Jumat, 25 September 2015

Akan Terlihat Siapa Agressor Siapa Revolusioner: Catatan untuk Buya Syafii Maarif_bagian kedua

(3) Iran-Rusia, atau Israel yang Agresor?
Buya menulis (dengan berlandaskan pada tulisan pengamat politik dari kubu oposisi Suriah): ”Presiden Bashar al-Assad dengan dukungan Tehran dan Moskwa tampaknya rela melihat Suriah jadi puing perang daripada berdamai dengan lawan-lawan politik domestiknya.”
Di sini, “kesalahan” Buya (saya benar-benar mohon maaf atas penggunaan kata ini) adalah hanya mengindahkan kata-kata dari kubu oposisi saja. Bukankah Tehran dan Moskow terjun ke dalam konflik ini, setelah jihadis yang menggunakan cara-cara barbar (mengebom bunuh diri, menghancurkan infrastruktur, membunuh rakyat sipil dari berbagai agama dan mazhab, termasuk Muslim Sunni, menghancurkan masjid-masjid dan situs-situs bersejarah, serta memenggal kepala musuh-musuh mereka)? Jauh berbeda dengan AS, Inggris, Perancis, Arab Saudi, Qatar, Turki, yang sudah masuk masuk ke gelanggang sejak awal konflik.

Moaz Al Khatib bersama para pemimpin negara-negara pendukung perang Suriah (mereka menyebut diri 'Friends of Syria')
Moaz Al Khatib bersama para pemimpin negara-negara pendukung perang Suriah (mereka menyebut diri ‘Friends of Syria’: Inggris, Mesir, Mesir, Perancis, Jerman, Italia, Jordania, Qatar, Saudi Arabia, Turki, UAE, dan AS), di Roma

Pertemuan Friends of Syria di Amman
Pertemuan Friends of Syria di Amman

Hillary Clinton dalam pertemuan Friends of Syria di Tunis, 2012
Hillary Clinton dalam pertemuan Friends of Syria di Tunis, 2012


Dari sisi geopolitik, tindakan Rusia dan Iran untuk membantu Suriah adalah rasional. Bagi Rusia, Damaskus adalah sumber energi (penjelasan ada di bawah). Bagi Tehran, Damaskus adalah benteng terakhirnya di Arab dalam menghadapi Israel (tidak ada yang menyangkal permusuhan panjang Israel-Iran sejak awal kemenangan Revolusi Islam Iran 1979, kecuali para penyuka teori konspirasi abal-abal yang menyebut Iran-Israel sesungguhnya adalah sekutu dekat). Suriah berbatasan darat dengan Israel, Palestina, dan Lebanon. Posisinya sangat penting dalam perjuangan Iran menumbangkan Israel, yang sudah dikobarkannya sejak 1979. Perjuangan anti-Israel itu didasarkan pada identifikasi yang sangat tepat dari pemimpin Iran terhadap struktur dunia. (Perlu dicatat, yang dilawan Iran adalah rezim Zionis Israel, bukan Yahudi dalam makna Judaisme, karena terbukti Iran tetap melindung HAM warga negaranya yang beragama Yahudi).

Sebagaimana pernah saya jelaskan panjang lebar dalam buku saya “Ahmadinejad on Palestine”, Israel sesungguhnya adalah sumber segala konflik di muka bumi; dan Palestina dan Iran adalah salah satu korban utama dari kebijakan agresif Israel di Timteng. Bila kita melihat secara mendalam berbagai konflik di dunia, jejak-jejak Israel selalu terlihat. Jejak-jejak itu seringkali tertutupi karena Israel memanfaatkan AS. Tak heran bila profesor Hubungan Internasional dari Chicago University menulis paper berjudul “Lobby Israel dan Kebijakan Luar Negeri AS” yang menyodorkan bukti-bukti betapa kelompok-kelompok lobby pro-Israel sangat berhasil mengalihkan kebijakan politik AS menjauh dari kepentingan nasionalnya sendiri, dan pada saat yang sama, meyakinkan publik dan politisi AS akan adanya kesamaan kepentingan AS dan Israel.[1]
Misalnya, perang Irak. Atas dasar apakah AS sampai mengeluarkan 4 Trilyun dollar uang pajak rakyatnya untuk membiayai Perang Irak? Apakah rakyat Irak membahayakan warga AS? Tidak sama sekali. Yang menjadi alasan adalah agar eksplorasi minyak Irak bisa dilakukan dengan bebas oleh perusahaan-perusahaan yang sahamnya dimiliki oleh orang-orang Yahudi pro-Israel. Di masa Saddam, jalur pasokan minyak Tikrit –Haifa ditutup, dan segera setelah Saddam tewas, jalur itu dibuka dan minyak Irak dengan leluasa mengalir ke Israel.[2]
Begitupun Libya. Untuk siapakah AS menyerang Qaddafi? Siapakah yang berpesta-pora mengeksplorasi minyak di negeri yang amat kaya emas hitam (=minyak) itu? Tak lain Big Oil, yang sahamnya sebagian besar dikuasai orang-orang Zionis.

Senator AS, McCain bersama pemberontak Libya
Senator AS, McCain bersama oposisi dan pemberontak Libya

Cengkeraman bisnis raksana para pengusaha Zionis menyebar di berbagai penjuru bumi dan mereka menggunakan cara-cara kotor untuk mengeruk kekayaan; termasuk di Indonesia. Karena itulah Gilad Atzmon, penulis Yahudi kelahiran Israel yang kini menjadi pengkritik rezim Zionis, menyimpulkan, “Kita semua ini adalah bangsa Palestina dan kita memiliki satu musuh yang sama.”

Manipulasi informasi tentang Libya oleh Aljazeera
Manipulasi informasi tentang Libya oleh Aljazeera

Demo pro-Qaddafi dan anti NATO di Libya, 2011
Demo pro-Qaddafi dan anti NATO di Libya, 2011

Lalu, Suriah. Apakah warga Suriah mengancam warga AS atau Eropa? Tidak. “Perjuangan” bersenjata kelompok jihadis tak lama setelah ditandatanganinya MoU pembangunan jalur pipa gas Irak-Iran-Suriah (di Iran, 25 Juni 2011) dimana Rusia dan China menjadi salah satu pemegang saham utama.[3] Jalur ini mengancam keuntungan jalur pipa gas Nabucco–yang didukung para pengusaha Zionis—yang menyalurkan gas dari Timur Tengah dan Laut Kaspia, melewati Turki, hingga ke pasar Eropa.
Suriah adalah satu-satunya negara produsen minyak dan gas di antara negara-negara di pesisir laut Mediterania. Gas adalah primadona energi abad ke-21 karena relatif bebas polusi dan harganya pun lebih murah. Di saat yang sama, Eropa dan AS tengah dilanda krisis ekonomi, sehingga kontrol energi menjadi kunci utama bila mereka ingin bertahan sebagai penguasa dunia.
Dari penjelasan singkat ini, semoga bisa dirasakan, bahwa kalimat ini [Presiden Bashar al-Assad dengan dukungan Tehran dan Moskwa tampaknya rela melihat Suriah jadi puing perang daripada berdamai dengan lawan-lawan politik domestiknya] bak “puisi” di hadapan hitung-hitungan materiil perang. Ini adalah “pengamatan melankolis” di hadapan kerasnya kondisi riil.
Lagi pula, perdamaian apa yang dimaksud? Siapa lawan politik yang harus diajak berdamai? Kelompok oposisi demokratis dan sekuler, terbukti sudah ‘berdamai’ melalui keikutsertaan mereka dalam pemilu dan referendum. Apakah yang harus diajak berdamai itu para jihadis yang hanya menghendaki zero sum game? Analoginya, bila ada partai tertentu di Indonesia merekrut pasukan dari lebih 100 negara di dunia, mendapat pasokan senjata dan dana dari AS, Arab Saudi, Qatar, Perancis, Inggris, Jerman, lalu mengebom dan membunuhi rakyat dan tentara Indonesia, apakah yang harus dilakukan oleh Presiden Indonesia? Haruskah berdamai dengan partai itu? Bagaimana nasib dari mayoritas rakyat Indonesia yang bukan pendukung partai itu, apakah harus dipaksa menerima kepemimpinan partai buas tersebut demi ‘perdamaian’? Akal sehat akan menjawab TIDAK.
Yang sudah dilakukan Assad terkait “lawan politik” yang rasional (menghendaki win-win solution, bukan zero-sum-game ala jihadis), adalah sbb.
  1. Pada tanggal 21 April 2011, pemerintah secara resmi mengumumkan pencabutan undang-undang darurat (State Emergency Law/SEL) yang dituduh anti-HAM.
  2. Pada 26 Februari 2012, diadakan referendum yang mengesahkan UUD baru Suriah, yang antara lain membatasi masa kekuasaan presiden hanya 2 periode (1 periode = 7 tahun) dan menghapus Pasal 8 yang menyatakan bahwa Partai Baath menjadi pemimpin negara (dengan demikian, semua partai berhak jadi pemimpin, asal mendapatkan suara dalam pemilu).
  3. Pada 3 Juni 2014, diselenggarakan pemilu presiden. Jumlah rakyat yang datang ke kotak pemili mencapai 10.2 juta orang (73,42% turn-ourt vote), dan Assad meraih suara 88,7% sehingga terpilih kembali menjadi presiden. Pemilu 2014 ini diikuti 3 kandidat, yaitu Assad, Hassan Abdullah Nouri dari “National Initiative for Administration and Change in Syria” dan Maher Abd Al-Hafiz Hajjar, dari People’s Will Party. Ini adalah pemilu pertama sejak 50 tahun terakhir di Suriah yang diikuti oleh lebih dari satu kandidat.
Demonstrasi besar-besaran di Damaskus, mendukung Assad, 2012.
Demonstrasi besar-besaran di Damaskus, mendukung Assad, 2012.

Syria-pro-Assad-rally
Demonstrasi pro-Assad, untuk mengindetifikasi, perhatikan bendera yang dikibarkan. Kelompok oposisi mengibarkan bendera dengan tiga bintang.

Yang ditolak Assad adalah : berdamai dengan teroris. Inilah yang diucapkan Assad dalam wawancaranya dengan wartawan Jerman, Todenhöfer, “Kami memiliki dua sisi penyelesaian: pertama, Anda harus memerangi terorisme. Tidak ada pertanyaan soal memerangi teroris. Tidak ada di manapun di dunia. Apa yang Anda lakukan jika seseorang membunuh rakyat sipil, membunuh rakyat tak berdosa, membunuh anak-anak, dan membunuh tentara, dan polisi, dan siapa saja? Anda harus memeranginya jika dia tidak mau berdialog. Dan inilah yang sejauh ini kami saksikan. Di sisi lain, [kami] melakukan dialog dengan berbagai komponen politik dan pada saat yang sama melakukan reformasi untuk [membuka] partisipasi semua pihak. Dan rakyat yang harus memutuskan siapa yang menjadi wakil rakyat melalui kotak suara [pemilu].”[4]

Todenhöfer dan Assad
Todenhöfer dan Assad

Demo warga kota Al Qusayr yang gembira setelah kota mereka dibebaskan oleh tentara Suriah (hampir dua tahun kota ini dijadikan basis suplai senjata dan pasukan dari luar negeri oleh para “mujahidin”), 2013
Demo warga kota Al Qusayr yang gembira setelah kota mereka dibebaskan oleh tentara Suriah (hampir dua tahun kota ini dijadikan basis suplai senjata dan pasukan dari luar negeri oleh para “mujahidin”), 2013

(4) Kolaborasi Arab Saudi dan Israel
Saya tidak membantah asumsi ke-4 dari Buya ini; hanya ingin menambahkan argumen untuk memperkuatnya. Peran Arab Saudi dalam konflik ini adalah menjadi ‘tangan’ bagi Israel untuk menumbangkan Assad, dengan cara membiayai dan memfasilitasi jihadis yang berafiliasi dengan Al Qaida (yang akhirnya berubah ‘wajah’ menjadi ISIS). Meskipun secara resmi Israel dan Arab Saudi tidak memiliki hubungan diplomatik, namun kerjasama di antara keduanya tidak bisa ditutupi.[5] Di antaranya, Arab Saudi membiayai operasi-operasi intelijen Israel melawan Iran[6], Arab Saudi menyewa perusahaan keamanan Israel, G4S untuk mengamankan haji[7], dan sebaliknya, Israel membantu Arab Saudi untuk menginvasi Yaman.[8]
Lalu, mengapa Israel sangat ingin menumbangkan Assad (dan selama perang pun rumah sakit Israel merawat para jihadis yang terluka)? Dalam buku saya Prahara Suriah, saya memberikan argumen dan data bahwa ditinjau dari politik dan ekonomi, pihak yang paling diuntungkan dari tumbangnya Assad dan hancurnya Suriah adalah Israel. D
Dalam the Oded Yinon’s Plan disebutkan bahwa untuk mewujudkan Israel Raya,  negara-negara Arab perlu dipecah-pecah ke dalam negara-negara yang [lebih] kecil. Rencana ini berjalan berdasarkan dua premis; untuk bisa bertahan, Israel harus 1) menjadi sebuah imperium kekuatan regional 2) mempengaruhi pembagian seluruh kawasan ke dalam negara-negara kecil, dengan cara pembubaran semua negara-negara Arab yang ada.[9]
Selain itu, Suriah adalah ‘musuh bebuyutan’ Israel. Suriah terlibat dalam tiga perang melawan Israel, yaitu tahun 1948 (Perang Arab-Israel), 1967 (Perang 6 Hari), dan tahun 1973 (Perang Yom Kippur). Suriah juga terlibat dalam perang melawan agresi Israel di Lebanon 1982.

Penutup
Dalam kajian Resolusi Konflik, minimalnya ada empat faktor yang harus dikaji,  yaitu triggers (pemicu), pivotal factor (akar konflik), mobilizing factor (peran pemimpin), dan aggravating factor (faktor yang memperburuk atau memperuncing situasi konflik). Keempat faktor ini umumnya berjalin berkelindan dalam sebuah konflik, sehingga sering menimbulkan kesalahan persepsi. Para mediator (atau pengamat) harus mempertimbangkan keempat faktor ini untuk mendapatkan kesimpulan yang benar. Yang terjadi dalam tulisan Buya adalah kesimpangsiuran penetapan mana yang triggers, mana yang pivotal, mana mobilizing, mana aggravating. Selama identifikasi ke-4 faktor belum tepat, sulit mencari resolusi konflik (dan mungkin karena itulah akhirnya Buya hanya bisa ‘berdoa’ di akhir tulisan beliau).
Pendapat saya, dengan mempertimbangkan uraian di atas, isu Sunni-Syiah adalah triggers,  dan pivot-nya adalah kepentingan Israel yang bersekutu dengan AS, Perancis, Inggris, Arab Saudi, Qatar, dan Turki (plus negara-negara Barat lain, seperti Jerman dan Australia). Karena itu, jalan keluar dari konflik ini adalah: negara-negara asing berhenti ikut campur di Suriah. Hentikan suplai dana dan senjata kepada para jihadis; tutup pintu-pintu perbatasan Turki dan Jordan sehingga pasukan jihadis tidak terus mengalir masuk ke Suriah. Selama dana, suplai senjata, dan pasukan asing masih terus masuk ke Suriah perang tak akan berhenti karena para jihadis tidak mau bernegosiasi, hanya menghendaki zero-sum game.
Bila Israel dan sekutunya angkat kaki dari Suriah, Iran dan Rusia pun dipastikan angkat kaki. Keduanya bukan negara kaya, sehingga dipastikan akan bersikap realistis: tak akan menghamburkan uang untuk perang. Lalu, biarkan para oposisi Suriah –yang asli warga Suriah, bukan mereka yang selama ini hidup nyaman di luar negeri dan mendapat kucuran dana dari Barat untuk menggerogoti Suriah- dan yang asli ‘demokratis’ [tidak menghendaki konflik bersenjata] memperjuangkan aspirasi mereka dengan cara-cara demokratis. Bila rakyat Suriah benar-benar menghendaki kejatuhan Assad, tak akan ada yang bisa menghentikan mereka, sebagaimana yang terjadi di Iran (tergulingnya Shah Pahlevi), Tunisia (tergulingnya Ben Ali), Mesir (tergulingnya Mubarak), dan Yaman (tergulingnya Ali Abdullah Saleh).  Sebaliknya, bertahannya Assad meskipun telah diperangi 4 tahun beramai-ramai oleh negara-negara kaya sedunia -lewat tangan para jihadis asing dari lebih 100 negara dunia- seharusnya memunculkan pertanyaan bagi kaum yang berpikir

Foto atas: tentara Suriah, semua orang Suriah, Foto bawah: pemberontak Suriah, terdiri dari pasukan asing.
Foto atas: tentara Suriah, semua orang Suriah, Foto bawah: pemberontak Suriah, terdiri dari pasukan asing. Pria Chechen bernama Umar, tewas 2013


Perihal Pengungsi Suriah: Catatan Untuk Buya Syafii Maarif_bagian satu

Pengungsi Suriah = Korban Konflik Politik Bertopeng Sektarian
Dengan tidak mengurangi sedikitpun respek saya pada Buya Syafi’i Ma’arif, salah satu di antara beberapa ulama Indonesia yang paling saya hormati, berikut ini catatan saya atas tulisan beliau di Republika (8/9/2015) yang berjudul “Kepingan Neraka di Surga”. Semoga diskusi ini bisa menjadi wahana belajar bagi kita semua terkait pemetaan dan resolusi konflik. Karena cukup panjang (+3000 kata), tulisan ini akan saya bagi dua.
Tulisan Buya didasarkan setidaknya pada 4 asumsi besar, yaitu (1) kasus pengungsi di Eropa adalah klimaks dari fenomena konflik Suriah, (2) Presiden Suriah Bashar Assad adalah akar konflik (biang kerok), (3) Iran dan Rusia adalah negara agresor yang ingin memperluas kekuasaannya di Suriah, (4) Arab Saudi yang berkolaborasi dengan Israel juga ingin memperluas kekuasaannya hingga ke Suriah. Perspektif yang dipakai Buya dalam menganalisis konflik ini masih di seputar mazhab, yaitu menempatkan Iran dan Saudi sebagai negara yang “memanfaatkan” isu Syiah-Sunni untuk kepentingan kekuasaan.
Dari keempat asumsi ini, terlihat Buya memiliki pandangan yang khas, yaitu, meskipun “anti-Assad” dan “anti-Iran”, beliau dengan jernih juga melihat adanya tangan kotor Arab Saudi dan Israel di Suriah. Asumsi ke-4 ini biasanya tidak dihiraukan oleh kelompok-kelompok pendukung “jihad” Suriah; mereka umumnya sangat pro-Arab Saudi yang sejak awal konflik sudah menggelontorkan dana untuk para jihadis.
Saya akan mengkritisi keempat asumsi ini satu persatu.

(1) Problem Pengungsi
Ada yang terlewat dalam tulisan Buya yang hanya memfokuskan pada masalah pengungsian Suriah ini. Masifnya gelombang pengungsian ke Eropa dimulai sejak 2011, pasca tergulingnya Qaddafi. Sejak itu pula, sudah ribuan pengungsi dari berbagai negara mati tenggelam. Data UNHCR menyebut bahwa selama 2014 saja, total 3500 migran (dari berbagai negara) tewas dalam upaya mereka mencapai Eropa. Pada 27 Agustus 2015, dua kapal yang mengangkut 500 migran tenggelam di perairan Zuwara, Libya. Sebelumnya, pada Februari 2015, 300 migran dari Afrika Utara tenggelam di laut Mediterania, berasal dari Pantai Gading, Senegal, Gambia, Niger, Mali, dan Mauritania (data dari International Organisation for Migration-IOM). Sedemikian masifnya gelombang pengungsi dari Afrika ini, sampai-sampai Italia sejak Oktober 2013 meluncurkan operasi khusus bertajuk Mare Nostrum, segera setelah terjadinya tragedi Lampedusa di mana 366 migran tewas tenggelam.
Data dari BBC menyebutkan, sepanjang 2014-2015, pengungsi Suriah ke Eropa berjumlah 106.039 orang, Afghanistan 61.826, Pakistan 6.641, Kosovo 23.260, Eritrea 23.878, Nigeria 10.747, dan negara-negara Sub Sahara Afrika lainnya 9.766. Selain itu, lebih dari 300.000 orang meninggalkan Libya pada Januari-Agustus 2015, dan angka ini meningkat 40% dari tahun 2014.
Atas dasar ini, saya tidak melihat kasus pengungsi di Eropa ini sebagai klimaks konflik Suriah. Arus migran di Eropa adalah gambaran dari betapa banyak manusia di berbagai negara di dunia (tidak hanya Suriah) yang hidup dalam nestapa. Sehingga, yang seharusnya dilakukan adalah melihat lebih dalam, ada apa di balik di semua ini? Siapa yang berlumuran darah memicu konflik di berbagai negara di dunia? (Untuk mendapatkan jawaban lengkapnya, bisa baca buku William Blum, “Demokrasi, Ekspor AS yang Paling Mematikan”).
Khusus untuk Suriah, antara lain yang menjadi pertanyaan, mengapa media massa internasional sedemikian mem-blow-up kasus migran Suriah setelah adanya foto jasad bocah Kurdi-Suriah, Aylan, yang terdampar di pantai Turki? Ke mana saja mereka selama ini? Dan mengapa perhatian dunia seolah digiring untuk mengira bahwa pengungsi di Eropa hanya orang Suriah? Foto Aylan yang disebarluaskan secara masif di media massa mainstream, membuat sebagian rakyat Eropa ‘histeris’ dan beramai-ramai menyambut pengungsi dengan rasa haru; mereka juga menekan pemerintah mereka yang semula ‘anti-pengungsi’ (dilihat dari pidato-pidato para pemimpin Eropa, terjadi pergeseran posisi; awalnya mereka menolak tegas menampung pengungsi dengan alasan ‘kedaulatan’ atau ‘kepentingan nasional’).
Tentu di satu sisi, penerimaan (sebagian) pemerintah Eropa terhadap (sebagian) pengungsi adalah hal yang baik dan menunjukkan wajah humanis Barat. Namun, yang menyedihkan –dan banyak terlewatkan dalam analisis- adalah adanya upaya menggiring opini publik Eropa untuk mendukung serangan yang lebih masif terhadap Suriah agar Eropa tidak lagi dibanjiri pengungsi.[i]
Opini publik sangat berperan di negara-negara demokrasi mapan seperti AS dan Eropa Barat. Karena itulah dalam melancarkan perang, yang paling utama dilakukan pemerintah Barat adalah menggiring opini publik agar setuju uang pajak mereka digunakan untuk membiayai perang. Dalam agresi AS ke Irak, misalnya, disebarkan secara sangat tersistematis –bahkan dengan menggunakan kebohongan—opini bahwa Saddam adalah ancaman bagi perdamaian dunia karena memiliki senjata biologis (yang di kemudian hari tidak terbukti adanya senjata pembunuh massal tersebut). [ii]
AS pun telah berkali-kali mengancam akan menyerang Suriah dengan menggunakan isu penggunaan senjata kimia oleh Assad (tuduhan yang telah terbantahkan oleh hasil investigasi PBB). Namun, serangan itu batal karena penolakan opini publik (demo anti-perang Suriah ramai terjadi di AS pada September 2013). Upaya AS dan sekutunya (Inggris, Perancis, Jerman) untuk mendapatkan mandat PBB agar menyerang Suriah pun berkali-kali digagalkan oleh veto Rusia dan China. Skenario Libya, hingga kini belum berhasil dilakukan negara-negara NATO di Suriah. Sebagaimana kita ketahui, pada Maret 2011, NATO ‘berhasil’ mendapatkan mandat DK PBB (saat itu Rusia dan China abstain) untuk membombardir Libya. Penelitian disertasi Umar Suryadi Bakry (HI Unpad, 2013) menemukan bahwa serangan NATO telah melanggar tiga dari 4 syarat keabsahan Humanitarian Intervention (just cause, just authority, just intention, last resort).[iii]
Segera setelah Qaddafi terguling, pemerintahan interim dibentuk. Tokoh-tokoh “jihad” Libya tiba-tiba saja berubah “baju” menjadi tokoh sekuler, berjabat tangan dan tersenyum lebar dengan Hillary Clinton, memberikan konsesi-konsesi minyak dan proyek infrastruktur (membangun kembali apa-apa yang sudah dihancurkan NATO) kepada perusahaan-perusahaan Barat, dan ironisnya, berhutang kepada negara-negara yang selama ini menyimpan dana Libya (membekukan simpanan uang tersebut). Negara termakmur di Afrika itu kini hancur, menjadi penghutang, terus dilanda konflik internal, sehingga timbullah arus pengungsi ke Eropa.

Hillary Clinton bersama pasukan pemberontak Libya (Okt 2011; Qaddafi tewas 20 Okt 2011)
Hillary Clinton bersama pasukan pemberontak Libya (18 Okt 2011; Qaddafi tewas 20 Okt 2011)


U.S. Secretary of State Hillary Clinton (C) gestures with Libyan soldiers upon her departure from Tripoli in Libya October 18, 2011. REUTERS/Kevin Lamarque (LIBYA - Tags: POLITICS TPX IMAGES OF THE DAY MILITARY) - RTR2ST1X


Tokoh-tokoh jihadis Libya kemudian diketahui membentuk dan melatih milisi-milisi jihad di Suriah.[iv] Jurnalis-jurnalis independen sejak awal konflik Syria sudah menguak rencana negara-negara adidaya untuk menggulingkan Bashar Assad lewat cara militer. Pada 11 Desember 2011, Global Research memberitakan, tentara AS yang disebutkan sudah ditarik pulang, ternyata justru dipindahkan ke Yordania, tepatnya, ke Pangkalan Udara King Hussein di Al Mafraq. Laporan itu menyebutkan bahwa ratusan tentara yang berbicara dalam bahasa-bukan-Arab terlihat mondar-mandir di antara pangkalan al-Mafraq dan desa-desa di perbatasan Yordania-Syria (di kemudian hari terbukti bahwa mereka sedang melatih pasukan oposisi Suriah).[v]

Mahdi Al Harati melatih milisi Suriah (foto: cnn.com)
Mahdi Al Harati, tokoh jihadis Libya, melatih milisi Suriah (foto: cnn.com)

Tidakkah kisah ini sedemikian terang memperlihatkan siapa sebenarnya aktor utama konflik di Suriah?

(2) Apakah Semua ini Gara-Gara Assad?
Bahwa di Suriah ada kelompok oposisi, ya benar. Mana ada rezim di dunia ini yang tak menghadapi oposisi? Namun, oposisi Suriah secara garis besar ada tiga kelompok, yaitu (1) yang menghendaki perubahan rezim secara demokratis dan anti kekerasan, antara lain National Coordination Body for Democratic Change, (2) Kelompok-kelompok jihad yang berafiliasi dengan Al Qaida, yang kemudian satu sama lain saling berseteru, dua yang terbesar adalah Jabhah Al Nusra dan ISIS, di antara anasir kelompok ini adalah Hizbu Tahrir (3) Kelompok oposisi yang menurut Barat “moderat”, namun tetap angkat senjata dengan membentuk Free Syrian Army, didominasi kalangan Ikhwanul Muslimin.

Tokoh oposisi Suriah dari kubu Ikhwanul Muslimin, Moaz Al Khatib bersama Presiden Perancis, Hollande
Tokoh oposisi Suriah dari kubu Ikhwanul Muslimin, Moaz Al Khatib bersama Presiden Perancis, Francois Hollande

Moaz Al Khatib bersama Menlu AS, John Kerry
Moaz Al Khatib bersama Menlu AS, John Kerry

Kelompok kedua dan ketiga-lah yang paling “bertanggung jawab” atas terjadinya konflik bersenjata berkepanjangan di Suriah. Bila kita bandingkan dengan fenomena Arab Spring di Mesir dan Tunisia, penggulingan rezim dilakukan dengan demonstrasi masif dan tanpa perlawanan bersenjata. Namun di Suriah, demo tidak pernah bisa semasif itu. Justru demo yang sangat masif terjadi untuk mendukung Assad (dan tentu saja tidak diberitakan oleh media mainstream, maupun media Islam pro-jihadis). [vi] Persis seperti di Libya, demo anti Qaddafi sangat minor, dan rakyat tumpah ruah ke jalanan Tripoli justru untuk mendukung Qaddafi dan menolak NATO (lagi-lagi, hanya media anti-mainstream yang memberitakannya, dengan mengirim langsung jurnalis-jurnalis independen; misalnya Mahdi Darius Nazemroaya dari globalresearch.ca dan Thierry Mayssan dari voltairenet.org). [vii]
Pada tahun 1982, Ikhwanul Muslimin pernah melakukan upaya kudeta dan menguasai kota Hama. Presiden Hafez Al Assad (ayah Bashar Assad) membalasnya dengan membombardir kota itu sehingga ribuan orang tewas. Aktivis-aktivis IM juga banyak yang dihukum mati. Untuk menyikapi peristiwa ini, paradigma kita sangat berpengaruh. Para pendukung IM dan “khilafah/syariat” akan habis-habisan membela IM dan mengecam Assad. Sebaliknya, ditinjau dari perspektif realis, sikap Hafez Assad berkorelasi dengan upaya “mempertahankan kepentingan nasional”. UUD Syria pasal 1 menyebutkan “Republik Arab Syria adalah sebuah negara demokratis, kerakyatan, sosialis, dan berdaulat.”
Analoginya, di Indonesia sejak 1945 sudah disepakati bahwa dasar negara adalah Pancasila dan UUD 1945. Lalu bila tiba-tiba ada kelompok yang melancarkan serangan bersenjata untuk membentuk Kekhilafahan Indonesia, apakah yang akan dilakukan oleh rezim yang berkuasa? Pembahasannya tidak saya tuliskan di sini karena saya hanya sedang berupaya menunjukkan konteks kejadian pemberontakan IM dan pemberangusan yang dilakukan Hafez Assad.
Sekarang mari kita lihat sekilas data statistik di masa Bashar Assad (anak Hafez Assad yang menjadi presiden sejak tahun 2000 ; selanjutnya saat saya menyebut Assad, yang saya maksud adalah Bashar). Selama Assad memerintah, sebelum kaum oposisi angkat senjata tahun 2011, sama sekali tidak ada data adanya “kekejaman pemerintah” terhadap rakyat sipil.[viii] Justru setelah oposisi angkat senjata, dengan merekrut pasukan dari lebih 100 negara, terjadi pembunuhan masif terhadap rakyat sipil dan tentara, serta 50% warga Suriah yang menjadi pengungsi. Informasi tentang ‘kekejaman’ Assad berkali-kali terbukti merupakan informasi palsu (misalnya, foto jasad korban tentara AS di Irak, disebut sebagai korban pembunuhan massal oleh Assad). [ix] Padahal, sebelum 2011, Suriah justru menjadi rumah bagi pengungsi Palestina dan Irak, mereka tidak tinggal di tenda, melainkan di gedung-gedung beton. Suriah pula yang menjadi pusat aktivitas Hamas di luar Palestina (sebelum kemudian mereka berkhianat dan bergabung dengan pemberontak Suriah).

perumahan pengungsi palestina di Syria, stlh terjadi pertempuran antara jihadis (yg meniduduki lokasi) melawan tentara.
perumahan pengungsi palestina di Syria, stlh terjadi pertempuran antara jihadis (yg meniduduki lokasi) melawan tentara, 2012; saat ini kondisinya sudah hancur lebur.

Akan Terlihat Jelas Siapa yang Otoriter Siapa yang Revolusioner?

Sering saya temukan, ketika saya (atau orang lain) menulis “Barat ada di balik konflik negara X”, muncul bantahan seperti ini “Jangan nyalah-nyalahin Barat! Itu kan salah warga negara X sendiri karena..bla..bla..” atau “Anda ini pakai teori konspirasi!” atau kecaman senada dengan berbagai model. Saya sungguh heran, di zaman internet begini, masih juga banyak yang belum paham bahwa dunia sudah jauh berubah. Tidak ada konflik yang berdiri sendiri di era globalisasi ini.
Tentu saja, yang dimaksud ‘Barat’ adalah politisi, korporasi, media mainstream yang memang sangat krusial perannya dalam konflik. Jadi, sangat tidak setara (not apple-to-apple; qiyas ma’al faariq) bila kita bilang Barat itu ‘baik’ hanya dengan bukti betapa baiknya rakyatnya (civil society) mengurusi para pengungsi. Ya, secara kemanusiaan, sangat mungkin civil society di Barat sangat humanis dan baik hati. Tapi kita sedang bicara soal politik internasional, soal siapa yang mendalangi perang.
Buku-buku sudah banyak ditulis juga oleh orang Barat sendiri, betapa memang tangan-tangan Barat berlumuran darah di berbagai konflik, mulai dari Asia hingga Afrika, dan bahkan Eropa (misal, Ukraina). Contoh konkritnya, Suriah. Seharusnya dengan cepat bisa ditangkap ada bau amis di balik konflik ini: para jihadis itu datang dari berbagai penjuru dunia, bukan orang Suriah asli. Website SOHR (Syrian Observatory for Human Rights – ini lembaga sangat anti-Assad) menyebutkan bahwa 90% petempur dari pihak “Rezim” adalah rakyat Suriah asli. Sebaliknya, 70% petempur dari pihak pemberontak adalah orang-orang asing/bukan warga Suriah.
Tak heran bila Assad berkata, “Apakah pantas konflik ini disebut sebagai “Revolusi” sementara kita tahu para pemberontak mayoritasnya bukanlah rakyat Suriah, melainkan para milisi asing yang berasal dari lebih 83 negara dan mendapat support senjata dan finansial dari luar. Revolusi biasanya dilakukan oleh rakyat, bukan oleh para militan asing yang datang memberontak melawan rakyat,”
Maaf ya, jihadis itu digaji ratusan hingga ribuan dollar, bro.. nggak gratisan. Senjata dan bom juga harus dibeli. Yang namanya perang itu mahal sekali, amat mahal. Jadi, sudah pasti ada yang mendanai. Ga mungkin gratisan lillahi ta’ala. Lalu, siapa donaturnya? Gampang sekali, lihat siapa yang bersikukuh menginginkan pergantian rezim di sebuah negara?
Contohnya, Libya, yang katanya juga jihad menggulingkan Qaddafi (padahal, hanya segelintir kelompok yang “berjihad” lalu minta bantuan NATO). Libya dulu adalah negara negara paling makmur se-Afrika (mobil aja dikasih gratis, apalagi yang lain, kesehatan, pendidikan, dll). Setelah Qaddafi tumbang, siapa yang menguasai proyek-proyek infrakstruktur (membangun kembali apa-apa yang sudah hancur dibom NATO dan jihadis)? Siapa yang rame-rame mengeksplorasi minyak di sana? Siapa yang lebih dulu salaman dengan para jihadis? Tak lain tak bukan, Hillary Clinton. Googling saja. Lalu, ente masih bilang, “Ini semua gara-gara rakyat Libya yang bodoh, berantem satu sama lain, ga ada urusannya dengan Barat”?!
U.S. Secretary of State Hillary Clinton (C) gestures with Libyan soldiers upon her departure from Tripoli in Libya October 18, 2011. REUTERS/Kevin Lamarque (LIBYA - Tags: POLITICS TPX IMAGES OF THE DAY MILITARY) - RTR2ST1X
U.S. Secretary of State Hillary Clinton (C) gestures with Libyan soldiers upon her departure from Tripoli in Libya October 18, 2011.
REUTERS/Kevin Lamarque (LIBYA – Tags: POLITICS TPX IMAGES OF THE DAY MILITARY) – RTR2ST1X

Hillary Clinton bersama pasukan pemberontak Libya (Okt 2011; Qaddafi tewas 20 Okt 2011)
Hillary Clinton bersama pasukan pemberontak Libya (Okt 2011; Qaddafi tewas 20 Okt 2011)

Senator McCain bersama pasukan pemberontak Libya
Senator McCain bersama pasukan pemberontak Libya

Terakhir, bagaimana dengan Iran? Dalam beberapa tulisan, Iran disalahkan dengan logika: kalau Iran-Syiah tidak bantu Assad-Syiah, tentu sekarang jihadis sudah menang dan khilafah Islam sudah tegak, tidak ada lagi pengungsi. Plis deh stop mikir sektarian yang -maaf- kampungan sekali ini. Banyak pengamat sudah berbusa-busa nulis soal geopolitik, situ masih juga berargumen ala abad pertengahan. Gini nih cara melihatnya, yang agak sohisticated: Iran dan Hizbullah membantu Suriah karena memang sangat terkait dengan keamanan mereka sendiri. Bila Suriah tumbang dan dikuasai rezim boneka Barat (seperti terjadi di Libya), Hizbullah akan sangat terancam (Israel akan mudah kembali mencaplok Lebanon). Bila Suriah tumbang, serangan ke Iran pun semakin “mudah” karena praktis Iran sudah dikepung basis militer AS (lihat peta). Belum lagi faktor Palestina (tapi terlalu panjang kalau dibahas di sini). Dan yang pasti, Iran dan Hizbullah masuk ke medan perang setelah Assad kepepet, jauh beda dengan AS, Inggris, Perancis, Saudi, Qatar, dan Turki yang sejak awal sudah membacking pasukan oposisi sekuler maupun jihadis.

US military base
Foto: tanda bintang di peta menunjukkan keberadaan pangkalan militer AS.


Melihat konflik itu harus lihat big picture-nya, jangan sepotong kecil di peta lalu menggeneralisasi. Poin saya adalah: bahwa sekarang “Barat” membantu para pengungsi Suriah, patut diapresiasi, tapi jangan lupakan bahwa yang terpenting -HARUS- dilakukan para pemimpin Barat supaya tidak ada lagi pengungsi adalah menghentikan support mereka (termasuk memaksa sekutu-sekutu mereka, Arab dan Turki agar juga berhenti menyuplai dana dan sejata) kepada para jihadis agar perang bisa berhenti

Minggu, 03 Mei 2015

Siapakah Boko Haram Sebenarnya?

Milisi Boko Haram
Beberapa pekan ini pemberitaan tentang Boko Haram cukup ramai di media internasional. Tetapnya setelah kasus penculikan lebih dari 200 pelajar putri yang dilakukan oleh kelompok ini. Sekali lagi Islam dan umat Islam tercoreng, karena mereka mengklaim memperjuangkan Islam dan umatnya yang tertindas di Nigeria.
Boko Haram tidaklah mewakili Islam atau umat Islam. Organisasi ini hanyalah bikinan pihak-pihak yang sedang melakukan konspirasi merusak persatuan Nigeria dan melemahkan wilayah utara secara politik, ekonomi, dan keamanan. Namun secara langsung juga berefek pada membuat buruk citra Islam di mata dunia.
Demikiaan dikatakan Daud Imram Malasa, seorang aktivis Islam dan ketua umum Organisasi Persatuan Muslimin Nigeria, dalam artikelnya yang dirilis oleh Islamion, Ahad (11/5/2014) yang lalu. Daud juga menantang media mainstream untuk berani mempublikasikan kejadian sebenarnya. Misalnya berkali-kali kepolisian menangkap beberapa anggota Boko Haram, ternyata kemudian diketahui beragama Kristen.
Penyokong dana Boko Haram, menurut Daud, juga adalah seorang jenderal purnawirawan bernama Jeremiah Useni. Dia adalah seorang agen beragama Kristen yang bekerja pada badan intelijen asing. Dia jugalah yang membela Muhammad Yusuf, pendiri Boko Haram sebelum meninggal. Kematian Yusuf juga banyak dinilai pengamat dan aktivis HAM sebagai sebuah konspirasi untuk menutupi rahasia Boko Haram yang sebenarnya. Yusuf mati terbunuh setelah menyerahkan diri kepada kepolisian.
Banyak pihak mengatakan bahwa ayah Yusuf adalah anggota organisasi radikal dan teroris, Maitatsine. Pemimpin organisasi ini juga mati terbunuh. Dia adalah seorang beragama Kristen yang memakai nama Islam. Organisasi ini telah membunuh ribuan umat Islam dan ratusan orang Kristen. Slogan yang dibawanya juga sama dengan Boko Haram, yaitu memperjuangkan diterapkannya Syariah Islam di Nigeria. Tapi kemudian publik mengetahui bahwa pemimpin organisasi ini adalah Mohammed Marwa. Dia adalah seorang beragama Kristen yang belajar Al-Qur’an dan beberapa ilmu Islam untuk melaksanakan agenda asing menghancurkan fenomena kebangkitan Islam di utara Nigeria. Peristiwa itu terjadi antara tahun 1970-1980 an.
Yang aneh, Boko Haram muncul setelah adanya deklarasi penerapan Syariah Islam di wilayah utara Nigeria dan kuatnya fenomena kebangkitan Islam. Saat itu banyak program charity dan pendidikan Islam baik berasal dari pemerintah maupun non pemerintah merebak luas di wilayah utara tersebut. Namun setelah kehadiran Boko Haram, semua itu hilang. Bahkan program penerapan Syariah juga terhenti. Ratusan sekolah Islam ditutup, demikian juga banyak yayasan Islam dibubarkan. Bahkan para aktivis dakwah Islam juga banyak yang ditangkap. Sebenarnya apa tujuan Boko Haram ini?

Minggu, 15 Februari 2015

Permusuhan Yahudi-Muslim Tidak Hanya Isu Perbatasan


Permusuhan Yahudi terhadap Islam sudah terkenal dan ada sejak dahulu kala. Dimulai sejak dakwah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan mungkin juga sebelumnya bahkan sebelum kelahiran beliau. Hal ini mereka lakukan karena khawatir dari pengaruh dakwah islam yang akan menghancurkan impian dan rencana mereka. Namun dewasa ini banyak usaha menciptakan opini bahwa permusuhan yahudi dan islam hanyalah sekedar perebutan tanah dan perbatasan Palestina dan wilayah sekitarnya, bukan permasalahan agama dan sejarah kelam permusuhan yang mengakar dalam diri mereka terhadap agama yang mulia ini.

Padahal pertarungan kita dengan Yahudi adalah pertarungan eksistensi, bukan persengkataan perbatasan. Musuh-musuh islam dan para pengikutnya yang bodoh terus berupaya membentuk opini bahwa hakekat pertarungan dengan Yahudi adalah sebatas pertarungan memperebutkan wilayah, persoalan pengungsi dan persoalan air. Dan bahwa persengketaan ini bisa berakhir dengan (diciptakannya suasana) hidup berdampingan secara damai, saling tukar pengungsi, perbaikan tingkat hidup masing-masing, penempatan wilayah tinggal mereka secara terpisah-pisah dan mendirikan sebuah Negara sekuler kecil yang lemah dibawah tekanan ujung-ujung tombak zionisme, yang kesemua itu (justeru) menjadi pagar-pagar pengaman bagi Negara zionis.

Mereka semua tidak mengerti bahwa pertarungan kita dengan Yahudi adalah pertarungan lama semenjak berdirinya Negara islam diMadinah dibawah kepemimpinan utusan Allah bagi alam semesta yaitu Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam

Demikianlah permusuhan dan usaha mereka merusak Islam sejak berdirinya Negara islam bahkan sejak Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam hijrah ke Madinah sampai saat ini dan akan berlanjut terus. Walaupun tidak tertutup kemungkinan mereka punya usaha dan upaya memberantas islam sejak kelahiran beliau n . hal ini dapat dilihat dalam pernyataan pendeta Buhairoh terhadap Abu Thalib dalam perjalanan dagang bersama beliau diwaktu kecil. Allah Ta’ala telah jelas-jelas menerangkan permusuhan Yahudi dalam firmanNya:

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. (Qs. 5:82) Melihat demikian panjangnya sejarah dan banyaknya bentuk permusuhan Yahudi terhadap Islam dan Negara Islam, maka kami ringkas dalam 3 marhalah;

Marhalah pertama: Upaya Yahudi dalam menghalangi dakwah Islam di masa awal perkembangan dakwah islam dan cara mereka dalam hal ini.
Diantara upaya Yahudi dalam menghalangi dakwah Islam di masa-masa awal perkembangannya adalah:

1. Pemboikotan (embargo) Ekonomi:

Kaum muslimin ketika awal perkembangan islam di Madinah sangat lemah perekonomiannya. Kaum muhajirin datang ke Madinah tidak membawa harta mereka dan kaum Anshor yang menolong mereka pun bukanlah pemegang perekonomian Madinah. Oleh karena itu Yahudi menggunakan kesempatan ini untuk menjauhkan kaum muslimin dari agama mereka dan melakukan embargo ekonomi. Para pemimpin Yahudi enggan membantu perekonomian kaum muslimin dan ini terjadi ketika Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengutus Abu Bakar menemui para pemimpin Yahudi untuk meminjam dari mereka harta yang digunakan untuk membantu urusan beliau dan berwasiat untuk tidak berkata kasar dan tidak menyakiti mereka bila mereka tidak memberinya.

Ketika Abu Bakar masuk Bait Al Midras (tempat ibadah mereka) mendapati mereka sedang berkumpul dipimpin oleh Fanhaash –tokoh besar bani Qainuqa’- yang merupakan salah satu ulama besar mereka didampingi seorang pendeta yahudi bernama Asy-ya’. Setelah Abu Bakar menyampaikan apa yang dibawanya dan memberikan surat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam kepadanya. Maka ia membaca sampai habis dan berkata:

Robb kalian butuh kami bantu! Tidak hanya sampai disini saja, bahkan merekapun enggan menunaikan kewajiban yang harus mereka bayar, seperti hutang, jual beli dan amanah kepada kaum muslimin. Berdalih bahwa hutang, jual beli dan amanah tersebut adanya sebelum islam dan masuknya mereka dalam islam menghapus itu semua.
Oleh karena itu Allah berfirman:

Di antara Ahli Kitab ada orang yang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaranmereka mengatakan:”Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi. Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui. (Qs. 3:75) 
 
2. Membangkitkan fitnah dan kebencian:

Yahudi dalam upaya menghalangi dakwah islam menggunakan upaya menciptakan fitnah dan kebencian antar sesama kaum muslimin yang pernah ada di hati penduduk Madinah dari Aus dan Khodzraj pada masa jahiliyah. Sebagian orang yang baru masuk islam menerima ajakan Yahudi, namun dapat dipadamkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam . diantaranya adalah kisah yang dibawakan Ibnu Hisyam dalam Siroh Ibnu Hisyam (2/588) ringkas kisahnya:

Seorang Yahudi bernama Syaas bin Qais mengutus seorang pemuda Yahudi untuk duduk dan bermajlis bareng dengan kaum Anshor, kemudian mengingatkan mereka tentang kejadian perang Bu’ats hingga terjadi pertengkaran dan mereka keluar membawa senjata-senjata masing-masing. Lalu hal ini sampai pada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. maka beliau shallallahu ’alaihi wa sallam segera berangkat bersama para sahabat muhajirin menemui mereka dan bersabda:

“Wahai kaum muslimin alangkah keterlaluannya kalian, apakah (kalian mengangkat) dakwah jahiliyah padahal aku ada diantara kalian setelah Allah tunjuki kalian kepada Islam dan muliakan kalian, memutus perkara Jahiliyah dan menyelamatkan kalian dari kekufuran dengan Islam serta menyatukan hati-hati kalian.”

Lalu mereka sadar ini adalah godaan syetan dan tipu daya musuh mereka, sehingga mereka mengangis dan saling rangkul antara Aus dan Khodzroj. Lalu mereka pergi bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dengan patuh dan taat yang penuh. Lalu Allah turunkan firmanNya:

Katakanlah: ”Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang kamu kerjakan. Katakanlah:”Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan.” Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (Qs. 3:99) 
 
3. Menyebarkan keraguan pada diri kaum muslimin:

Orang Yahudi berusaha memasukkan keraguan di hati kaum muslimin yang masih lemah imannya dengan melontarkan syubhat-syubhat yang dapat menggoyahkan kepercayaan mereka terhadap islam. Hal ini dijelaskan Allah dalam firmanNya:

Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mu’min) kembali (kepada kekafiran). (Qs. 3:72). 
 
Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini dengan pernyataan: Ini adalah tipu daya yang mereka inginkan untuk merancukan perkara agama islam kepada orang-orang yang lemah imannya. Mereka sepakat menampakkan keimanan di pagi hari (permulaan siang) dan sholat subuh bersama kaum muslimin. Lalu ketika diakhir siang hari (sore hari) mereka murtad dari agama Islam agar orang-orang bodoh menyatakan bahwa mereka keluat tidak lain karena adanya kekurangan dan aib dalam agama kaum muslimin.

4. Memata-matai kaum Muslimin:

Ibnu Hisyam menjelaskan adanya sejumlah orang Yahudi yang memeluk Islam untuk memata-matai kaum muslimin dan menukilkan berita Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan yang ingin beliau lakukan kepada orang Yahudi dan kaum musyrikin, diantaranya: Sa’ad bin Hanief, Zaid bin Al Lishthi, Nu’maan bin Aufa bin Amru dan Utsmaan bin Aufa serta Rafi’ bin Huraimila’. Untuk menghancurkan tipu daya ini Allah berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaan orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata:”Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka):
”Marilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. (Qs. 3:118-119) 
 
5. Usaha memfitnah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam:

Orang Yahudi tidak pernah henti berusaha memfitnah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, diantaranya adalah kisah yang disampaikan Ibnu Ishaaq bahwa beliau berkata: Ka’ab bin Asad, Ibnu Shaluba, Abdullah bin Shurie dan Syaas bin Qais saling berembuk dan menghasilkan keputusan berangkat menemui Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam untuk memfitnah agama beliau. Lalu mereka menemui Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan berkata:

Wahai Muhammad engkau telah tahu kami adalah ulama dan tokoh terhormat serta pemimpin besar Yahudi, Apabila kami mengikutimu maka seluruh Yahudi akan ikut dan tidak akan menyelisihi kami. Sungguh antara kami dan sebagian kaum kami terjadi persengketaan. Apakah boleh kami berhukum kepadamu lalu engkau adili dengan memenangkan kami atas mereka? Maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam enggan menerimanya. Lalu turunlah firman Allah:

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kemu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati. hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (Qs. 5:49)
Semua usaha mereka ini gagal total dihadapan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan Allah membalas makar mereka ini dengan menimpakan kepada mereka kerendahan dan kehinaan.

Marhalah kedua:
Masa perang senjata antara Yahudi dan Muslimin di zaman Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.

Orang Yahudi tidak cukup hanya membuat keonaran dan fitnah kepada kaum muslimin semata bahkan merekapun menampakkan diri bergabung dengan kaum musyrikin dengan menyatakan permusuhan yang terang-terangan terhadap islam dan kaum muslimin. Namun Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam tetap menunggu sampai mereka melanggar dan membatalkan perjanjian yang pernah dibuat diMadinah. Ketika mereka melanggar perjanjian tersebut barulah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan tindakan militer untuk menghadapi mereka dan mengambil beberapa keputusan untuk memberikan pelajaran kepada mereka. Diantara keputusan penting tersebut adalah:
Pengusiran Bani Qainuqa’
Pengusiran bani Al Nadhir
Perang Bani Quraidzoh
Penaklukan kota Khaibar
Setelah terjadinya hal tersebut maka orang Yahudi terusir dari jazirah Arab.

Marhalah ketiga:

Tipu daya dan makar mereka terhadap islam setelah wafat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.

Orang Yahudi memandang tidak mungkin melawan Islam dan kaum muslimin selama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam masih hidup. Ketika Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam wafat, orang Yahudi melihat adanya kesempatan untuk membuat makar kembali terhadap Islam dan muslimin. Mereka mulai merencanakan dan menjalankan tipu daya mereka untuk memalingkan kaum muslimin dari agamanya. Namun tentunya mereka lakukan dengan lebih baik dan teliti dibanding sebelumnya. Sebagian target mereka telah terwujud dengan beberapa sebab diantaranya:
Kaum muslimin kehilangan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.
Orang Yahudi dapat mengambil pelajaran dan pengalaman dari usaha-usaha mereka terdahulu sehingga dapat menambah hebat makar dan tipu daya mereka.
Masuknya sebagian orang Yahudi ke dalam Islam dengan tujuan memata-matai kaum muslimin dan merusak mereka dari dalam tubuh kaum muslimin.

Memang berbicara tentang tipu daya dan makar Yahudi kepada kaum Muslimin sejak wafat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam hingga kini membutuhkan pembahasan yang panjang sekali. Namun rasanya cukup memberikan 3 contoh kejadian besar dalam sejarah Islam untuk mengungkapkan permasalahan ini. Yaitu:
Fitnah pembunuhan khalifah Utsman Ini adalah awal keberhasilan Yahudi dalam menyusup dan merusak Islam dan kaum muslimin. Tokoh yahudi yang bertanggung jawab terjadinya peristiwa ini adalah Abdullah bin Saba’ yang dikenal dengan Ibnu Sauda’. Kisahnya cukup masyhur dan ditulis dalam kitab-kitab sejarah Islam.

Fitnah Maimun Al Qadaah dan perkembangan sekte Bathiniyah. Keberhasilan Abdullah bin Saba’ membuat fitnah di kalangan kaum Muslimin dan mengajarkan saba’isme membuat orang Yahudi semakin berani. Sehingga belum habis fitnah Sabaiyah mereka sudah memunculkan tipu daya baru yang dipimpin seorang Yahudi bernama Maimun bin Dieshaan Al Qadaah dengan membuat sekte Batiniyah di Kufah tahun 276 H. Imam Al Baghdadi menceritakan: Diatara orang yang membangun sekte Bathiniyah adalah Maimun bin Dieshaan yang dikenal dengan Al Qadaah seorang maula bagi Ja’far bin Muhammad Al Shodiq yang berasal dari daerah Al Ahwaaz dan Muhammad bin Al Husein yang dikenal dengan Dandaan. Mereka berkumpul bersama Maimun Al Qadah di penjara Iraaq lalu membangun sekte Bathiniyah.Tipu daya Yahudi ini terus berjalan dalam bentuk yang beraneka ragam sehingga sekte ini berkembang menjadi banyak sekali sektenya dalam kaum muslimin, sampai-sampai menghalalkan pernikahan sesama mahrom dan hilangnya kewajiban syariat pada seseorang.
Penghancuran kekhilafahan Turki Utsmani ditangan gerakan Masoniyah dan akibat yang ditimbulkan berupa perpecahan kaum muslimin.Orang Yahudi mengetahui sumber kekuatan kaum muslimin adaalh bersatunya mereka dibawah satu kepemimpinan dalam naungan kekhilafahan Islamiyah. Oleh karena mereka segera berusaha keras meruntuhkan kekhilafahan yang ada sejak zaman Khulafa’ Rasyidin sampai berhasil menghapus dan meruntuhkan negara Turki Utsmaniyah. Orang Yahudi memulai konspirasinya dalam meruntuhkan Negara Turki Utsmaniyah pada masa sultan Murad kedua (tahun 834-855H) dan setelah beliau pada masa sultan Muhammad Al Faatih (tahun 855-886H) yang meningal diracun oleh Thobib beliau seorang Yahudi bernama Ya’qub Basya. Demikian juga berhasil membunuh Sultan Sulaiman Al Qanuni (tahun 926-974H) dan para cucunya yang diatur oleh seorang Yahudi bernama Nurbaanu. Konspirasi Yahudi ini terus berlangsung di masa kekhilafahan Utsmaniyah lebih dari 400 tahunan hingga runtuhnya di tangan Mushthofa Ataturk. Orang Yahudi dalam menjalankan rencana tipu daya mereka menggunakan kekuatan berikut ini:
Yahudi Al Dunamah. Diantara tokohnya adalah Madhaat Basya dan Mushthofa Kamal Ataturk yang memiliki peran besar dan penting dalam penghancuran kekhilafahan Utsmaniyah.
Salibis Eropa yang sangat membenci islam dan kaum muslimin dengan melakukan perjanjian kerjasama dengan beberapa Negara eropa yaitu Bulgaria, Rumania, Namsa, Prancis, Rusia, Yunani dan Italia.
Organisasi bawah tanah/rahasia, khususnya Masoniyah yang terus berusaha merealisasikan tujuan dan target Zionis.
Usaha-usaha Musthofa Kamal Basya Ataturk dalam menghancurkan kekhilafahan setelah berhasil menyingkirkan sultan Abdulhamid kedua adalah:
Pada awal November 1922 M ia menghapus kesultanan dan membiarkan kekhilafahan
Pada tanggal 18 November 1922M ia mencopot Wahieduddin Muhammad keenam dari kekhilafahan.
Pada Agustus 1923 M ia mendirikan Hizb Al Sya’b Al Jumhuriah (Partai Rakyat Republik) dengan tokoh-tokoh pentingnya kebanyakan dari Yahudi Al Dunamah dan Masoniyah.
Pada tanggal 20 oktober 1923 M Republik Turki diresmikan dan Al Jum’iyah Al Wathoniyah (Organisasi nasional) memilih Musthofa Kamal sebagai presiden Turki.
Pada tanggal 2 Maret 1924 M Kekhilafahan dihapus total.
Demikianlah sempurna sudah keinginan orang-orang Yahudi untuk menjadikan kekhilafahan sebagai Negara sekuler yang dipimpin seorang Yahudi yang berkedok muslim.
Mudah-mudahan ringkas sejarah permusuhan Yahudi ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan dapat menjadi pelajaran bagi kaum muslimin.


Penulis: Ustadz Khalid Syamhudi, Lc. Artikel UstadzKholid.com
Dari artikel Permusuhan Yahudi Terhadap Islam Dalam Sejarah — Muslim.Or.Id

Jumat, 06 Februari 2015

Propaganda Jahat Menghantam Syria


Masih ingat kasus Nariyah? Itu adalah seorang wanita yang mengaku sebagai perawat Kuwait yang bersaksi bahwa tentara Irak melempar keluar 312 bayi dari inkubatornya hingga tewas setelah pasukan Irak menginvasi Kuwait tahun 1991.
Media massa Amerika menayangkan kesaksian tersebut selama berbulan-bulan, mengakibatkan publik Amerika marah kepada pemerintahan Saddam Hussein di Irak dan merestui tentara Amerika melakukan serangan terhadap Irak hingga berkobar Perang Teluk I yang menewaskan puluhan ribu warga Irak.
Namun kemudian terbongkar kebenaran bahwa Nariyah adalah seorang perawat palsu. Ia tidak pernah berada di Kuwait saat terjadi serangan Irak. Ia bukan perawat dan ia adalah putri dari dubes Kuwait di Amerika, Saud bin Nasir Al-Sabah. Saat kebenaran itu terkuak, kehancuran telah terjadi di Irak. Dan kini propaganda palsu yang sama tengah dilancarkan Amerika dan sekutu-sekutunya atas Syria.
Pertama kasus anak-anak Daraa. Pada awal terjadinya kerusuhan di Syria bulan Maret 2011, media massa barat dan “underbow”-nya di berbagai belahan bumi termasuk di Indonesia, gencar memberitakan kisah tentang beberapa pelajar dari kota Daraa yang menulis di tembok bangunan tulisan yang berbunyi “Rakyat menginginkan pemerintahan jatuh”. Akibat tulisan tersebut mereka ditangkap oleh aparat keamanan dan disiksa dengan berbagai cara, termasuk dengan mencabut kuku-kuku mereka. Setelah dua tahun, tidak pernah diketahui di mana anak-anak itu sekarang, termasuk wajah dan identitas mereka, termasuk tidak diketahui siapa yang pertama kali menuliskan cerita ini. Anak-anak itu bagaikan cerita hantu.

Kedua kasus kematian Hamza Alkhatib, seorang remaja yang tewas dimutilasi di Daraa pada awal kerusuhan. Cerita yang beredar adalah bahwa ketika mulai terjadi kerusuhan, tentara membunuhnya dan menyembunyikan mayatnya selama beberapa hari. Kemudian mereka menyerahkan mayat yang telah termutilasi ini kepada keluarganya sehingga menimbulkan kemarahan warga yang berakibat kerusuhan yang semakin meluas. Cerita ini tentu saja sangat tidak rasional. Kalau tentara benar-benar membunuhnya, mengapa mereka harus memutilasinya dan menyembunyikan mayatnya selama beberapa hari dan kemudian menyerahkan kepada keluarganya saat kondisi tengah rusuh? Cerita tersebut juga tidak sejalan dengan fakta bahwa orang tua Hamza telah bertemu dengan Presiden Bashar al Assad dan kemudian berkata, “Saya tidak akan mengijinkan siapapun memanfaatkan kematian anak saya. Saya tidak percaya tentara telah membunuhnya, dan Presiden telah menjanjikan penyidikan atas kasus ini.”
Ketiga kasus kematian bayi dalam inkubator di Hama. Ceritanya  berbeda sedikit saja dengan kasus Nariyah, yaitu tentara Syria memasuki rumah sakit kemudian mematikan lampu penghangat inkubator sehingga menewaskan bayi-bayi di dalamnya. Cerita ini beredar seiring beredarnya sebuah foto di dunia maya yang ternyata diambil dari Alexandria, Mesir. Tidak ada seorang saksi pun yang membenarkan kebenaran foto tersebut dan tidak ada satu keluarga pun di Syria yang mengakui bayinya meninggal di dalam inkubator. Setidaknya dalam kasus Nariyah terdapat seorang saksi, meski kemudian terbukti sebagai saksi palsu, yaitu Nariyah si putri duta besar.
Keempat adalah kasus blogger lesbian bernama Amina Arraf. Cerita yang beredar adalah seorang blogger lesbian Syria bernama Amina Arraff ditangkap polisi Syria karena memposting tulisan-tulisan anti pemerintah. Ia disiksa dalam penjara dan ceritanya beredar di Facebook hingga menarik pengikut lebih dari 220 ribu orang “facebooker” di seluruh dunia. Cerita tersebut bahkan mendapat tempat di media-media mapan seperti BBC, CNN, The Guardians, FOX dan lain-lain. Namun ternyata cerita tersebut hanya ilusi seorang laki-laki Amerika yang bosan dengan hidupnya dan berusaha mendapatkan kesenangan instan melalui media sosial.
Kelima adalah pembantaian Zainab Al-Hosni, seorang wanita dari kota Homs. Cerita yang beredar bersama video yang diunggah di YouTube adalah mayat Zainab yang ditemukan dengan tubuhnya yang telah dimutilasi. Pengambil gambar video terdengar meneriakkan kata-kata sumpah serapah kepada satu golongan etnis tertentu yang dianggapnya sebagai pembantai Zainab. Namun kemudian terungkap bahwa Zainab masih hidup. Dengan KTP yang sama dengan identitas Zainab Al-Hosni yang dinyatakan sebagai korban pembantaian, Zainab asli mengaku dalam wawancara dengan televisi Syria bahwa dirinya telah lari dari keluarganya karena alasan pribadi. Hingga saat ini tidak diketahui identitas sebenarnya dari mayat termutilasi yang beredar di YouTube serta orang yang mengambil gambar dan meng-up-load-nya ke YouTube.

REF:
“Syria: Top Five Propoganda Stories”; thetruthseeker.co.uk; 6 April 2013

Suriah: Korban Konspirasi Jahat

 “Some of the US forces that left the Ain al-Assad Air base in Iraq last Thursday, did not come back to the USA or its base in Germany, but were transferred to Jordan during the evening hours.”(Global Research, 12 Desember 2011).




Berita-berita dari luar media mainstream mulai menguak rencana negara-negara adidaya untuk menggulingkan Bashir Al Assad, Presiden Syria. Tentara AS yang konon sudah ditarik pulang, ternyata justru dipindahkan ke Yordania. Tepatnya, ke Pangkalan Udara King Hussein di Al Mafraq. Laporan lain menyebutkan bahwa ratusan tentara yang berbicara dalam bahasa-bukan-Arab terlihat mondar-mandir di antara pangkalan al-Mafraq dan desa-desa di perbatasan Yordania-Syria. Menurut Global Research, disinyalir, tentara-tentara asing itu adalah serdadu NATO.
Al Mafraq adalah nama daerah perbatasan di Yordania. Jaraknya sekitar 10 kilometer dari Syria. Bagi Yordania, Al Mafraq boleh dibilang “wilayah konspirasi” karena konspirasi yang dijalin oleh Yordania, Inggris, dan Israel guna menggulingkan pemerintahan di Syria pada masa lalu memilih Al Mafraq sebagai pusat kegiatan. Tokoh perintis di Al Mafraq bernama Salim Hatoom, seorang mayor yang gagal melakukan kudeta terhadap Presiden Suriah Nureddin al-Atassi dan Salah Jadid dekade 1960-an. Pada September 1968, ia melarikan diri ke Yordania dan mendirikan kamp militer di Al Mafraq. Dari tempat ini pula, ia memulai ‘karir’ sebagai pemberontak terhadap pemerintah Syria.
Tampaknya kisah Hatoom, meskipun tak sukses, mengilhami Syrian Islamic Brotherhood dan sayap militernya, At-Taleeah ​​al-Islamiyyah al-Muqatilah  untuk melakukan perjuangan  -atau pemberontakan- terhadap Hafez Al Assad, Presiden Syria (1971- 2000). Mereka menggunakan pola-pola yang sama dengan Hatoom:  dilatih oleh militer Yordania dan intelijen Israel, lalu turun ke jalanan kota-kota di Syria untuk melakukan kekacauan, merusak fasilitas umum, bahkan kalau perlu melakukan pembunuhan terhadap orang-orang tidak bersalah. Tujuannya, tidak lain ialah menciptakan destabilisasi politik dalam negara. Tak heran bila aksi-aksi demo itu sampai berani menyerang markas militer dan bahkan menggunakan roket.
Agaknya, sejarah Syria kini tengah berulang. Sejak musim semi lalu, banyak serdadu Syria yang melarikan diri dan ditampung dalam di kamp militer di sebelah barat kota Salt, Yordania. Mereka kemudian diinvestigasi oleh intelijen militer Israel (AMAN), di bawah pengawasan intelijen Jordan. Tujuannya adalah untuk mengorek mencari informasi terkait kekuatan militer Syria pasca tahun 2006.
Selain itu, situs Al Watan Voice Yordania memberitakan bahwa pejabat negara-negara Barat telah meminta Raja Yordania untuk mengizinkan pembangunan stasiun mata-mata elektronok di dekat perbatasan Syria di utara Yordania, dengan tujuan untuk mencari akses terhadap militer Syria dan mengontak pejabat-pejabat tinggi Syria agar mereka mau melakukan kudeta terhadap Al Assad.
Sementara itu, dari Turki, modus serupa juga tengah terjadi. Press TV merilis laporan bahwa ada indikasi bahwa kekuatan oposisi Syria sedang menjalani latihan militer di kota Hakkari, Turki, di bawah panduan NATO dan tentara AS. Bahkan, menurut koran Miliyet, Turki, sejak Mei lalu, 15.000 tentara Syria telah desertir dan bergabung dengan Tentara Pembebasan Syria, yang dipimpin oleh kolonel pembelot Syria, Riad Al Assad. Riad Al Assad sejak beberapa waktu terakhir telah membelot dari militer Syria dan dikabarkan berada di pangkalan militer AS di Incirlik, Turki.
Press TV menulis, sejumlah pemberontak Syria mengakui adanya rencana yang disponsori pihak asing untuk melakukan operasi bersenjata dan membunuh rakyat sipil dan pasukan keamanan Syria, membuktikan bahwa perkembangan terakhir di negara itu adalah bagian dari upaya Barat untuk menggulingkan pemerintah saat ini dan menggantinya dengan rezim yang didukung AS.
Skenario yang amat mirip dengan Libya kini tengah berulang di Syria: AS dan NATO mengorganisir kaum pemberontak, memberi dana, dan memberikan pelatihan militer untuk kemudian mengadakan berbagai aksi kerusuhan dan pembunuhan di dalam Syria. Demonizing atau pembunuhan karakter terhadap Bashar Assad juga dilakukan dengan mengerahkan seluruh mesin propanda Barat. Assad dengan gencar diberitakan sebagai sosok kejam dan diktator, persis seperti Qaddafi.
Pertanyaannya sekarang, mengapa Syria?  Libya adalah negara dengan cadangan minyak terkaya di Afrika, sehingga masuk akal bila negara-negara Barat yang sudah kelimpungan akibat krisis ekonomi sedemikian bernafsu menguasai Libya. Tapi Syria, bukan negara kaya. Kesalahan Syria hanya satu: rezim Assad enggan berbaik-baik dengan Israel. Assad adalah satu-satunya pemimpin negara Arab yang hingga hari ini tetap teguh menolak berdamai dengan Israel, Assad bahkan membantu Hizbullah untuk melawan invasi Israel ke Lebanon selatan, bahkan Assad menyediakan perlindungan bagi aktivis-aktivis top Hamas. Bagi Israel, Assad adalah duri dalam daging. Lalu mengapa AS dan NATO sampai berkepentingan menghabiskan energi perang mereka demi Israel?
Menurut pakar Hubungan Internasional, John Mearsheimer dan Stephen Walt dalam makalah mereka, di sinilah letak kekuatan lobby Zionis. Kelompok-kelompok lobby Zionis sangat berhasil mengalihkan kebijakan politik AS menjauh dari kepentingan nasionalnya sendiri dan pada saat yang sama meyakinkan publik dan politisi AS bahwa  ada ‘kepentingan yang sama’ di antara AS dan Israel. Karena itu, gelombang penarikan pasukan AS dari Irak dan Afghanistan sangat mungkin merupakan taktik yang disebut Sun Tzu dalam art of war-nya, ‘mengecoh langit menyeberang lautan’. Seolah sedang menghentikan perang, namun sesungguhnya tengah memindahkan pasukan ke lokasi lain, bersiap untuk perang yang baru.
Namun, situasi tak semudah yang dibayangkan oleh AS. Ternyata, sanksi PBB untuk Syria gagal terbit karena dihadang oleh veto Cina dan Rusia. Merapatnya kapal perang Rusia memasuki laut Syria juga merupakan indikasi kuat bahwa Moskow siap melindungi sekutu dekatnya itu. Dari Iran, bendera pertempuran juga mulai berkibar.
Iran pun sudah berkali-kali melakukan aksi-aksi deterrence, bahkan termasuk latihan militer ‘penutupan Selat Hormuz’. Selat Hormuz adalah jalur distribusi minyak terpenting di dunia, dimana 40 persen minyak dunia didistribusikan melalui jalur ini. Tak heran bila anggota parlemen Iran Parviz Sorouri, berkata, “Iran akan membuat dunia tidak aman jika dunia menyerang Iran.” Hal ini senada dengan ancaman Assad, “Serangan terhadap Syria akan memicu konflik regional.” Bahkan Assad sudah sesumbar, jika Syria diserang, pihaknya akan membombardir Israel dengan berbagai senjata dan roket-roket yang telah ia persiapkan lama.
Apakah akhirnya AS dan NATO tetap nekad melancarkan perang ke Syria, lalu berlanjut ke Iran, masih menjadi tanda tanya. Namun, pendapat Andrew Gavin Marshall, peneliti dan kontributor pada Central for Research on Globalization,  menarik untuk disimak. Menurutnya, gejolak yang terjadi di Timur Tengah ini merupakan taktik politik rahasia untuk memperluas pengaruh NATO dan AS, serta menghadang Rusia dan China. Tujuan akhirnya adalah membentuk New World Order (Tatanan Dunia Baru), dimana segelintir penguasa elit akan memperbudak mayoritas masyarakat dunia. Ia bahkan mengisyaratkan bahwa revolusi yang kini berlangsung merupakan awal Perang Dunia III. Apa boleh buat, perkembangan politik memang unpredictable dan sering bersifat turbulent (tiba-tiba). Kita hanya bisa mencermati dan berharap pada bangkitnya gelombang kesadaran yang kuat di tengah masyarakat dunia, yang bisa melawan kekuatan-kekuatan arogan itu.