
Menurut Debka, “Pertempuran Damaskus sudah berakhir. Tentara Suriah telah kembali menguasai kota dengan kemenangan heroik. Para pemberontak, sebagian besar tentara bayaran, telah kalah dalam pertempuran mereka dan tidak dapat melakukan aksi lebih banyak dari sekedar serangan sporadis. Mereka tidak bisa lagi melancarkan serangan, atau menimbulkan ancaman ke pusat kota, bandara, atau pangkalan militer udara Suriah di dekatnya. Pesawat Rusia dan Iran yang terus-menerus membawa suplai baru untuk menjaga agar tentara Suriah terus bisa bertempur, kini telah bisa kembali mendarat di bandara Damaskus yang sebelumnya selama berbulan-bulan disandera pemberontak. “
…
Debka menyatakan bahwa perwira senior IDF  (Israel Defense Force) mengkritik menteri pertahanan Israel (Moshe Ya’alon) yang “menyesatkan” Knesset beberapa hari lalu, dengan memperkirakan bahwa “Bashar Assad hanya mengendalikan 40% dari wilayah Suriah.” Debka menyebut bahwa Menhan Israel telah mendasarkan diri pada informasi intel
ijen yang salah dan hal ini membuat angkatan bersenjata Israel telah bertindak atas dasar data yang tidak akurat. Debka juga menekankan,  kalkulasi yang keliru telah mengarahkan pada pengambilan keputusan yang salah.

Debka jelas cukup berani untuk mengakui bahwa miskalkulasi militer Israel mungkin akan mendatangkan bencana dahsyat [bagi Israel]. Debka menulis, “Pengeboman besar-besaran Israel terhadap gudang senjata dari Iran untuk Hizbullah yang disimpan dekat Damaskus, ternyata terbukti malah mendatangkan bahaya. Aksi ini justru memberi Bashar Assad kekuatan, bukannya melemahkan tekadnya. “
…

Debka juga menyimpulkan, Israel kini menghadapi realitas yang baru. Israel kini berhadapan langsung dengan pasukan Hizbullah yang mengalir dari Libanon menuju dataran tinggi Golan dan perbatasan dengan Suriah.
Yang menarik, Atzmon menutup tulisannya dengan mengkritik media Barat. Menurutnya, adalah menyedihkan, justru Debka (media Israel) yang memberi jawaban mengapa Inggris dan Prancis sedemikian berkeras untuk melakukan intervensi militer di Suriah. Mengapa bukan media Barat sendiri? Jelas, keberpihakan pemerintah Inggris dan Prancis terhadap Israel justru merugikan rakyat di kedua negara itu sendiri; sumber dana yang besar dihamburkan untuk perang demi Israel,  bukan untuk kesejahteraan rakyat. Setidaknya, menurut Atzmon, media Israel saja berani mengkritik pemimpinnya sendiri. Sementara, media massa Barat malah bertindak sebaliknya.

Kritikan Atzmon ini cocok juga disampaikan kepada (sebagian) media Islam yang justru menjadi corong Zionis. Ketika media Israel sendiri sudah buka-bukaan menyatakan bahwa Israel memang terlibat dalam perang Suriah dan memiliki kepentingan besar dalam upaya penjatuhan Assad, mengapa (sebagian) media Islam tetap bersikeras bahwa konflik Suriah adalah pemberontakan kaum Sunni terhadap sebuah rezim yang dituduh sesat dan kafir?

Sabtu, 26 Juli 2014

Konflik Suriah: Dari Jalur Sutra Sampai Chevron

Jalur Pipa Minyak, isu sentral Konflik Suriah
Apa yang terjadi di Suriah tidak lebih hanyalah sebuah permasalahan penguasaan jalur ekonomi perdagangan. Semenjak Sekolah menengah pertama kita telah belajar tentang Jalur sutra. Semua orang juga tahu bahwa Jalur sutra adalah simpul dari jalur ekonomi paling legendaris di dunia. Jalur ini melewati banyak Negara sehingga tak mudah bagi satu pihak untuk menguasainya sekaligus, Pihak yang berhasil menguasai simpul jalur sutra maka dia menguasai separuh jalur sutra !
Rencana pembangunan pipa minyak dan gas yang melewati jalur sutra sangat bernilai ekonomis tinggi, bagi pihak barat yang tengah dilanda krisis ekonomi parah tentu saja proyek pipa ini membuatnya tergiur. Selain masalah ekonomi, konon kabarnya bila Suriah berhasil ditundukan dan dikuasai barat maka gerbang utama untuk menyerang Iran akan terbuka lebar.

Peran sentral Suriah dalam hal pipa gas Arab adalah salah satu faktor kunci mengapa sekarang Suriah sedang menjadi target imperialisme Barat. Sama seperti Taliban yang harus disingkirkan setelah mereka menuntut terlalu banyak sebagai imbalan atas pipa Unocal, Presiden Bashar Assad harus dijatuhkan karena ia bukan "pemain" yang bisa didikte begitu saja.

Secara khusus, Turki, Israel dan sekutu mereka AS menginginkan terjaminnya aliran gas melalui Suriah, dan tidak menginginkan rezim Suriah untuk menghalangi jalur pipa tersebut, atau menuntut keuntungan yang terlalu besar.

Kesepakatan juga telah ditandatangani untuk menjalankan proyek pipa gas alam dari ladang gas raksasa di Selatan Iran melalui Irak dan Suriah (dengan kemungkinan perpanjangan pipa ke Libanon).

Dan kesepakatan untuk menyalurkan minyak dari ladang minyak di Kirkuk Irak ke pelabuhan Banias di Suriah juga telah disetujui: Turki dan Israel akan didepak keluar dari persaingan pipa gas ini. Tidak heran Turki dan Israel sama-sama meluncurkan serangan militer terhadap Suriah. Di sisi lain, industri gas alam raksasa Rusia akan terancam jika rezim Suriah saat ini digulingkan, maka tidak heran Israel dan Rusia masuk ke dalam konflik Suriah. Demikian pula monarki di Qatar dan Arab Saudi juga akan diuntungkan dalam persaingan pasar gas jika rezim Suriah berhasil ditumbangkan, jadi mereka pun mendukung "pemberontak".


Pemberontakan di Suriah mulai terjadi dua tahun yang lalu, hampir pada saat yang bersamaan dengan penandatanganan nota di Bushehr pada tanggal 25 Juni 2011 tentang pembangunan pipa gas Iran-Irak-Suriah yang baru, yang terbentang sepanjang 1.500 km dari Asaluyeh di lapangan gas terbesar di dunia, dari Pars Selatan (terletak antara Qatar dan Iran) ke Damaskus. Panjang pipa di wilayah Iran adalah 225 km, 500 km di Irak, dan di Suriah sepanjang 500-700 km. Kemudian dapat diperpanjang melalui dasar Laut Mediterania ke Yunani. Kemungkinan pasokan gas cair ke Eropa melalui pelabuhan Mediterania Suriah juga sedang dipertimbangkan. Investasi dalam proyek ini sebesar 10 miliar USD.

Proyek Pipa gas ini, yang juga dijuluki «Pipa Islam», akan mulai beroperasi pada periode 2014-2016. Kapasitasnya yang diproyeksikan adalah 110 juta meter kubik gas per hari (40 miliar meter kubik per tahun). Irak, Suriah dan Libanon telah menyatakan kebutuhan mereka untuk gas Iran (25-30 juta meter kubik per hari untuk Irak, 20-25 juta meter kubik untuk Suriah, dan 5-7 juta meter kubik hingga 2020 untuk Libanon). Sebagian pasokan gas akan dialirkan melalui sistem transportasi gas Arab ke Yordania. Para ahli percaya bahwa proyek ini bisa menjadi alternatif untuk pipa gas "Nabucco" yang dipromosikan oleh Uni Eropa (dengan kapasitas yang direncanakan 30 miliar meter kubik gas per tahun), yang tidak memiliki cadangan yang cukup.

Jalur pipa gas dari Iran akan sangat menguntungkan bagi Suriah. Eropa akan memperoleh keuntungan dari itu juga, tapi jelas seseorang di Barat tidak menyukainya. Sekutu-sekutu pemasok gas Barat di Teluk Persia juga tidak senang dengan itu baik, disamping juga Turki tidak akan menjadi pemasok gas no.1, karena kemudian akan keluar dari permainan.

Perang melawan Suriah bertujuan untuk ambisi Barat beserta sekutu mereka, serta menghancurkan kesepakatan antara Teheran, Baghdad dan Damaskus. Implementasi proyek pipa gas Iran-Iraq-Suriah telah dihentikan beberapa kali karena aksi militer, tetapi pada Februari 2013 Irak menyatakan kesiapannya untuk menandatangani perjanjian kerangka kerja yang akan memungkinkan proyek pembangunan pipa tersebut.
Irak yang tadinya bersahabat justru berbalik merapat dan menjadi sekutu Iran yang notabene sekutunya Suriah. Sekarang kondisi dilematis menggerogoti Suriah, bila pemerintahan Assad jatuh ke pemberontak belum tentu kondisi Suriah akan lebih baik, Libya dan Afghanistan sudah membukti hal itu, bukanya damai malah terjadi perang sipil tak berkesudahan. Sedang bila Pemerintahan Assad tetap utuh maka pemberontakan juga akan terus berkobar dimana rakyat Suriah bakal semakin lama menderita. 
Fenomena Arab spring yang dimulai dari Tunisia kemudian menjalar ke Libya dan Mesir ternyata terhenti dan berkecamuk di Suriah. Cara-cara yang digunakan seperti di Libya atau Tunisia terbukti tak berhasil menundukan pemerintahan Bashar Al Assad yang tengah berkuasa. 
Upaya menggulingkan kekuasaan Bashar Al Assad awalnya dilakukan oleh pihak oposisi melalui demonstrasi dan tuntutan reformasi politik namun sayangnya fakta dilapangan berbanding terbalik. Pemerintaahan Assad masih didukung oleh sebagian besar rakyat, tokoh tokoh agama dan kekuatan militer sehingga masih terlalu dini untuk digulingkan . 
Kegagalan Oposisi mengganti kekuasaan melalui jalan damai akhirnya mendorong banyak pihak yang bersekutu dengan oposisi untuk melancarkan pemberontakan bersenjata. Hanya dalam hitungan hari, Pasukan Pemerintah dan Pemberontak terlibat perterungan sengit yang berdarah-darah, suriah berkecamuk hebat, ribuan manusia meregang nyawa dan jutaan lainnya terpaksa menjadi pengungsi. 
Perang Suriah yang awalnya dilakoni oleh dua pihak saja yakni Pemerintah dan Oposisi Pemberontak mulai merembet kemana-mana, pasukan pemberontak mulai dijejali berbagai macam pasukan asing yang berafliasi dengan Negara negara teluk atau liga arab pro oposisi, Turki, Israel, Amerika dan NATO. 
NATO

Secara militer jelas kubu ini jauh lebih unggul ketimbang pihak Suriah, hanya masalah legitimasilah yang membuat kekuatan militer kubu ini tak dikeluarkan secara langsung. Poros ini memilih menggunakan tangan orang lain yakni para pemberontak dengan memberikan dukungan dana, logistic, senjata, alat komunikasi dan pelatihan militer. Sayangnya dukungan luar biasa poros ini terhadap pemberontak ternyata tak memberikan hasil yang memuaskan. Berkali-kali pasukan pemberontak terpojok dan hampir binasa oleh serangan Pasukan pemerintah suriah. Kubu ini juga didukung penuh oleh kekuatan media di seluruh dunia, guna mengpropagandakan masyarakat internasional untuk turut mendukung penggulihan rezim Assad. Bila pertempuran terus berlanjut tanpa ada tanda –tanda kapan bisa berakhir, bisa jadi dengan berbagai alasan, pasukan militer dari kubu ini akan memaksa untuk meng intervensi secara langsung yang diperkirakan akan terjadi head to head dengan kekuatan Rusia dan Iran di Suriah. Di dalam tubuh NATO pun hanya Perancis dan Inggris yang masih bersedia mendukung penggulingan Assad, Negara anggota NATO lain lebih memilih untuk menangani krisis yang tengah melanda seluruh eropa 
Sementara pihak yang berada di kubu ini antara lain Suriah, Rusia, Iran, Hizbullah, dan China. Rusia yang memiliki pangkalan angkatan laut di tartus memindahkan sebagian armada laut hitam dan pasifiknya ke pangkalan ini, Kapal penghancur, pendarat dan kapal selam disiagakan di pangkalan ini guna mencegah campur tangan langsung Negara lain. Rusia juga serius membantuk menyokong persenjataan rusia, dari klas bawah sampai atas seperti mengirim sistem pertahanan udara S300 , Rudal anti kapal Yakhont dan Pantsyr S-1, menyebar radar canggih serta melatih pasukan suriah untuk mengoperasikan alutsista canggih tersebut. Kekuatan militer suriah yang didukung persenjataan canggih membuat pihak Barat seperti NATO tak berani melakukan serangan langsung, hanya Israel yang berani mengirim jet tempurnya untuk menghancurkan tempat strategis di Suriah yang langsung dikecam oleh banyak pihak. Iran kabarnya mengirimkan pasukan khususnya untuk bertempur bersama pasukan pemerintah serta mengirimkan pasokan senjata. Iran dan suriah sering bekerja sama menyalurkan senjata bagi pasukan Hizbullah dalam kampanye anti Israel dan pembebasan Palestina, Hizbullah sendiri juga turut mengirimkan pasukan terbaiknya untuk bertempur di Suriah. China yang sebelum dibuat jengkel karena ekspansi ekonominya yang strategis di Libya di hancurkan oleh Barat, bakal memperjuangkan kepentingan ekonomis yang berharga di Suriah agar tak kembali kecolongan seperti kejadian di Libya. 
Sekutu Suriah, Rusia yang memiliki banyak kepentingan strategis dengan Suriah juga merasa terganggu akibat perang ini. Hingga sekaran mereka secara konsisten terus mendukung Bashar Al Assad. Sama Seperti Rusia, Iran juga turut mendukung secara politis terhadap Bashar Al Assad, China pun demikian meski tak terlalu terlihat seperti Rusia dan Iran. 
Banyak tangan asing yang turut bermain di Suriah semakin memanaskan situasi, saling tuduh sudah menjadi menu harian, PBB melalui Dewan Keamanan gagal meloloskan resolusi karena di veto Rusia dan China, Bila PBB meloloskan resolusi ini maka bakal menjadi alat legalitas bagi Amerika dan NATO untuk melakukan invasi terbuka seperti kasus Libya. Solusi damai yang ditawarkan Bashar Al Assad ternyata juga ditolak oleh pihak oposisi begitu juga sebaliknya tuntutan Oposisi juga ditolak keras oleh Assad.. 
Karna selalu gagal mendapatkan legitimasi dari dewan PBB, berbagai cara digunakan pihak oposisi dan asing. Hal terhangat yang terjadi saat ini adalah penggunaan senjata kimia yang mengakibatkan 1.429 jiwa tewas klaim pihak oposisi sedangkan menurut Doctors Without Borders 350 orang tewas. Hal itu menjadikan legitimasi Amerika serikat untuk invansi militer secara langsung ke Suriah bersama sekutunya Perancis dan Inggris tanpa persetujuan dewan PBB. Padahal siapa yang menembakan senjata kimia masih terus menjadi perdebatan. Amerika dengan yakinnya bahwa mereka mempunyai bukti kuat bahwa rezim Bashar lah pelakunya . Hal ini dibantah oleh Suriah, dengan mengatakan bahwa data intelijen yang digunakan Amerika adalah data dari media sosial. Bahkan Presiden Rusia Vladmir Putin menantang obama untuk membuktikan klaim dia, Secara logika akal sehat Bashar Assad tidak mungkin melakukan serangan senjata kimia di saat militer Suriah sedang memperoleh kemenangan dalam berbagai pertempuran melawan para teroris dukungan asing dan juga di saat tim investigasi PBB sedang berada di Suriah. Titik terang siapa pengguna senjata kimia mulai terungkap, Anggota dari pasukan oposisi Suriah memberikan pengakuan kepada media Associated Press, mengenai siapa yang berada di belakang serangan yang menggunakan senjata kimia di Ghouta, Damaskus 21 Agustus 2013 lalu. Menurut "Kelompok Doctors Without Borders menemukan bahwa serangan itu adalah bentuk kesalahan koordinasi dan ketidaktahuan dari pihak pasukan oposisi. Mereka tidak menyadari bahwa mereka memiliki senjata kimia," ( Associated Press,1/9/2013). 
Bahkan Selain mengakui bahwa serangan itu dilakukan oleh mereka, ada satu sosok lain yang memasok senjata mematikan tersebut. Senjata kimia itu disediakan oleh Pangeran Arab Saudi Bandar bin Sultan.
Meski ada pengakuan dari pihak pasukan oposisi, Pemerintah Amerika Serikat (AS) tetap dalam pendiriannya bahwa pasukan Presiden Suriah Bashar Al-Assad yang menggunakan senjata kimia itu.
Sepertinya Perang Suriah adalah cikal bakal perang dunia tiga. perang dunia ini baru bisa berhenti bila pihak yang berseteru mau menahan diri dan memilih menhentikan aksinya, duduk bersama dalam perundingan damai yang mampu mengakomodir keinginan semua pihak. Perang hanya akan meninggalkan bekas luka yang perih, memelihara kebencian, dendam yang tak berujung. Sudah banyak korban tak berdosa dan kehilangan orang orang terkasih akibat perang ini, siapapun yang menang dan kalah tak akan mampu mengembalikan apa yang hilang sebelum perang ini terjadi. Peace for Suriah, Human love human.

Sistem Ekonomi dan Keuangan Barat Hanya Bertahan Berkat Perang

Sistem ekonomi dan keuangan Barat hanya bertahan berkat perang‘- Peter Koenig, ahli keuangan Swiss.
Pertanyaan pembuka: “Mengapa Amerika Serikat dan aliansi Blok Baratnya tidak akan berniat untuk menghentikan perang Proxy selama Blok Timur, terutama BRICS dan Negara-negara anggotanya terus berkembang?”
occupywallstreetlibertyparknyP1340257
Kilas latar
Ekonomi global kemungkinan akan mendapatkan momentum perubahan tahun 2014, meskipun dengan gambaran yang mungkin berbeda di masing-masing negara.
TheVoice of Rusia berbicara denganPeter Koenig, ahli keuangan Swiss, mantan ekonom Bank Dunia, penulis “Implosion: Implosion: Sebuah Thriller Ekonomi tentangPerang, Lingkungan Destructiondan Corporate Greed“.
Ini telah menjadi dogma lama dari ekonomi neoliberal Barat bahwa negara-negara berkembang, yaitu BRICS, MINT (Mexico, Indonesia, Nigeria, Turki), negara-negara dari Asia Tenggara, dll tidak dapat membentuk sirkuit ekonomi yang layak dan menjamin pertumbuhan yang berkelanjutan tanpa modal dan ‘inovasi’ dari negara-negara maju dan lembaga keuangan dunia seperti IMF atau bank transnasional seperti Goldman Sachs.

Apakah Anda percaya bahwa dogma ini benar? atau dogma ini salah?
531981_611812958877388_903458081_n
Dogma ini adalah mitos dan angan-angan neoliberal. Mari kita mengambil BRICS ( Brasil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan) – mereka telah membuat bank pembangunan mereka sendiri selama BRICS KTT ke-5 di Durban Maret lalu dengan dana cadangan awal setara US $ 100 miliar.
Cadangan keuangan ini akan melayani beberapa tujuan.
Pertama-tama, untuk meningkatkan pendanaan untuk proyek-proyek pembangunan, terutama saya percaya pada infrastruktur dan sektor-sektor produktif.
Kedua, juga untuk membantu mencegah tekanan likuiditas jangka pendek dan memperkuat stabilitas keuangan dari masing-masing negara dengan demikian melengkapi apa yang disebut jaring pengaman keuangan internasional murah hati, saya harus mengatakan.
Dengan kata lain, cadangan seperti dana untuk membeli kemerdekaan BRICS dari taring hiu uang (IMF, World Bank).
Dan kemudian, alasan ketiga atau tujuan ketiga dana ini – bank pembangunan BRICS dan dana cadangan awal akan menjadi batu penjuru bagi bank sentral BRICS di masa depan.
Bank sentral, seperti Bank Sentral Eropa, harus bertindak sebagai bank sentral, bukan sebagai pengawas dan pelaksana agenda neoliberal keuangan Fed-dan Wall Street -drive, yang merusak ekonomi negara-negara anggota.
Ketika saatnya tiba bagi bank sentral BRICS yang akan didirikan dan saya hanya bisa berharap bahwa itu akan segera, bank sentral BRICS akan menjadi salah satu solidaritas bekerja di bawah piagam yang mendukung negara-negara anggota dan bukan menghancurkan mereka.
Jelas, ini mungkin tidak mudah, ini seperti merubah sebuah kapal uap berat dari kursus yang diberikan. Ini mungkin memerlukan waktu tetapi, pertama dan terutama, itu akan membutuhkan kemauan politik. Dan saya percaya BRICS memiliki kemauan politik.
Akhirnya, mereka telah memberikan bukti bahwa mereka berangkat dari jalur selain sistem Barat, jalur AS. Yaitu, bahwa sejauh kontrak internasional harus diselesaikan di dunia hanya dalam mata uang referensi – “dolar AS”.
Nantinya- tidak lagi!
Brics leaders in Durban
BRICS leaders
BRICS dan negara-negara yang terkait sudah memulai perdagangan dalam mata uang lokal mereka sendiri sehingga menjauhkan diri dari dolar dan prestise dan alasan palsu dibalik dolar. Itu pertanda baik untuk masa depan.
Melihat kembali dua dekade terakhir dari interaksi antara negara-negara berkembang (di Asia, Eropa Timur, Amerika Selatan, Afrika) dan lembaga-lembaga keuangan internasional seperti IMF atau bank swasta seperti Goldman Sachs, apakah Anda berpikir bahwa lembaga keuangan Barat membawa lebih bahaya atau lebih baik dalam interaksi ini?.
Bagi saya, tidak ada keraguan. Dan saya pikir ekonom terkenal Barat bahkan akan setuju, meskipun, mungkin, tidak terbuka dan tidak di koran, tapi dengan hati nurani mereka, yang saya percaya bahkan neoliberal memiliki, bahwa tatanan neoliberal – beberapa menyebutnya tatanan dunia baru – telah membawa hanya merugikan kepada orang-orang dan negara-negara mereka di mana mereka telah melakukan intervensi atau, sebenarnya, ikut campur secara tidak sah, melawan hukum, karena para pemimpin sistem jahat ini – “IMF, Komisi Eropa dan ECB” (disebut Troika) ditambah banksters Wall Street yang dipimpin oleh seperti Goldman Sachs, pertama harus menghapus pemimpin yang terpilih secara demokratis dari negara-negara yang mengganggu, sehingga mereka akan menghadapi setidaknya resistensi terhadap gerakan despotik mereka.
Ambil Yunani. Pada tahun 2008 Yunani memiliki utang nasional kurang dari 120 % dari PDB. Ini akan benar-benar dikelola untuk sebuah negara seperti seperti Yunani, dan, dengan demikian, utang mereka mewakili di seluruh serikat moneter Eropa – sebenarnya, tidak lebih dari 2 % dari PDB Euro. Ini sama sekali tidak berpengaruh apapun pada ekonomi Eropa, kelayakan ekonomi dan potensi perdagangan.
Itu tentu saja tidak pernah benar-benar dianalisa di media dan itu tidak pernah ditulis, dan orang-orang tidak tahu, mereka hanya mengatakan bahwa Yunani adalah bahaya bagi Euro.
Pada akhir Oktober 2010, Presiden Sarkozy Perancis dan Kanselir Jerman Merkel disebut Perdana Menteri Yunani George Papandreou untuk pertemuan krisis di Cannes. Alasannya adalah bahwa Papandreou memulai referendum – satu-satunya langkah demokratis yang layak bagi orang-orang Yunani untuk memutuskan apakah mereka ingin terus menerima paket penyelamatan dari Troika, dengan kata lain, indebting Yunani – negara mereka – lebih lanjut pada tingkat bunga 7 % +.
Itu sangat mungkin bahwa Yunani akan memilih untuk tidak lagi menginginkan uang Troika, yang akan juga berarti keluar dari Euro. Hal ini tentu saja tidak dapat diterima bagi para pemimpin Troika, dan untuk Perancis dan orang-orang kuat Jerman. Negara-negara lain mungkin segera mengikuti, yang bisa berarti menjadi akhir dari Euro seperti yang kita kenal sekarang.
Dan seperti yang kita juga tahu, Euro telah menjadi alat bagi orang kaya untuk memiskinkan orang miskin, untuk mengisap sistem sosial mereka dengan susah payah, privatisasi mereka, singkatnya – depraving dan menghancurkan jaring pengaman sosial mereka. Merkozimengancam Papandreou untuk menarik referendum. Papandreou pulang, menarik referendum dan mengundurkan diri pada hari berikutnya.
Dia segera digantikan oleh Lucas Papademos yang tentu saja menerima paket penyelamatan lebih lanjut dengan persyaratan kejam Troika. Papademos, menebak di mana ia berasal? Seperti Mario Monti, mantan Perdana Menteri Italia dan Mario Draghi, Ketua ECB, Papademos adalah mantan eksekutif Goldman Sachs. Bukankah itu menakjubkan? Hal ini tidak ditulis di dalam baru dan media.
Dalam skenario ini dengan Sarkozi dan Merkel – para pemimpin negara-negara Euro terbesar – ditambah lebih banyak pemimpin neoliberal Eropa (atau lebih baik disebut boneka Washington), itu jelas bahwa Eropa dan ekonomi Eropa dipimpin dan dimanipulasi oleh Federal Reserve dan dikenakan sistem keuangan wall Street AS. Hal ini masih dilakukan, setiap hari.
Wall-Street-Exposed
Wall Street
Sedikit Yunani adalah tes kasus, sisanya adalah sejarah. Berikutnya jatuh Portugal, Irlandia, Spanyol, Italia, kemudian datang Siprus. Siprus sudah merupakan liga baru pemusnah rumus neoliberal yang mungkin akan segera diikuti di seluruh Eropa. Tingkat pengangguran mendekati atau melebihi 30 % dan pengangguran kaum muda melebihi 50 %.
Nah, krisis ini jauh dari selesai. Ini adalah kutipan literal dari elit politik keuangan dari Forum Ekonomi Dunia di Davos. Mereka memperingatkan sebelumnya, konferensi ini terkenal dari para pelopor dan penguasa dunia, tidak memiliki harapan bahwa akan ada perbaikan segera.
Ini adalah langkah taktis, tentu saja, untuk orang-orang yang siap untuk tidak mencari masa depan yang lebih baik, tapi bersiap untuk yang lebih keras. Semakin banyak orang yang terintimidasi, semakin baik mereka dimanipulasi. Ini adalah doktrin lama diktator yang telah diterapkan berkali-kali sebelumnya. Tapi tentu saja, sejarah juga tahu bahwa orang memiliki kenangan singkat.
govstruct
Hari ini orang dihadapkan dengan tiga perang agresi.
Tiga perang agresi:
Mesin Buldozer konvensional pembunuhan AS- NATO, perang ekonomi yang dipimpin oleh relends – Troika (disebutkan sebelumnya) dan mungkin yang terburuk – booming propaganda kebohongan tentang kesejahteraan sistem konsumerisme Barat. Ini alamat pada tumit Achilles yang paling rentan dari umat manusia – keserakahan dan egoisme. Dan itu berhasil, setidaknya sejauh ini.
Negara-negara BRICS telah banyak dikritik karena mencoba untuk mendirikan bank pembangunan BRCIS mereka sendiri, sehingga menghindari dan menyaingi IMF dan menciptakan landasan sistem keuangan alternatif global yang mengancam Blok Barat.
EU COM
EU Commisssion
Kritik berpusat pada dua aspek:
Diduga, para BRICS tidak memiliki uang dan keahlian untuk menciptakan sebuah “sistem alternatif yang tepat” dan diduga, BRICS bertindak secara egois dengan memilih untuk membuat bank mereka sendiri, bukan reformasi dan mengintegrasikan ke dalam sistem IMF yang ada.
Apa yang akan Anda menjawab kritik tersebut?
Kritik ini adalah tidak lain dari propaganda negatif dari Barat dari BRICS. Mereka yang memanipulasi sistem moneter dan keuangan Barat – US Federal Reserve, IMF, melalui Departemen Keuangan AS yang mengontrol Dana Moneter (jangan membodohi diri sendiri, semua orang harus tahu bahwa Dana Moneter hanyalah perpanjangan tangan dari Departemen Keuangan AS) , maka Bank for International Settlement dan pencatutan banksters Wall Street dan sekutu Eropa mereka – mereka semua memiliki alasan yang baik untuk takut dengan pertumbuhan BRICS.
Mengapa?
BRICS saat ini mengontrol sekitar 30 % dari GDP dunia dan menyumbang hampir 50 % dari populasi dunia. Selain itu, PDB BRICS didasarkan pada produksi riil, dibandingkan dengan perbankan dan jasa.
Juga, hari ini ada sejumlah negara yang sudah bersekutu dengan BRICS atau ingin bergaul dengan mereka, seperti Argentina, Vietnam, Malaysia, Indonesia dan produsen hidrokarbon seperti Iran, Venezuela, produsen minyak Asia Tengah, yang juga kadang-kadang disebut Sabuk Minyak Kaspia. Dunia Barat saat ini menyerap produsen minyak, seperti keserakahan ekonomi mereka dan kebutuhan mendesak jauh melebihi produksi mereka sendiri. Dan itu adalah dengan jatuhnya mata uang – dolar AS.
Bayangkan, mereka semua memutuskan dalam solidaritas untuk bergabung bersama-sama dan menciptakan pertukaran minyak mereka sendiri dan membiarkan perdagangan hidrokarbon pihak lain dalam mata uang mereka sendiri, yang bertentangan dengan AS- OPEC yang menggunakan dolar.
Segera BRICS akan mengeluarkan mata uang, Triliunan, dan mata uang lainnya yang berdiri dengan dolar AS – akan runtuh.
Dan pada kenyataannya, dunia ini hampir di sana. Itu terakhir World Energy Congress bulan Oktober di Korea Selatan, Mr Sechin – Ketua konglomerat hidrokarbon Rusia Rosneft – menyarankan bahwa “itu disarankan untuk membuat bursa internasional untuk negara-negara peserta di mana transaksi dapat didaftarkan dengan penggunaan mata uang regional.
“Tentu saja, ini mendapat liputan sedikit oleh media Barat.”
Tapi kembali ke pertanyaan Anda, reformasi IMF, Bank for International Settlement, sistem Bank Dunia bukan menciptakan satu paralel – di bawah struktur kekuasaan saat ini adalah hampir mustahil. BRICS tahu itu.
BRICS secara individual, atau sebagai sebuah kelompok, bergerak pada perolehan suara dan pengaruh pada sistem.Ini akan berarti (seperti) IMF baru, Bank Dunia, Bank for International Settlement konstitusi, “yang AS tidak akan pernah membiarkannya berkembang”.
(Perbedaan IMF dengan BRICS pada paparan sebelumnya diatas)
0013729e42ea0b75991708
Daftar Negara Kontributor IMF
Pertempuran di bagian depan yang akan kalah, terutama karena BRICS tidak perlu melawan. Mereka secara ekonomi, finansial dan politik yang cukup untuk menciptakan sistem keuangan dan moneter independen mereka sendiri yang kuat. Bahkan, meskipun propaganda baru saja diluncurkan dengan bantuan peraih Nobel, yang BRICS tidak perlu sistem ekonomi Barat, maupun modal Barat, yang tetap sebagian besar terbuat dari uang feat tanpa dukungan apapun.
Ekonomi BRICS, ditambah perekonomian negara-negara yang terkait adalah pesaing, yang kokoh didukung oleh PDB dan, akhirnya, dengan cadangan hidrokarbon mereka di dalam tanah.
Kami melihat pergeseran bertahap menjauh dari dolar sebagai mata uang cadangan dunia. Ada rencana beredar luas menciptakan mata uang cadangan alternatif, BRICS SDR atau BRICSO yang akan dikelola oleh bank pembangunan BRICS dan akan didukung oleh mata uang BRICS dan hidrokarbon seperti minyak dan gas.
Apakah Anda percaya bahwa waktu untuk perubahan radikal seperti telah datang? Apakah dunia siap untuk merangkul dan alternatif terhadap dolar?
Sebagian besar pasti! Ekonomi AS sangat berhutang saat ini di sekitar tingkat GDP meningkat mereka sekitar $ 15-16.000.000.000.000. Tapi yang lebih mencolok adalah apa yang disebut kewajiban yang belum terpenuhi jangka panjang sekitar 7 kali GDP mereka.
Kantor Akuntansi Umum US digunakan untuk mempublikasikan angka-angka ini secara teratur di Internet. Selama beberapa tahun terakhir mereka telah berhenti muncul di Internet. Aku tahu, aku sudah mengatakan ini sebelumnya dan itu sedih untuk mendengarkan, tapi dolar tidak sebanding dengan kertas itu dicetak di atas.
Bahkan, satu-satunya alasan dunia belum menjatuhkan dolar sebagai mata uang referensi atau sebagai mata uang cadangan utama adalah karena sebagian besar negara memegang sejumlah besar dolar, Treasury bills dalam kas cadangan mereka. Jika dolar runtuh, sebagian besar portofolio cadangan mereka juga akan menghilang.
November lalu sekitar 47 % dari utang AS di luar negeri. China sendiri dikatakan telah memiliki sekitar 1,6 triliun pada bulan November. Sekarang mereka mungkin telah mengurangi kepemilikan tagihan Treasury menjadi sekitar 1,3 triliun. Wakil Ketua Bank Sentral China menyatakan bahwa China tidak akan lagi membeli tagihan US Treasury atau utang AS. Jadi, ini kemungkinan akan terus jatuh – proporsi Treasury bills dalam cadangan Cina.
Langkah ini oleh orang Cina, yang juga akan menyebabkan reevaluasi bertahap Yuan, membuat contoh di seluruh dunia, negara-negara lain mungkin segera menyusul. Setelah runtuh dimulai, itu akan menjadi seperti sebuah kubah dan sistem Barat mungkin hancur sangat cepat.
Pada tingkat penyalahgunaan keuangan dan ekonomi kita sedang saksikan, ekonomi keserakahan Barat, yang juga menyebabkan kerusakan, dia “dipulihkan dari (penguasaan) sumber daya dunia yang tak terbarukan”, sistem ini benar-benar tidak berkelanjutan.
Hal ini lebih karena, sistem ekonomi dan keuangan Barat saat ini hanya bertahan berkat perang. Karena ini terkait dengan dolar AS, itu terkait dengan kompleks keamanan militer AS yang mendorong ekonomi Amerika memproduksi sekitar 60 % dari GDP AS dan itu dekat dengan proporsi yang sama dari anggaran AS – Anda tentu saja akan tidak pernah menemukan gambaran ini dalam publikasi resmi.
Mata uang AS dicetak atau diproduksi secara elektronik sebagai fungsi dari kebutuhan untuk perang dan agresi di seluruh dunia (untuk perebutan sumber daya alam guna menunjang eksistensi ekonomi Barat), sementara sebagian besar penduduk Amerika tergelincir lebih dalam pada kemiskinan. Ini adalah Kekaisaran Romawi diulang lagi dan lagi, kali ini dengan lebih luas dan hasil yang jauh lebih dahsyat mengancam kehancuran peradaban manusia dan penipisan secara penuh sumber daya planet ini.
Sekarang adalah waktu untuk menghentikan kegilaan system ekonomi Barat ini.
Ya, tidak diragukan lagi, mata uang baru seperti BRICS atau jenis SDR (Special Drawing Rights) yang merupakan mata uang utama/bukan berpaku hanya pada US dolar saja, untuk mendukung nilai tukar tetap- yang nilainya didasarkan pada sekeranjang mata uang internasional utama) harus sangat diterima oleh dunia.
imf-wb-rich-poor
http://voiceofrussia.com/news/2014_01_26/Western-economic-and-financial-system-is-only-surviving-thanks-to-wars-expert-0497/

Pengertian Special Drawing Rights (SDR)

SDR adalah semacam uang giral internasional yang bisa diciptakan, sesuai dengan kebutuhan. Kurs SDR adalah indek yang tertimbang dari sekeranjang mata uang di dunia (tidak hanya menggunakan US dolar sebagai reverensi). Dengan perkataan lain nilai dari standar moneter yang baru dikaitkan dengan nilai dari sekelompok mata uang-mata uang didunia.