Selasa, 27 Januari 2015

Belajar dari Solidaritas "Utmani" Turki untuk Muslim Sedunia

Tayeb Erdogan

Keberanian pemerintah Turki menganulir manuver (latihan) militer udara bersama di wilayah mereka yang akan diikuti oleh pesawat udara Israel dan Amerika memiliki dua sisi penting. Pertama, ini memiliki hubungan sikap Turki yang geram terhadap agresi Israel brutal ke Jalur Gaza awal tahun ini dan penggerebekan Israel ke masjid Al-Aqsha. Kedua, terkait dengan persiapan Israel Amerika menerapkan sanksi ekonomi terhadap Iran sebagai awal mula serangan udara menghancurkan program nuklir Iran.
PM Turki, Rajab Tayeb Erdogan memperkuat dukungan pribadinya terhadap hak Arab dan Islam di Palestina terjajah dan memalingkan diri dari Eropa yang menutup pintunya secara menghina bagi negeri Utsmani (Othoman) untuk bergabung dalam Uni Eropa.
Pemimpin Turki ini, yang mengecam keras pembantaian Israel terhadap warga Palestina di Jalur Gaza dan pernah walkout dari sidang Gabungan Negara Davos sebagai reaksi atas kedustaan Presiden Israel, Simon Perez, tidak ingin pesawat militer yang merobek jasad anak-anak Palestina terbang di udara Turki.
Erdogan ingin berpesan kepada Israel dan Amerika, bahwa Turki sudah berubah cepat dan berpihak serta membela Arab Islam yang pernah dijauhkan oleh Kamal Attaturk yang menjilat Eropa. Erdogan bukan merampas kekuasaan pemerintahan negerinya melalui kudeta militer atau dengan dukungan dana dan militer Amerika seperti sebagian besar pemimpin dunia Islam, Arab khususnya. Namun ia menjadi PM melalui kotak pemilihan umum legislative yang bersih dan selalu menjadikan hukum sebagai panglimanya. Ia mendukung opini publik Turki yang mengecam kejahatan Israel. Namun ia memaafkan dosa negara-negara sosialis yang pernah memusuhinya.
***
Partai penguasa, Partai Keadilan dan Pembangunan memberikan pengalaman ekonomi yang patut ditiru. GNP (pendapatan bruto)nya pertahun mencapai 900 milyar dolar (sesuai perkiraan tahun 2008) telah mengantarkan Turki pada urutan 17 negara terbaik dalam pertumbuhan ekonominya, padahal Turki bukan negara minyak. Nilai ekspornya (bidang industri dan pertanian) mencapai 140 triliun dolar, urutan ke 32 tingkat dunia.
Capaian spektakuler ini mendorong Erdogan berani “bicara” kepada Ehud Olmet, PM Israel, dan Tzipi Livni Menlu Israel kala agresi Israel berlangsung bahwa dirinya adalah pimpinan keturunan dinasti Utsmani dan tindakan Israel di Jalur Gaza adalah titik hitam dalam sejarah kemanusiaan yang tidak akan dibiarkan. “Israel akan tenggelam dalam air mata bocah-bocah, wanita dan kaum terzalimi korban pembantaian ini”.
Sikap pahlawan yang tidak dilakukan elit Arab inilah yang menjadikan ribuan warga Turki menyambut pimpinan mereka yang tidak takut menghadapi Perez di Davos ketika ia datang di bandara Istanbul.
Langkah Turki ini bukan taktik. Sebab pemerintah Erdogan memperkuat hubungannya dengan Suriah dan Iran, dan presiden Turki Abdullah Goul menggagalkan kunjungan resminya ke Israel.
Kunjungan Erdogan dalam pekan ini ke Iran juga akan membawa misi bahwa Turki tidak akan ikut dalam embargo ekonomi terhadap negeri para Mullah ini.
***
Yang menyakitkan, sikap Turki yang mengagumkan ini justru terjadi di tengah kondisi “mati” Arab dalam semua levelnya, bahkan mereka ikut dalam poros Arab (moderat) – Israel melawan Iran.
Lebih menyakitkan lagi ini terjadi pada saat Otoritas Palestina di Ramallah berani menarik dukungan votingnya terhadap laporan Goldstone di Dewan HAM Internasioal PBB di Jenewa yang menuding Israel melakukan kejahatan perang dan kemanusiaan di Jalur Gaza.
Bangsa-bangsa dunia menudukung pemimpinnya yang menjaga kehormatan, mewujudkan kebebasan, kebangkitan ekonomi, politik dan militer, melawan kezaliman. Inilah yang menafsirkan kenapa rakyat Turki mendukung pimpinan mereka sekarang melalui proses demokrasi yang bersih. Bahkan bukan hanya di kalangan Turki, Erdogan memiliki tempat istimewa di hati seluruh bangsa Arab dan kaum muslimin karena keberanian sikapnya menghadapi sikap Israel.

HAMAS berbeda dengan ISIS: Jauh Panggang dari Api


Parade militer mujahidin HAMAS
Perang Israel-Gaza masih menyimpan bara api yang bisa membakar, kapan saja. Setelah secara membabi buta tentara Israel membantai lebih dari 1900an orang warga Gaza sebagai korban, dan upaya gencatan senjata yang terus dilakukan, muncul isu tidak sedap yang mengeliminir peran heroik pejuang Gaza, khususnya Hamas, yang selama satu bulan lebih melakukan pertahanan dan pembalasan serangan Zionis Israel.
Isu itu datang di tengah keprihatinan mendalam atas sikap diam mayoritas negara dunia, khususnya negara Arab atas tragedi kemanusiaan di era modern yang menimpa saudara-saudara mereka di Jalur Gaza, Palestina. Juga, di antara hiruk pikuk pro dan kontra terhadap terorisme negara yang dilakukan Israel atas warga sipil di Jalur Gaza, yang telah diblokade selama 7 tahun. Isu yang menyembul di antara kedukaan, kesedihan, keprihatinan itu adalah apa yang dilansir sejumlah media massa Mesir, dan juga laman sosial media, yang menyebutkan bahwa Hamas adalah ISIS, sama-sama teroris yang harus dibasmi.
Ucapan ini, awalnya dikeluarkan oleh PM Israel Benjamin Netanyahu yang kerap mengeluarkan kecamannya terhadap gerakan perjuangan Palestina. Setelah serangan udara, darat dan laut dengan menggunakan ribuan ton bom yang dijatuhkan atas Jalur Gaza, pejuang Gaza baik Al-Qassam maupun elemen pejuang lain seperti Saraya Al-Quds dan lainnya, ternyata tetap berdiri melakukan serangan balasan. Wajar, Netanyahu sebagai Zionis radikal, enteng menyatakan: “Hamas sama dengan ISIS. Semuanya teroris yang harus dibasmi.”
Di sisi lain, isu Zionis itu juga dimanfaatkan oleh banyak kepentingan. Media massa Mesir melansir sejumlah pandangan yang juga menyamakan Hamas dengan ISIS, organisasi bersenjata yang sedang naik daun karena aksi militernya di Irak dan Suriah. Beberapa pekan lalu, media massa juga melansir foto sejumlah aktivis bersenjata ISIS yang mengangkat spanduk soal keberadaan mereka di Jalur Gaza. Apakah Hamas sama dengan ISIS?
Berikut beberapa perbedaan antara Hamas dan ISIS :
  1. Hamas berafiliasi dengan Organisasi Ikhwanul Muslimin yang dalam referensi pergerakannya yang pengakuan banyak pemuka Islam di berbagai negara, adalah organisasi yang mempunyai pemahaman Islam moderat. Sedangkan ISIS berafiliasi dengan organisasi yang sangat berbeda, lebih dekat dengan organisasi Al Qaeda yang cenderung radikal dan menggunakan senjata.
  2. Hamas sama sekali tidak memiliki tradisi mengkafirkan pihak lain, tidak berperang berdasarkan sentimen paham aliran, dan tidak mudah menuduh orang dengan istilah keluar dari Islam. Semua itu tidak pernah dinyatakan dalam pernyataan Hamas. Sementara ISIS, banyak menggunakan doktrin pengkafiran, atau cepat mengklaim pihak lain bersalah dan menuduh bahwa pihak lain yang tidak sejalan dengan pandangannya dengan kafir.
  3. Hamas adalah gerakan komprehensif yang menyentuh sisi politik, sosial, ekonomi, perlawanan bersenjata, sehingga misi perjuangannya tidak hanya diwarnai oleh militer. Sedangkan ISIS adalah organisasi bersenjata yang sarana atau pola perjuangannya adalah hanya militer atau senjata.
  4. Hamas memulai perjuangan Islamnya dengan memperbaiki masyarakat, mempersiapkan lembaga dan piranti yang dibutuhkan syariah, membangun sistem peradilan syariah, sebelum berpindah pada fase penerapan hukum syariat dan menegakkan hukum hudud. Sedangkan ISIS memulai perjuangan penegakan Islam justru dengan cara memberlakukan hukum hudud di masyarakat, meskipun sistem pengadilannya belum terbentuk dengan baik. Hamas tidak segera menerapkan hukum syariat Islam untuk menggantikan undang-undang tapi lebih cenderung menempuh pola bertahap dalam menerapkan syariat.
  5. Dalam hal politik, Hamas lebih memilih jalur demokrasi . Dan Hamas sebenarnya adalah pemerintahan terpilih. Hamas merupakan satu dari dua partai politik utama Gaza, di samping Fatah, yang saat ini pemimpin Otoritas Palestina. Tahun 2006, Hamas memenangkan pemilu legislatif Palestina, meskipun AS telah memasukkan Hamas pada tahun 1997 sebagai organisasi teroris versi AS. Setahun kemudian, pemimpin Fatah memimpin kudeta terhadap Hamas dan berlakulah efektif pembagian pemerintahan Palestina antara Tepi Barat dan Gaza.Sedangkan ISIS, sama sekali jauh dari jalur demokrasi ataupun partai, apalagi terlibat dalam proses pemilu. ISIS lahir dari sisa-sisa invasi AS ke Irak saat menggulingkan Saddam Hussein. ISIS atau Tauhid wa Al-Jihad, atau juga ISI (Islamic State in Iraq) dahulunya, adalah gerakan yang sejak awal masuk dalam konflik sesama saudara. AS menyatakan cikal bakal ISIS sebagai organisasi teroris pada tahun 2004. Terhadap pemilu yang merupakan bagian dari demokrasi, ISIS sangat jauh, sebab pandangan mereka menyebutkan bahwa demokrasi adalah syirik kepada Allah dan berlawanan dengan tauhid, karena dipandang telah mencabut hak Allah sebagai penentu hukum dan pemerintahan, dan memberikannya pada manusia.
Ilustrasi - Pasukan organisasi ISIS. (alarabiya.net)
Pasukan organisasi ISIS. (alarabiya.net)
  1. Hamas tidak mempunyai musuh yang terus menerus menyibukkannya kecuali Zionis Israel. Hamas berkepentingan untuk melawan pihak lain kecuali Zionis Israel. Sedangkan ISIS menganggap kelompok Syiah adalah musuh utama, bahkan beberapa pernyataan tokohnya dan aksi-aksinya muncul anggapan seolah Syiah lebih berbahaya ketimbang Zionis dan Amerika. Selain terlibat dalam konflik dengan Syiah, ISIS telah menguasai asset beberapa kota di Irak yang telah mereka kendalikan. Beberapa waktu lalu, ISIS memaksa ribuan orang agama minoritas untuk meninggalkan rumah setelah mengumumkan akan menghilangkan seluruh agama minoritas Yazidi di kota Irak utara, Sinjar. Sangat berbeda dengan Hamas yang hidup bersama dengan rakyat Gaza dan bersama-sama berkontribusi untuk memajukan Gaza, yang juga memiliki penduduk non Muslim.
  2. Sejarah perjuangan Hamas membuktikan Hamas sebagai organisasi yang memiliki keistimewaan dalam soal fleksibilitas dan kompromi dengan pihak lain. Hamas juga memiliki hubungan luar negeri, khususnya dengan negara-negara regional, yang diagendakan agar pemikiran-pemikirannya bisa sampai ke lapisan masyarakat luas. Berbeda dengan ISIS yang cenderung jumud, statis, kaku, intoleran dalam berinteraksi dengan pihak lain.
  3. Hamas fokus pada kemerdekaan seluruh Palestina, terutama Al-Aqsha (Jerusalem) tempat berdirinya Masjid Al-Aqsha sebagai kiblat pertama umat Islam. Dan karenanya, Hamas tak memiliki pemikiran membentuk khilafah Islamiyah sebagai pusat pemerintahan Islam dunia. Berbeda dengan ISIS yang sudah mendeklarasikan Abu Bakar Al-Baghdadi sebagai khalifah bagi seluruh umat Islam. Dan itu juga penyebab ISIS dan Hamas memang tidak sejalan, bahkan ISIS cenderung menjauhi Hamas.
  4. Dalam situasi diblokade selama lebih dari 7 tahun, Hamas di Jalur Gaza menjalin hubungan baik dengan berbagai negara, termasuk dengan Suriah dan Iran. Ini merupakan langkah pragmatis yang harus dilakukan Hamas, mengingat dunia Arab Sunni cenderung tidak banyak bergerak secara konkret atas pendudukan Zionis atas Palestina. Berulang kali agresi Israel atas Gaza, boleh dikatakan Hizbullah Libanon yang ditopang Iran, mempunyai peran sendiri dalam membantu pertahanan dan perlawanan Gaza. Sejumlah informasi malah menyebut, bahwa modifikasi rudal Hamas dan Jihad Islami, hingga pesawat tanpa awak bernama “Ababil” yang baru ditampilkan beberapa pekan lalu, juga terlahir atas kerja sama Iran dan Hamas.Di sinilah perbedaan jelas antara Hamas dan ISIS. Karena sikapnya yang terbuka, Hamas menemukan sekutu dalam pemerintahan lainnya. Pemerintah di Qatar, Suriah, Turki, Yordania, Libanon dan Iran memiliki semua berbagi hubungan khusus dengan Hamas, dan turut bertanggung jawab atas dana pembangunan di Gaza. Sebagaimana di Mesir, pada saat kepemimpinan Mursi tahun 2012-2013, ideologi dan politik gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir juga membuat jalinan hubungan pemerintah lain. Termasuk Iran.
    Sementara ISIS tidak memiliki dukungan formal dari pemerintah manapun. Sebagian besar uang operasionalnya berasal dari dukungan pribadi, hasil penguasaan wilayah, dan kemungkinan bantuan dana lain dari sisi yang sulit dilacak.
  5. Bagi Hamas, solusi senjata adalah tahap akhir solusi. Inilah yang terjadi dalam interaksi Hamas menghadapi kejahatan Zionis Israel. Hamas lebih memilih bertahan, tenang dan berusaha untuk melakukan rekonsiliasi sebagai sesuatu yang harus dilakukan. Sedangkan ISIS kebalikannya, solusi senjata justru di awal untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.
Melihat perbedaan-perbedaan mendasar inilah, kita nyatakan, Hamas dan ISIS, jauh panggang dari api.

Simbol Islam, Bendera ISIS dan Penyikapan Kita Sebagai Muslim

Tema “Negara Islam di Irak dan Syam” (ISIS) saat ini sedang mencuat. Kemunculan organisasi ini juga diiringi dengan semakin terkenalnya sebuah simbol atau bendera hitam bertulis “La Ilaha illallah” dan “Muhammad Rasul Allah”. Hal tersebut karena organisasi ini gemar sekali menunjukkan simbol itu dalam setiap aktivitasnya. Kemunculan ISIS yang sering menggunakan bendera dan simbol tersebut secara tidak langsung membentuk opini bahwa: jika muncul bendera hitam bertuliskan “La Ilaha illallah” dan “Muhammad Rasul Allah” maka di situ ada ISIS atau ada pendukung ISIS.
Bagaimana seharusnya kita menyikapinya? Berikut ini analisis yang mudah-mudahan bermanfaat untuk pembaca.

Sejarah Bendera Rasulullah SAW
Dalam sejarah Islam, ada beberapa macam bendera. Di antaranya ada yang dinamakan liwa’ dan ada juga yang dinamakan rayah. Beberapa ulama membedakan antara keduanya.
Liwa’ adalah bendera yang dipasang di ujung tombak, tidak selalu dikibarkan, hanya dikibarkan dalam kondisi penting saja, dan berfungsi untuk menunjukkan posisi panglima perang.
Adapun rayah adalah bendera yang diberikan kepada pasukan, dipasang di ujung tombak dan selalu dikibarkan. Sebuah pasukan bisa mempunyai beberapa rayah.
Dalam sebuah hadits, Al-Barra’ bin ‘Azib RA ditanya tentang rupa bendera rayah di zaman Rasulullah SAW, beliau menjawab, “Warnanya hitam, bentuknya persegi, dan terbuat dari kain.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi)
Ibnu Abbas RA mengatakan, “Bendera rayah di zaman Rasulullah SAW berwarna hitam, sedangkan bendera liwa’-nya putih. Tertulis di dalamnya kalimat La Ilaha illa Allah, Muhammad Rasulullah.” (HR. Abu Syaikh, Akhlaqun Nabi SAW).
Ada juga ulama yang mengatakan tidak ada beda antara rayah dan liwa’. Misalnya adalah Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani. Beliau mengatakan bahwa keduanya adalah sama. Keduanya dibuat untuk menunjukkan posisi panglima perang tertinggi, pemimpin pasukan, atau lainnya. Liwa’ di zaman Rasulullah SAW ada yang berwarna hitam, putih, dan coklat debu. Sedangkan rayah-nya berwarna hitam dan kuning.

Sejarah Stempel Rasulullah SAW
Di samping bendera, Nabi Muhammad SAW juga dikenal memiliki sebuah stempel yang sering digunakan dalam surat menyurat. Stempel tersebut bertuliskan “Allah”, “Rasul”, dan “Muhammad”. Beberapa kalangan membaca tulisan pada stempel tersebut dari bawah ke atas menjadi, “Muhammad Rasul Allah”.
Peninggalan dari stempel tersebut disimpan di Istana Topkapi, Turki, oleh Kesultanan Ottoman. Bentuk dari stempel tersebut dapat dilihat dari beberapa replika surat yang pernah dibuat oleh Rasulullah, di antara pada surat Rasulullah SAW yang ditujukan untuk Negus Raja Ethopia dan untuk Al-Muqauqis salah seorang penguasa di Mesir.
Surat Nabi Muhammad SAW untuk Al-Muqauqis salah seorang penguasa di Mesir, serta replikanya. (travel.maktoob.com)
Surat Nabi Muhammad SAW untuk Al-Muqauqis salah seorang penguasa di Mesir, serta replikanya. (travel.maktoob.com)

Replika motif stempel Rasulullah SAW. (faculty.kfupm.edu.sa)
Replika motif stempel Rasulullah SAW. (faculty.kfupm.edu.sa)
Replika Surat Nabi Muhammad SAW untuk Heraklius Kaisar Romawi Timur. (faculty.kfupm.edu.sa)
Replika Surat Nabi Muhammad SAW untuk Heraklius Kaisar Romawi Timur. (faculty.kfupm.edu.sa)
Penggunaan Simbol Islam
Dengan adanya catatan hadits mengenai bendera yang digunakan oleh Rasulullah SAW serta peninggalan sejarah berupa stempel Rasulullah SAW, maka hal tersebut menjadikan kedua entitas itu menjadi bagian dari simbol Islam, di antara berbagai simbol lainnya. Sehingga penggunaan kedua simbol ini akan berdampak kepada Islam itu sendiri baik secara langsung maupun tidak langsung. Simbol Islam adalah suatu simbol yang memperlihatkan sebuah identifikasi dengan Islam, atau sebagian tradisi yang berhubungan dengan Islam.
Namun hingga saat ini belum ada kesepakatan di antara ulama atau organisasi yang merepresentasikan umat Islam sedunia mengenai aturan penggunaan simbol bendera dan stempel tersebut. Oleh karena itu, siapa pun merasa bebas untuk menggunakan kedua simbol tersebut. Dengan kata lain, simbol-simbol tersebut berpotensi digunakan secara bebas dalam berbagai bentuk dan tindakannya, untuk berbagai tujuan.
Hal di atas dapat dianalogikan dengan simbol salib yang biasa digunakan oleh penganut Kristen dan simbol bintang David yang biasa digunakan oleh penganut Yahudi, di mana tidak ada aturan main tentang penggunaan kedua simbol ini. Sehingga siapapun bisa menggunakan simbol ini, baik itu penganut taat atau abangan, orang baik atau jahat, dan sebagainya.
Lain halnya dengan simbol bendera merah putih yang merupakan bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bendera ini diatur penggunaannya dalam BAB II UU No. 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, Serta Lagu Kebangsaan”. Sehingga penggunaannya tidak boleh lepas dari aturan yang sudah ditetapkan tersebut.

Penggunaan Bendera dan Stempel Rasulullah Masa Kini
Bentuk stempel Rasullah SAW di atas, selanjutnya digunakan oleh berbagai kalangan dengan berbagai bentuk varian untuk berbagai tujuan. Contohnya seperti Harun Yahya seorang penulis, yang menggunakan stempel Rasulullah SAW sebagai logonya, dengan modifikasi latar belakang menjadi warna kuning emas dan tulisan berwarna hitam.
Logo yang digunakan oleh Harun Yahya, modifikasi dari motif stempel Rasulullah SAW. (harunyahya.tv)
Logo yang digunakan oleh Harun Yahya, modifikasi dari motif stempel Rasulullah SAW. (harunyahya.tv)

Ada juga yang menggunakannya sebagai motif pada benda-benda seperti hiasan meja, hiasan dinding, hadiah, cinderamata, kaos, dsb. Selain itu ada juga yang menggunakannya untuk perhiasan, seperti cincin, kalung, dsb, yang dijual pada beberapa toko perhiasan. Contohnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Beberapa bentuk perhiasan dan hiasan yang menggunakan motif stempel Rasulullah SAW. (inet)
Beberapa bentuk perhiasan dan hiasan yang menggunakan motif stempel Rasulullah SAW. (inet)

Selain penggunaan di atas, bendera dan motif stempel Rasulullah SAW rupanya juga digunakan oleh beberapa kelompok sebagai benderanya. Rata-rata mereka menggunakan latar belakang warna hitam atau putih pada logo atau benderanya.
Ada banyak varian dalam bentuk bendera-bendera tersebut. Ada yang bertuliskan “Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah” secara langsung, ada juga yang bertuliskan “Laa Ilaaha illallah, Muhammad Rasul Allah” (dengan motif stempel Rasul SAW). Hal ini kemungkinan karena perbedaan penafsiran terhadap hadits-hadits yang menyebutkan tentang bendera yang digunakan oleh Rasulullah SAW. Rata-rata mereka mengklaim bahwa benderanya merupakan bendera yang digunakan Rasulullah SAW. Berbagai bentuk varian tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Beberapa contoh varian bendera yang didasari dari hadits tentang bendera Ar-Rayah Al-Liwa, serta motif stempel Rasulullah SAW. (inet)
Beberapa contoh varian bendera yang didasari dari hadits tentang bendera Ar-Rayah Al-Liwa, serta motif stempel Rasulullah SAW. (inet)

Bendera-bendera sejenis ini banyak digunakan oleh Hizbut Tahrir (sejak 1953an), Taliban (sejak 1997an), Al-Qaeda, Ash-Shabab di Somalia, Boko Haram di Nigeria, organisasi Negara Islam di Irak dan Syam (ISIS/Da’isy), dan lain-lain.
Akibat saking bebasnya penggunaan simbol-simbol  Islam di atas, maka adakalanya simbol Islam tersebut digunakan untuk tindakan-tindakan yang justru tidak dibenarkan oleh Islam.
Contohnya kelompok Boko Haram yang belakangan muncul di Nigeria. Kelompok ini mengundang kontroversi. Pasalnya kelompok ini berkali-kali melakukan aksi yang tidak dibenarkan dalam Islam, contohnya seperti menculik 200 pelajar putri. Padahal kelompok ini menggunakan salah satu simbol Islam di atas.
Boko Haram tidaklah mewakili Islam atau umat Islam. Organisasi ini hanyalah bikinan pihak-pihak yang sedang melakukan konspirasi merusak persatuan Nigeria dan melemahkan wilayah utara secara politik, ekonomi, dan keamanan. Namun secara langsung juga berefek pada membuat buruk citra Islam di mata dunia. Demikian seperti dikatakan Daud Imram Malasa, seorang aktivis Islam dan ketua umum Organisasi Persatuan Muslimin Nigeria, dalam artikelnya yang dirilis oleh Islamion, Ahad (11/5/2014) yang lalu.
Contoh lainnya adalah organisasi ISIS. ISIS dapat diduga dibiayai oleh kelompok intelijen yang berkepentingan secara regional. Demikian seperti analisis M Lili Nur Aulia yang termuat dalam tulisan berjudul “Asal Muasal ISIS dan Perkembangannya” di dakwatuna, Senin (30/6/2014) yang lalu.
Muhammad Bashar Al-Faidhi, juru bicara Asosiasi Ulama Muslim Irak mengungkapkan bahwa sebenarnya ada 4 kekuatan pendorong revolusi di Irak, yaitu kaum revolusioner kesukuan; faksi utama perlawanan di Irak seperti Pasukan Rasyidin, Pasukan Tabi’in, Al-Ishrin Revolusioner, “Pasukan Muhammad sang Penakluk”, dll; Dewan Militer Revolusioner Irak; dan organisasi yang disebut ISIS. Dalam pernyataannya tersebut, Muhammad Bashar Al-Faidhi mengatakan bahwa ISIS sebenarnya hanya berjumlah kecil. Tapi, media membesar-besarkan kekuatan organisasi ini, dan menunjukkan seolah-olah ISIS itu adalah pemain tunggal atau utama di sana, untuk tujuan yang tidak baik. Demikian pernyataannya sebagaimana dimuat pada situs Ikhwanweb, Kamis (19/6/2014) yang lalu.
Kelompok ISIS pun tidak segan-segan menuduh orang lain yang di luar kelompoknya sebagai orang kafir. Hal ini terungkap dalam pernyataan Gamal Sultan Pemred Al-Mesyroon, Jum’at (1/8/2014), yang mengatakan bahwa ISIS menganggap Ikhwanul Muslimin kafir. ISIS juga mengatakan bahwa anggota partai adalah kafir. Perilaku ISIS tersebut dikenal dengan istilah “Fitnatut Takfir” (fitnah menuduh kafir), yang tidak dibenarkan dalam Islam.
Sehingga tidak heran jika Persatuan Ulama Muslim Se-Dunia (IUMS) yang menyatakan bahwa khilafah ala ISIS tidak sah secara syariah Islam dan juga tidak membantu proyek kejayaan Islam. IUMS yang dipimpin oleh Syaikh Yusuf Qaradhawi itu menyatakan pada hari Jum’at (4/7/2014), “Kami juga mengharapkan khilafah Islam bisa berdiri dengan cepat. Hari ini, tidak menunggu esok hari. Tapi khilafah yang didasarkan pada manhaj Nabi SAW dan syura. Bukan seperti yang dideklarasikan ISIS, yang malah mengakibatkan banyak bahaya kepada Sunni di Irak dan juga kepada revolusi di Suriah”.
Penggunaan simbol-simbol Islam di atas untuk tindakan-tindakan yang tidak dibenarkan dalam Islam, sedikit banyak memberikan dampak kepada umat Islam dan agama Islam itu sendiri. Salah satu di antaranya mencuat dalam kasus pemuatan karikatur yang melecehkan Islam pada harian The Jakarta Post edisi 3 Juli 2014.
Karikatur tersebut menggambarkan seseorang bersenjata sedang mengibarkan bendera bergambar tengkorak dan di atasnya terdapat tulisan Arab “Laa ilaaha illallah”, sementara itu di belakangan terdapat rekannya yang seolah-olah siap mengeksekusi mati beberapa orang yang tertutup matanya. Yang dimaksud oleh harian The Jakarta Post pada karikatur tersebut bisa jadi sebenarnya ingin menyindir sebuah sebuah kelompok yang mengatasnamakan Islam, dalam hal ini ISIS. Namun karena simbol yang digunakan oleh ISIS adalah simbol Islam, dalam hal ini kalimat tauhid “Laa ilaaha illallah”, maka The Jakarta Post “terjebak” melakukan tindakan pelecehan terhadap Islam dengan karikatur tersebut, yang kemudian banyak diprotes masyarakat.
Singkat cerita: ISIS yang melakukan tindakan yang tidak dibenarkan Islam, namun Islam yang menjadi korban dengan pemuatan karikatur pelecehan oleh The Jakarta Post tersebut. Akhirnya, yang repot adalah umat Islam yang harus protes terhadap Jakarta Post, dan Jakarta Post juga repot karena harus minta maaf terhadap umat Islam, sementara itu ISIS anteng-anteng saja untuk meneruskan aktivitasnya.

Kesimpulan
Dari analisis di atas, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
  1. Bendera Islam dan stempel Rasulullah SAW adalah bagian dari peninggalan sejarah, yang saat ini menjelma menjadi bagian dari simbol Islam di antara simbol-simbol Islam lainnya.
  2. Siapapun dan organisasi apapun bebas menggunakan kedua simbol tersebut dalam berbagai bentuk dan variannya, untuk berbagai tujuan, karena belum ada aturan main dalam penggunaan simbol-simbol tersebut.
  3. Sebagai akibat dari “kebebasan” di atas, maka penggunaan simbol-simbol tersebut tidak bisa digeneralisasi sebagai representasi dari umat Islam dan agama Islam.
  4. Dan sebaliknya, munculnya simbol-simbol di atas di berbagai lokasi juga tidak bisa disimpulkan begitu saja sebagai kemunculan ISIS atau pendukung ISIS, karena banyak yang menggunakan simbol-simbol di atas, bahkan ada yang sama persis dengan yang digunakan oleh ISIS, sebagai penafsiran atas hadits yang telah disebutkan di atas, serta peninggalan sejarah berupa stempel Rasulullah SAW.
  5. Pembaca pun dapat menggunakan simbol-simbol di atas untuk kebaikan dan syiar Islam, misalnya untuk kaligrafi, wallpaper komputer, bendera, hiasan masjid, lukisan, dsb. Selain karena lebih berhak, juga sekaligus untuk mengeliminasi pembajakan simbol-simbol Islam yang digunakan dalam tindakan-tindakan yang justru tidak dibenarkan dalam Islam.

Membedah ISIS (bagian II) :Napak Tilas ISIS dari Irak Hingga Suriah

Isu tentang organisasi ISIS menggelinding bak bola salju. Khususnya di Indonesia, setelah klip video tentang sejumlah pemuda Indonesia di Suriah, ISIS seperti menjadi hantu yang tampak begitu mengkhawatirkan NKRI. Tak hanya kalangan Islam, tapi tokoh lintas agama pun membuat pernyataan penolakan terhadap ISIS.
Sebagai organisasi militer yang tumbuh dari rahim negara yang dilanda konflik bersenjata, dan bersifat regional itu, wajar bila ISIS dipandang membawa mimpi buruk bagi kaum Muslimin di Indonesia dan juga dunia.  Kondisi Indonesia yang jauh dari situasi krisis yang dialami Irak dan Suriah,  sudah tentu pola gerakan bersenjata amat tidak sesuai.  Di sinilah, publik perlu mengerti rangkaian informasi yang akan kita urai dalam tulisan kali ini, sehingga mereka bisa menyaring informasi dan menentukan sikap.
Selain itu, bila dirunut, maka sejarah dan sepak terjang organisasi ISIS yang memiliki latar belakang dan perkembangan dalam konflik senjata di Irak dan Suriah, mau tidak mau menyangkut konflik komunitas Sunni dan Syiah di wilayah tersebut.  Kita juga tidak ingin template gerakan ISIS berikut muatan konflik ideologi yang ada di dalamnya, diaplikasikan pada kehidupan masyarakat Indonesia yang jauh dari kondisi asal muasal organisasi itu lahir dan tumbuh.

Peta Revolusi Irak menurut Asosiasi Ulama Muslim Irak (AMS)
Irak sebagai tempat cikal bakal organisasi ISIS,  memang diwarnai isu pertikaian antara Sunni – Syiah di Irak. Di Irak, hingga saat ini masih berlangsung upaya revolusi yang menghendaki pergantian kepemimpinan Al-Maliki. Pertengahan Juni 2014 lalu, Mohamed Bashar Al-Faidhi, juru bicara Asosiasi Ulama Muslim (AMS) di Irak, mengungkapkan situasi  di Irak. Menurutnya, saat ini tengah terjadi revolusi nyata terhadap rezim ketidakadilan, tirani, penindasan dan perbudakan yang terlalu lama dilakukan PM Nouri Al -Maliki terhadap Muslim Sunni di Irak.
Dalam pernyataan AMS, Al-Faidhi mengatakan ada empat kekuatan pendorong revolusi Irak saat ini; Pertama, kelompok suku revolusioner sebagai kekuatan independen, dimotivasi oleh penolakan terhadap ketidakadilan yang menimpa mereka oleh rezim Al-Maliki sehingga mereka bergabung dalam arus revolusi.  Kelompok revolusioner kedua adalah faksi utama perlawanan Irak, seperti “Rasyidin Army”, “Tab’een Army”, “Al-Ishreen Revolusioner” dan lain-lainnya. Mereka menolak pendudukan AS  di Irak. Setelah pasukan AS pergi, mereka menghentikan semua aksi militernya karena khawatir membunuh sesama bangsa Irak, dan berusaha mencari solusi tanpa perang. Namun, kelompok-kelompok ini akhirnya kembali angkat senjata ketika melihat bahwa Al-Maliki tidak bekerja untuk agenda Irak, melainkan digerakkan oleh kekuatan asing. Kelompok ini dianggap sebagai faksi terbesar dalam revolusi Irak.
Kelompok ketiga adalah dewan militer revolusi Irak yang didirikan di Anbar, dan menjadi aktor revolusi di beberapa provinsi Irak. Banyak perwira independen yang sebelumnya bertugas di militer Irak sekarang aktif dengan kelompok ini.
Sedangkan kelompok keempat, menurut Al-Faidhi adalah organisasi yang disebut Negara Islam di Suriah dan Irak (ISIS), yang muncul di Pertempuran Mosul. ISIS, tambahnya, sebenarnya tidak terlalu besar, melainkan hanya sekitar 500-an orang dan 100-an kendaraan. Tapi media begitu membesar-besarkan kekuatan ISIS, dan menunjukkan seolah-olah itu pemain tunggal atau utama dalam proses revolusi di Irak.

Cikal Bakal Gerakan ISIS
Pasca meninggalnya Saddam Husein, gerakan yang menamakan dirinya “Daulah Islamiyah” berdiri. Gerakan ini tak bisa dilepaskan dari gerakan Tauhid wa Al-Jihad yang dipimpin oleh Abu Mos’ab Az Zarqawi, dan terindikasi kuat banyak terlibat dalam aksi penculikan dan pembunuhan di Irak sejak invasi AS tahun 2003. Mereka juga menargetkan kalangan Syi’ah Irak dalam aksinya.  Mereka mempunyai alasan, karena kelompok Syi’ah radikal juga terlibat dalam pembersihan kaum Sunni di Irak.
Abu Mos’ab Az Zarqawi. (Aljazeera)
Abu Mos'ab Az Zarqawi

Konflik Sunni-Syiah sulit dihindari dalam konteks krisis Irak. Meski motif apa di belakang konflik berdarah itu pun perlu diurai dan didalami secara objektif. Sebab dalam situasi serba tak menentu, sangat banyak kelompok yang bermain di belakang perselisihan yang ada di lapangan, khususnya dalam konteks ini adalah konflik Sunni-Syiah di Irak.
Di pertengahan September 2005, Az Zarqawi mendeklarasikan apa yang dinamakan “Operasi perang menyeluruh terhadap kaum Syiah Rafidhah” di Irak. Aksi ini dinyatakan setelah rangkaian peristiwa ledakan di wilayah tempat tinggal mayoritas Syiah dan menyebabkan ratusan orang meninggal berikut yang terluka.
Tahun 2006, Az Zarqawi menyatakan sumpah setianya kepada Osama bin Laden untuk menjadikan nama organisasinya dari Tauhid wa Al-Jihad, menjadi Organisasi “Al-Qaeda fi Bilad Ar Rafidin” (Al-Qaeda di Mesopotamia).
Tak lama setelah perubahan itu, Az Zarqawi tewas di akhir tahun 2006. Kepemimpinan organisasi berpindah ke pada orang yang bernama Abu Hamza al-Mohajir. Ketika itulah dibentuk nama baru yang disebut, Ad Daulah Al Islamiyah fi Al-Iraq dipimpin oleh Abu Omar al-Baghdadi.
Abu Omar Al-Baghdadi akhirnya juga tewas di bulan April 2010. Dan sejak itulah Abu Bakar Al-Baghdadi memegang tampuk pimpinan organisasi Ad-Daulah Al-Islamiyah fi Al-Iraq, atau Negara Islam di Irak, yang kerap disingkat menjadi ISI (Islamic State in Iraq)
April 2013, organisasi di bawah pimpinan Abu Bakar Al-Baghdadi memperluas pengaruhnya di Suriah dan membuat organisasi baru bernama “Ad Daulah Al Islamiyah fi Al-Iraq wa Asy Syam” yang sekarang disebut dengan ISIS. Awalnya, organisasi “Jabhah Nushra” yang lebih dulu ada di Suriah  bergabung dalam payung organisasi besar ini. Tapi kemudian  pimpinan Jabha Nushra, Abu Mohammed Al Gaulani menolak penggabungan itu. Ia lebih cenderung menyatakan diri tetap berada di bawah organisasi Al-Qaeda di bawah kepemimpinan Az Zawahiri.
Kehadiran elemen ISIS di Suriah mengubah pola perlawanan menghadapi rezim Bashar Al-Assad dan berhasil melemahkan pasukan pemerintah Suriah. Majalah Times menyebut bahwa sejak kepemimpinan ISIS diemban oleh Al-Baghdadi, tahun 2010, perkiraan jumlah pasukan ISIS dari 800 meningkat hingga 1000 orang pada tahun 2010, kemudian menjadi 2.500 pada tahun 2012, dan di tahun 2013 berkisar antara 7000 hingga 10.000 orang.
Bulan Mei 2013, Az Zawahiri meminta agar ISIS lebih fokus di Irak dengan tetap di bawah kepemimpinan Al-Baghdadi. Sementara Jabha Nusra tetap fokus di Suriah di bawah kepemimpinan Al-Gaulani. Permintaan ini ditolak oleh Abu Bakar Al-Baghdadi, bahkan Az Zawahiri dituduh melakukan penyimpangan dari garis perjuangan.
Januari 2014 yang lalu, ISIS mengeluarkan keterangan berisi pengkafiran pasukan pembebasan Suriah. ISIS juga mengancam akan membawa pasukannya di Irak ke Suriah dan melakukan operasi militer bernama “Nafyu Al-Khabits” atau Pembersihan kotoran, yang targetnya adalah pasukan oposisi pembebasan Suriah.
Di akhir bulan Februari 2014, ISIS dituduh membunuh tokoh Al Qaeda Abu Khaled As Suri yang  berusaha menjadi penengah antara ISIS dan Jabha Nushra, yang kemudian ditolak oleh ISIS.
Tanggal 8 April 2014, perselisihan antara ISIS dan Al Qaeda makin mencuat. Jubir ISIS Abo Mohammed Al-Adnani,  menyerang pimpinan Al Qaeda Ayman Az Zawahiri dengan tuduhan menyimpang dari metode jihad dan memecah belah barisan.  Al-Adnani juga menyerukan berbagai kelompok lain agar mendukung sikapnya yang menentang Al-Qaeda.

Sepak Terjang ISI, ISIL, hingga “Khilafah Islamiyah ala ISIS”
Sejak tahun 2006, ISI  menjadi organisasi bersenjata terkuat di Irak. Pasukan ISI menguasai wilayah yang cukup luas di Irak. Akan tetapi kemunculan ISI bukan tanpa halangan, sebab mereka juga harus berhadapan dengan kelompok lain dari Irak, yakni “Majales Shahawat”.  Kelompok ini merupakan aksi gabungan dari para kabilah Irak yang menentang kekerasan.
Pada tanggal 10 Juni 2013, pasukan ISIS mulai mengorganisir sejumlah kelompok bersenjata dan melakukan serangan hingga menguasai kota Mosul, dan sebagian besar provinsi Nineveh, di samping kota Tikrit di provinsi Salahuddin, Irak, serta sebagian provinsi Diyala.
Tanggal 13 Juni 2013, ISIS juga diduga kuat melakukan aksi serangan ke penjara Abu Ghraib dan Al Hout, di pinggiran Baghdad yang kemudian membebaskan ratusan tahanan. Mereka melakukan aksi ini dalam operasi  yang disebut “Hadmu Al Aswar” atau “Pembongkaran Dinding.”
Tanggal 6 Agustus  2013, ISIS dituding terlibat dalam aksi bom mobil yang meledak di gedung Kementerian Kehakiman, hingga menyebabkan kematian 25 orang.
29 September 2013, ISIS  menyerang markas besar Keamanan Umum “Assayesh” kota Erbil (ibukota wilayah Kurdistan Irak) dengan bom mobil dan bom manusia.
Desember 2013,  bersama sejumlah suku militan, ISIS berhasil mengendalikan sebagian dari kota Ramadi di Irak barat, dan menguasai kota Fallujah secara keseluruhan.
Di Suriah, ISIS mampu mencapai prestasi militer yang signifikan dan mampu menguasai semua provinsi Riqqa dan sebagian Deir al-Zour yang berbatasan dengan Irak. Mereka juga mampu merebut kota Riqqa setelah mengusir sisa pasukan faksi oposisi Suriah dari wilayah tersebut.  Namun demikian, ISIS kalah dan terusir dari kota Aleppo dan sekitarnya.
5 Agustus 2013, ISIS menguasai bandara militer Meng yang terletak di utara Suriah, setelah menghancurkan bangunan utama bandara dengan bunuh diri.
Awal Januari 2014, ISIS akhirnya berhasil mengambil alih kontrol kota Ezzaz yang berdekatan dengan perbatasan Suriah dan Turki, dengan mengalahkan organisasi “Asefat Shemal” (Badai Utara) yang merupakan salah satu faksi Tentara Pembebasan Suriah.
Pusat keamanan di Tikrit yang hancur pasca serangan pasukan ISIS, Juli 2014. (Associated Press)
Pusat keamanan di Tikrit yang hancur pasca serangan pasukan ISIS, Juli 2014. (Associated Press)

Belakangan, setelah ISIS menguasai kota Mosul, secara otomatis mereka telah menghilangkan hambatan di perbatasan Irak dengan Suriah. Mereka lalu terus memperluas penguasaannya daerah pedesaan utara dari kota Deir al-Zour dan akses ke kota Shaddadi.
Pada 29 Juni 2014 mengumumkan pembentukan organisasi baru yang mereka namakan “Khilafah Islamiyah”, sekaligus mendeklarasikan Abu Bakar al-Baghdadi yang diklaim sebagai Khalifahnya dan meminta pembai’atan dari semua umat Islam.

Membedah ISIS (bagian I) : Menelisik Sosok Pemimpin ISIS, Abu Bakar Al Baghdadi


Asal Usul “Khalifah” Abu Bakar Al-Baghdadi

Tanggal 10 Juni 2014 lalu, Irak dikejutkan oleh keberhasilan organisasi bersenjata Ad Daulah Al Islamiyah fi Al ‘Iraq wa Asy Syam (selanjutnya disebut: ISIS) yang menguasai wilayah Irak Utara dan beberapa wilayah Irak Barat. ISIS tak lama setelah itu bahkan merebut dan menguasai sepenuhnya wilayah Mousol dan Tikrit, dua wilayah strategis dan sebelumnya merupakan basis pendukung mendiang Saddam Husein. Rangkaian peristiwa mengejutkan itu, dilanjutkan dengan deklarasi sosok Abu Bakar Al Baghdadi sebagai khalifah umat Islam yang menyerukan seluruh kaum Muslimin berbaiat (bersumpah setia) kepadanya.
Abu Bakar Al-Baghdadi, mendeklarasikan diri sebagai khalifah. (Aljazeera)


Pasca ISIS mendeklarasikan Abu Bakar Al-Baghdadi sebagai Khalifah umat Islam, popularitas ISIS dan Al-Baghdadi melesat dari sekedar bagian dari salah satu mantan pimpinan Al Qaeda dan organisasi bersenjata di Irak. Hingga dalam waktu tak kurang dari dua minggu, tepatnya pada Juli 2014, Al-Baghdadi mengklaim pihaknya telah menerima baiat lebih dari 1,25 juta orang.

Harian “Al-Nahar” terbitan Libanon mengaku kesulitan mencari komentar para tokoh agama tentang ISIS. Menurut Al-Nahar, para tokoh agama yang dimintakan tanggapannya meminta untuk identitasnya dirahasiakan. Di antara mereka ada yang menolak pembaiatan kepada Al-Baghdadi sebagai khalifah umat Islam. “Al-Baghdadi tidak dianggap sebagai pemimpin umat Islam karena ia hanya pemimpin organisasi, wilayah tertentu dan pendukung tertentu. Adapun bila disandarkan pada umat Islam ia sama sekali tidak diterima secara umum dan tidak disepakati,” demikian salah satu pernyataan tokoh agama Libanon seperti dikutip Al-Nahar dan dilansir juga oleh Al-Jazeera.

Komentar lainnya disebutkan oleh Aljazeera dari seorang tokoh agama Libanon yang disebut Sheikh Ahmad Amura. Ia mengatakan, “Khalifah atau Amirul Mukminin adalah orang yang mewakili Nabi SAW dalam memelihara agama (hirasatu ad-diin) dan mengatur urusan dunia (siyasatu ad-duniya). Penunjukannya dilakukan melalui mekanisme syura yang melibatkan ahlu al halli wa al’aqdi (semacam perwakilan umat), para pakar dan tokoh ulama serta pemimpin yang direkomendir oleh umat Islam.”

Sementara itu, harian Daily Telegraph terbitan Inggris menyinggung informasi lebih detail tentang peranan unit perang Al-Baghdadi. Disebutkan bahwa Al-Baghdadi memiliki sekitar seribu komando lapangan dari level tengah dan tinggi memiliki kemampuan intelijen, militer dan teknik. Selain itu, diperkirakan salary yang diperoleh oleh para elit Al-Baghdadi itu kisaran 300 sampai 2000 dollar. Daily Telegraph juga menyinggung masa muda Al-Baghdadi yang menurut teman-temannya adalah seorang yang pandai bermain bola saat tinggal di Baghdad.


Cover Majalah Times terbitan Amerika edisi Desember 2013. (dakwatuna/os)

Majalah Times terbitan Amerika pada Desember 2013, atau enam bulan sebelum ISIS menguasai wilayah luas di Irak, menurunkan artikel khusus tentang Al-Baghdadi. Bahkan ketika itu, foto Al-Baghdadi diletakkan menjadi cover majalah dengan tajuk “Al-Qaeda’s Dark Star Rises”.

Harian “Al-Hayat” tanggal 4 Agustus 2014 mengulas tentang latar Al-Baghdadi saat belajar di Fakultas Syariah di Baghdad. Seorang guru yang mengaku mengajar Al-Baghdadi mengatakan bahwa Al-Baghdadi bukanlah seorang yang beraliran salafy, melainkan orang yang mendalami masalah tajwid dan hampir tak memiliki kaitan apapun kecuali masalah tilawah Al-Quran. Sejumlah sumber seperti BBC menyisipkan dugaan bahwa sosok yang disebut Al-Baghdadi itu adalah imam salah satu masjid di Iraq pada tahun 2003.

Menurut harian Al-Hayat, menulis bahwa nama Abu Bakar Al-Baghdadi memiliki nama aslinya adalah Abdullah Ibrahim. Nama Abu Bakar Al-Baghdadi sendiri diambil dari nama khalifah pertama yakni Abu Bakar Al-Shiddiq karena ia konon memiliki silsilah khalifah Abu Bakar. Sedangkan Al-Baghdadi diambil dari ibukota Irak , Baghdad. Abu Bakar Al-Baghdadi mulai mencuat popularitasnya setelah organisasi Ad-Daulah Al-Islamiyah fi Al-Iraq berdiri di tahun 2006, setelah sebelumnya ia adalah salah satu tokoh organisasi Al-Qaeda pimpinan Anwar Az Zawahiri. Setelah organisasinya merebut banyak kemenangan di Irak, Al-Baghdadi memperluas wilayah cakupannya hingga ke Suriah untuk mengikat berbagai faksi mujahidin di wilayah Irak dan Suriah.

Asal usul sosok yang disebut Abu Bakar Al-Baghdadi disebut sebagai kelahiran tahun 1971 dari keluarga As-Samra’i kelahiran Dayali yang terletak di Irak Timur. Al-Baghdadi memperoleh ijazah ilmiyahnya di Islamic University di Irak. Saat invasi militer AS ke Irak tahun 2003, Al-Baghdadi bergabung dengan Al-Qaeda di bawah kepemimpinan Osama bin Laden. Al-Baghdadi disebutkan pernah ditangkap sejak interval tahun 2004-2009, di penjara Buka di selatan Irak, dan setelah itu ia diserahkan ke pihak berwenang Irak pada tahun 2009. Al-Baghdadi juga diidentifikasi sebagai murid dari tokoh Yordania Abo Mos’ab Az Zarqawi.

Masih menurut Al-Hayat, Abu Bakar Al-Baghdadi adalah komando militer lapangan yang ahli strategi. Kemampuan Al-Baghdadi disebut-sebut melebihi Az Zawahiri pemimpin Al Qaeda yang kini bersembunyi di Pakistan. Kemampuan Al-Baghdadi inilah yang mendorong banyak kalangan pasukan lokal dan internasional yang ada di Irak, bergabung di bawah organisasi yang dipimpinnya. Meski di tahun 2010, saat Al-Baghdadi menerima mandat memimpin organisasi Daulah Islamiyah di Irak dalam kondisi lemah. Tapi situasi konflik di Suriah sejak 2011 yang bertetangga dengan Irak mendorong ia menyeberang ke Suriah dan memperluas pengaruhnya di tahun 2013. Misi Al-Baghdadi ketika itu adalah menguasai sejumlah wilayah Suriah yang bisa menjadi jembatan dengan wilayah Irak.

Tahun 2011, AS memasukkan nama Abu Bakar Al-Baghdadi dalam daftar teroris yang diburu dengan menyediakan hadiah besar bagi siapapun yang bisa menangkapnya. Pemerintah Irak juga menyebarkan fotonya ke sejumlah tempat namun mereka kesulitan menangkap Al-Baghdadi. Amerika meyakini Al-Baghdadi ada di Suriah, sedangkan pemerintah Irak meyakini Al-Baghdadi ada di Irak. Al-Baghdadi dan pasukannya kemudian terus mengukuhkan penguasaannya di Baghdad, dan wilayah yang dekat dengan perbatasan Turki dan Yordania. Ia juga hampir menguasai wilayah Ramadi di Irak, dan dua distrik Deir Zour dan Riqqa di Suriah. Kemudian Latakia, Aleppo, Idlib dan Humat.

Selama itu, Al-Baghdadi menjauh dari sorotan kamera dan tampil di publik, kecuali setelah ia mendeklarasikan Daulah Khilafah Islamiyah di sejumlah wilayah Irak dan Suriah. Ia pun tampil menyampaikan pidato yang rekamannya disebarluaskan ke seluruh dunia melalui situs YouTube, saat ia ada di Mousol. Dengan mengenakan pakaian hitam panjang dan sorban kepala hitam, Ia mengajak kaum muslimin dunia untuk taat dan menyatakan baiat kepadanya sebagai khalifah. (bersambung)

Sabtu, 24 Januari 2015

Israel Kalah di Suriah

Gilad Atzmon
Gilad Atzmon adalah salah satu penulis favorit saya. Bukunya, the Wandering Who, membongkar ideologi dan filosofi Yahudi dan Zionisme hingga ke akarnya. Tak pelak, dia pun dibenci oleh para Zionis, meski di saat yang sama, mampu mencerahkan banyak orang Yahudi. Yang aneh, bahkan sebagian aktivis Palestina pun memrotes buku itu, antara lain Ali Abunimah. Mereka  telah membuat petisi menuduh Gilad sebagai rasis. Buku  itu seolah menjadi ‘pembeda’ bagi mereka yang mengaku aktivis pembela Palestina. Ada mereka yang benar-benar menginginkan kemerdekaan Palestina, dan mereka ini mendukung buku Atzmon. Tapi ada banyak juga yang sebenarnya hanya ingin kekuasaan dan uang melalui aktivitasnya itu. Kehadiran buku ini juga membongkar kedok sebagian kelompok perdamaian Yahudi, karena sebagian kelompok  Yahudi yang mengklaim diri antipenjajahan di Palestina, justru menolak isi buku ini. Di sini terlihat bahwa mereka sebenarnya hanya ingin melakukan pencitraan saja, tapi tidak benar-benar menginginkan tegaknya keadilan di Palestina.

Atzmon aktif mengkritik sepak terjang Israel dengan sudut pandang yang unik, sudut pandang seorang Yahudi yang benar-benar memahami esensi Israel dan keyahudian. Tulisan terbaru di blog Atzmon adalah tentang sepak terjang Israel di Suriah dan menurut saya menarik dicermati. Saya akan terjemahkan sebagiannya, berikut ini.
Pada minggu terakhir ini kita menyaksikan betapa Inggris dan Prancis dengan putus asa berupaya mendorong dilakukannya intervensi militer di Suriah. Sudah menjadi rahasia umum, baik pemerintah Inggris maupun Prancis sesungguhnya didominasi oleh kelompok lobby pro-Israel. Di Inggris, kelompok lobby itu adalah organisasi ultra Zionis, CFI (Conservatif Friend of Israel). Tampaknya 80%  anggota parlemen konservatif Inggris adalah anggota dari organisasi ini. Di Prancis situasinya bahkan lebih dahsyat, sistem politik negara itu seluruhnya dibajak oleh CRIF (Conseil Représentatif des Institutions juives de France).
Jika ada yang masih belum paham mengapa lobby Yahudi mendorong intervensi militer langsung di Suriah, Debka, kanal berita Israel, telah memberikan jawabannya. Tampaknya, tentara Suriah telah memenangkan semua lini pertempuran [melawan pemberontak]. Kalkulasi militer dan geopolitik Israel telah terbukti salah.
Menurut Debka, “Pertempuran Damaskus sudah berakhir. Tentara Suriah telah kembali menguasai kota dengan kemenangan heroik. Para pemberontak, sebagian besar tentara bayaran, telah kalah dalam pertempuran mereka dan tidak dapat melakukan aksi lebih banyak dari sekedar serangan sporadis. Mereka tidak bisa lagi melancarkan serangan, atau menimbulkan ancaman ke pusat kota, bandara, atau pangkalan militer udara Suriah di dekatnya. Pesawat Rusia dan Iran yang terus-menerus membawa suplai baru untuk menjaga agar tentara Suriah terus bisa bertempur, kini telah bisa kembali mendarat di bandara Damaskus yang sebelumnya selama berbulan-bulan disandera pemberontak. “
…
Debka menyatakan bahwa perwira senior IDF  (Israel Defense Force) mengkritik menteri pertahanan Israel (Moshe Ya’alon) yang “menyesatkan” Knesset beberapa hari lalu, dengan memperkirakan bahwa “Bashar Assad hanya mengendalikan 40% dari wilayah Suriah.” Debka menyebut bahwa Menhan Israel telah mendasarkan diri pada informasi intel
ijen yang salah dan hal ini membuat angkatan bersenjata Israel telah bertindak atas dasar data yang tidak akurat. Debka juga menekankan,  kalkulasi yang keliru telah mengarahkan pada pengambilan keputusan yang salah.

Debka jelas cukup berani untuk mengakui bahwa miskalkulasi militer Israel mungkin akan mendatangkan bencana dahsyat [bagi Israel]. Debka menulis, “Pengeboman besar-besaran Israel terhadap gudang senjata dari Iran untuk Hizbullah yang disimpan dekat Damaskus, ternyata terbukti malah mendatangkan bahaya. Aksi ini justru memberi Bashar Assad kekuatan, bukannya melemahkan tekadnya. “
…

Debka juga menyimpulkan, Israel kini menghadapi realitas yang baru. Israel kini berhadapan langsung dengan pasukan Hizbullah yang mengalir dari Libanon menuju dataran tinggi Golan dan perbatasan dengan Suriah.
Yang menarik, Atzmon menutup tulisannya dengan mengkritik media Barat. Menurutnya, adalah menyedihkan, justru Debka (media Israel) yang memberi jawaban mengapa Inggris dan Prancis sedemikian berkeras untuk melakukan intervensi militer di Suriah. Mengapa bukan media Barat sendiri? Jelas, keberpihakan pemerintah Inggris dan Prancis terhadap Israel justru merugikan rakyat di kedua negara itu sendiri; sumber dana yang besar dihamburkan untuk perang demi Israel,  bukan untuk kesejahteraan rakyat. Setidaknya, menurut Atzmon, media Israel saja berani mengkritik pemimpinnya sendiri. Sementara, media massa Barat malah bertindak sebaliknya.

Kritikan Atzmon ini cocok juga disampaikan kepada (sebagian) media Islam yang justru menjadi corong Zionis. Ketika media Israel sendiri sudah buka-bukaan menyatakan bahwa Israel memang terlibat dalam perang Suriah dan memiliki kepentingan besar dalam upaya penjatuhan Assad, mengapa (sebagian) media Islam tetap bersikeras bahwa konflik Suriah adalah pemberontakan kaum Sunni terhadap sebuah rezim yang dituduh sesat dan kafir?

Konflik Suriah Bukan Pertarungan Sunni-Syiah

Agaknya kita mesti kritis dan berhati-hati menyikapi konflik Suriah yang telah menjadi sebuah isu global yang panas dalam 17 bulan terakhir. Hendaknya kita jangan sampai turut bermain dalam gendang yang dimainkan oleh musuh-musuh peradaban Islam dan kemanusiaan, yang sejak awal mengarahkannya ke konflik sektarianisme antara Sunni dan Syiah atau bahkan Islam versus Kristen. Inilah yang dikehendaki Zionis dan AS/Barat, yakni mengadu domba umat Islam atau sesama umat beragama.

Apa yang terjadi di Suriah secara genealogis sama sekali tidak ada hubungannya dengan isu Sunni-Syiah. Fakta yang sangat nyata adalah pendukung Assad berasal dari kaum Sunni (komponen terbesar), Alawiyyin, Syiah, Kristen Ortodoks, dan minoritas lainnya. Sementara penentang Assad awalnya juga beragam meski kemudian ketika mereka bersenjata didominasi oleh jaringan jihadis global kaum ekstrimis Salafi-Wahabi. Setelah 17 bulan berlalu, Barat dan antek-antek regionalnya (Arab Saudi, Qatar, Turki) gigit jari, gemas, dan akhirnya putus asa karena ekspektasi mereka gagal total.Pertama, mereka berharap terjadi defeksi/pembelotan besar-besaran tentara Suriah yang 80% adalah penganut Sunni. Kedua, mereka meramal, sebagaimana dugaan pemberontak, Aleppo bisa menjadi “Bengazi” nya Suriah, yi, menjadi pusat gerakan pemberontakan mengingat 90% penduduknya adalah Sunni atau kabilah-kabilah Arab yang Sunni. Ternyata, di luar ekspetasi mereka, banyak penduduk Aleppo yang menentang pemberontak, tidak hanya secara politis tapi juga secara militer.
 
 
Alhasil, kedua ekspektasi ini tak kunjung datang dan sirna. Hal itulah diantaranya yang membuat Presiden Perancis Hollande sampai kehilangan akal sehat dengan mengeluarkan kata-kata kasar yang seakan masih memperlakukan Suriah sebagai koloninya.
Jadi, bukti di lapangan tidak menunjukkan secara substansial adanya peran Sunni-Syiah dalam menggelorakan kerusuhan di Suriah. Saya katakan ‘secara substansial’ karena secara aksidental, kaum pemberontak Salafi dan majikan mereka (Arab Saudi, Qaar, Turki, AS/Inggris/Perancis) yang menggaji dan mempersenjatai mereka berusaha menggunakan isu Sunni-Syiah untuk memprovokasi kaum Sunni Suriah, dan juga sekaligus digunakan oleh jaringan global Wahabi untuk merusak persaudaraan Islam seperti yang terjadi di tanah air kita (catatan: saya kerap menemukan orang-orang yang memaki Syiah dengan alasan apa yang mereka imajinasikan sebagai ‘pembantaian Sunni oleh Syiah’ di Suriah).


Jadi, provokasi Wahabi ini telah berdampak buruk di negeri kita; sementara rakyat Suriah sendiri, yang mengalami langsung konflik yang terjadi, hampir tak terpengaruh oleh agitasi Wahabi ini. Kita berharap mudah-mudahan rakyat Suriah -apapun mazhab dan agamanya- tetap tak terpengaruh oleh hasutan ini dan berdoa semoga mereka segera keluar dari penderitaan yang berkepanjangan ini.
Lalu, apa yang sesungguhnya terjadi di Suriah? Jenis konflik apa yang berlangsung di negeri klasik, yang merupakan tempat pertemuan sejumlah peradaban dan agama-agama dunia ini?
Memang sulit mengidentifikasi dan membuat kategorisasi mengenai kerusuhan di Suriah. Ia jelas bukan konflik Sunni-Syiah. Ia juga bukan konflik pro-demokrasi dan pro-kerajaan (seperti di Bahrain) mengingat pendukung pemberontak Suriah adalah justru monarki-monarki absolut, yang sama sekali tidak punya legitimasi untuk berbicara tentang demokrasi. Sejumlah pemimpin Iran membaca kerusuhan Suriah ini sebagai skenario yang diciptakan oleh AS/Barat untuk menyelamatkan eksistensi Zionis Israel yang kini dicekam ketakutan menyusul lahirnya Islamic Awakening (istilah Iran) atau Arab Spring (istilah Barat).Mungkin kita bisa juga membuat kategorisasi lain; semisal bahwa konflik Suriah adalah pertarungan nasionalisme-sosialisme Arab (Suriah kini menjadi satu-satunya negara Arab yang berdaulat, tidak tunduk kepada Barat) melawan sekutu kapitalisme global. Rusia (pewaris komunisme Uni Soviet) dan China (komunisme-nasionalis) hingga detik ini masih sangat kuat mendukung pemerintah Suriah. Atau dimungkinkan juga untuk mengidentifikasi bahwa konflik Suriah merupakan sebuah titik balik kurva perubahan dari tatanan dunia lama (paradigma mekanistik) ke tatanan dunia baru (paradigma holistik) yang ditandai oleh kesalinghubungan yang organis di antara titik-titik kejadian di planet ini.
Apapun identifikasi dan kategorisasi yang dibuat, yang harus ditegaskan adalah bahwa “konflik di Suriah” (bedakan dengan “konflik Suriah”) tidak terkait dengan pertarungan Sunni-Syiah. Ini yang paling penting kita garisbawahi. “Konflik di Suriah” artinya sebuah peristiwa konflik yang melibatkan kepentingan semua kelompok di dunia dengan menggunakan tanah Suriah.
Tentu saja, istilah Sunni-Syiah yang saya pakai di sini mengacu kepada pengertian sebagai identitas kelompok, sebagai kata benda, sebagaimana umumnya dipahami. Akan berbeda halnya bila istilah Sunni-Syiah dimaknai sebagai kata kerja/sifat. Shah Iran Pahlevi dan para pengikutnya yang kini tinggal di AS tercatat sebagai penganut Syiah dalam pengertian identitas dan kata benda, akan tetapi mereka penentang keras gagasan keadilan dan peradaban Islam. Sebaliknya, tak sedikit kaum Sunni atau bahkan umat beragama lain, yang menyuarakan keadilan dan perlawanan terhadap arogansi dan dominasi kapital.
Nah, sekalipun identitas Bashar Assad tidak diketahui persis apakah Sunni atau Syiah (dan menurut saya, ini tidak relevan), kita bisa membacanya dalam kategorisasi kata kerja melalui pertanyaan berikut: Apa yang telah dia lakukan selama ini dalam perlawanan bersama rakyat Palestina dan Lebanon terhadap kepongahan dan penindasan Zionis/Barat?
La hawla wa la quwwata illa billah